Wah enak tenan ... tenan ... tenan ... ?
baca email si Martin Manurung gue hanya bisa senyum kit kit kit, tapi
saya pikir posting ini menggambarkan suara curhat yang lagi pesimis ....
mis ... mis ... ?
si Martin membiaskan arti reformasi, karena reformasi si samakan antara
lembaga, orang atau tetek bengek segalanya pokok nya orang yang bukan
seide atau sejalan dengan pemikirannya dianggap tidak reformis .. mis
..mis .... hahahhah sory becanda ... heheh ... hehehhe ..
Mungkin martin perlu mendefinisikan dahulu arti reformis itu dulu kayak
apa, apakah orang atau system atau teteng bengek lainnya dan apa
parameternya ... ?

Wah si martin mulai membawa lembaga-lembaga segala ... heheheheh
dan saya tahu betul isi di FEUI maupun Program Magister Manajemen UI
sampai dengan tetek bengetnya dan kedua lembaga tersebut tidak
mencerminkan tingkah laku dan posting anda ... heheheheh dan jadi saran
saya jadilah diri anda sendiri .... ?

Salam Reformasi dan Masih Optimis terhadap Reformasi 

Salam
Zaki Tugiyo
(yg jadi diri sendiri dan tetap optimis terhadap reformasi)
----------
From: Martin Manurung
To: Kuli Tinta List
Subject: [Kuli Tinta] REFORMASI, HIDUP?
Date: Sunday, October 03, 1999 8:09AM

Menyikapi terpilihnya Amien Rais:

REFORMASI, HIDUP?

Oleh: Martin Manurung

Selesai sudah satu dari sekian langkah penting dalam Sidang Umum MPR
1999.
Dengan hasil berdebar, dapat disaksikan di layar teve kemenangan Saudara
Amien Rais sebagai Ketua MPR 1999-2004. Ketika proses penghitungan suara
itu
diumumkan, segera terdengar teriakan �Hidup Reformasi!�. Ya, mungkin
dari
kaca mata sederhana, kita segera dapat berkata demikian. Tapi apakah
sebenarnya yang bisa ditangkap dari hasil itu?

Konstelasi Politik Paska Pemilu 1999

Menjelang Pemilu 1999, rakyat dibuai dengan angan-angan kubu
�pro-reformasi�
(setidaknya, demikianlah kubu itu kini disebut: diantara tanda kutip)
yang
kuat dan bersatu melalui serangkaian pertemuan monumental, dimulai dari
Kesepakatan Ciganjur sampai dengan Komunike Paso yang melahirkan �Front
Bersama PDI Perjuangan, PKB dan PAN� (demikian pula disebut diantara
tanda
kutip).

Rakyat pun dengan begitu percaya, lugu dan polos segera menyambut
antusias
dengan berbondong-bondong menuju tempat-tempat pemungutan suara.
Hasilnya
kemudian dapat diketahui bahwa ketiga partai itu (PDI Perjuangan
[33,1%],
PKB [11%]dan PAN [7,4%]) memperoleh �kemenangan� yang sangat signifikan:
51,5%. Di lain pihak, �kubu status quo� yang ditandai dengan
keikutsertaan
Golkar, hanya memperoleh suara 26%. Hal itu mencerminkan kehendak rakyat
yang sangat tinggi untuk perubahan dan menentang status quo, yang
tercermin
dari anjloknya suara Golkar dari 74% pada Pemilu 1997 menjadi hanya 26%
di
Pemilu 1999.

Sejenak kita terbuai oleh euphoria kemenangan �kubu pro-reformasi�.
Sejenak
pula kita memperoleh tambahan energi untuk seakan makin mampu
mempersempit
ruang gerak �kubu status quo� dengan menggencarkan ragam tudingan dan
desakan untuk tidak mencalonkan presiden-nya dalam Sidang Umum MPR 1999.

Namun rupanya kemenangan �kubu pro-reformasi� itu tidak berlangsung
lama.
Elite-elite politik mulai melancarkan �gerilya� untuk menambah
probabilitas
kemenangan dalam SU MPR 1999. Tawar menawar dukungan semakin terlihat
jelas
ke puncak perhatian publik. Suara rakyat yang diberikan dengan tulus,
lugu
dan penuh kepercayaan itu, mulai dibuat seakan hitungan nominal (sekadar
angka-angka) tanpa memiliki arti mandat politik. �Kubu pro-reformasi�
pun
mulai terlihat lebih nyata keretakannya. Adalah seorang Ketua PAN,
Abdillah
Toha, yang menyatakan pertama kali bahwa partainya (yang sesungguhnya
merupakan bagian komunike paso yang katanya �front bersama
pro-reformasi�),
mungkin akan berkoalisi dengan Golkar (yang sering dicap sebagai �kubu
status-quo�). Seketika muncul banyak protes dari masyarakat. Berbagai
penyesalan terungkap dan rasa pengkhianatan atas kepercayaan rakyat itu,
tidak lagi dapat dibendung. Adalah Sekjen PAN, Faisal Basri, yang dengan
tegas, tegar dan konsisten menyebutkan bahwa koalisi dengan Golkar sudah
�harga mati�. Walaupun kemudian, Sang Ketua PAN, Amien Rais, memberikan
jawaban yang questionable bahwa koalisi dengan Golkar itu sebagai
�alternatif paling akhir�. Dengan jawaban yang terakhir itu, sekalipun
disebutkan �paling akhir�, tetapi tentunya memiliki kemungkinan yang
tidak
sama dengan nol.

Rupanya belum cukup sampai di situ. PAN, partai yang semula membasiskan
diri
pada nasional (setidaknya dapat dilihat dari kepanjangan huruf �N� pada
PAN,
yaitu: �Nasional�), ternyata menggandengkan tangan dengan erat kepada
partai-partai berbasis agama. Dengan demikian, terjadi pergeseran format
politik pasca Pemilu. Jika semula mengikuti �janji kampanye� sebelum
Pemilu,
maka sesungguhnya mandat politik rakyat diberikan pada partai-partai
dengan
�ideologi tengah� (artinya tidak �kanan� atau berbasis agama, dan juga
tidak
�kiri�, atau beraliran radikal sosialis). Hal itu dapat dilihat dari
hasil
pemilu dimana partai-partai ber-�ideologi tengah� (PDI-P, Golkar, PKB
dan
PAN) memperoleh +/- 80% suara, sementara partai-partai ber-�ideologi
kanan�
(PPP, PBB, PK, PDKB, dll) hanya memperoleh +/- 20% suara dan
partai-partai
ber-�ideologi kiri� hanya memperoleh kurang dari 1% suara. Jadi, telah
terjadi dua pemencengan mandat politik rakyat oleh elite; pertama,
pemencengan harapan bersatunya �kubu pro-reformasi� dan kedua,
pemencengan
mandat politik rakyat untuk menjauh dari �politik aliran�.

Fenomena SU MPR: Masih Relevankah Reformasi?

Terpilihnya Saudara Amien Rais, pada tanggal 3 Oktober 1999 melalui
voting
rahasia, menurut penulis, tidak lepas dari konstelasi politik dan
pemencengan harapan serta mandat politik rakyat, yang terjadi paska
Pemilu
1999. Hampir dapat dipastikan, bahwa suara yang diperoleh kandidat ketua
Matori Abdul Jalil, sebesar 279 suara, berasal dari �mantan� komunike
paso,
yaitu PDI Perjuangan. Sementara itu sangat dapat dipastikan, bahwa
kemenangan Amien Rais dengan 305 suara tidak dapat dilepaskan dari
sokongan
Golkar. Dengan konstelasi demikian, agaknya �alternatif paling akhir�
yang
diucapkan Amien Rais dulu, itu telah terjadi. Bahkan, kenyataannya,
malahan
bukan sebagai �alternatif paling akhir�.

Bukan kemenangan Amien Rais yang menjadi persoalan. Bahkan, kemenangan
itu
seharusnya memberikan kebahagiaan bagi semua elemen �pro-reformasi�.
Tetapi
bahwa kemenangan itu yang sangat signifikan dukungan Golkar-lah yang
menjadi
keprihatinan utama. Kemanakah semua suara kritis bahkan cenderung caci
maki
dari Sang Amien Rais kepada Golkar? Bagaimanakah nantinya Sang Ketua
dapat
terus berkata pedas kepada �kubu status quo� yang telah memberikan
sokongan
luar biasa padanya? Dan pertanyaan pamungkas: Apakah tawar menawar
politik
yang telah diberikan Amien Rais kepada Golkar sebagai kompensasi
dukungan
Golkar yang luar biasa itu? Akankah Amien Rais, nantinya akan memberikan
�balasan� dengan mendukung Habibie? Agaknya penulis telah mengetahui
jawaban
pamungkas dari Sang Ketua: �Politik itu licin!�. Ya, politik itu memang
licin, tetapi apakah sebegitu licinnya sampai sulit untuk menyadari
bahwa
kehendak dan mandat politik rakyat telah dimencengkan untuk suatu kursi
kekuasaan?

Dari pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya telah semakin menemukan
jawabnya itu, ijinkan penulis katakan bahwa terminologi �reformasi�
telah
usang dan dimasukkan ke keranjang sampah oleh nafsu untuk memperoleh
kekuasaan. Bila terminologi �reformasi� itu telah usang, maka tak
berlebihan
pula jika dikatakan bahwa pengorbanan para martir demokrasi itu pun
telah
turut terbuang dalam keranjang sampah, karena move politik elite yang
haus
kekuasaan. Suara, darah, jerih dan peluh rakyat serta terlebih kehendak
dan
mandat politik rakyat pun telah usang. Tinggallah kini kita menyaksikan
�licin�-nya politik dan ketidakkonsistenan elite, lagi-lagi, untuk
mengejar
kursi posisi politik.

Karena itu tidaklah berlebihan warning dari kelompok Warga Peduli
melalui
Deklarasi 1 Oktober 1999. SU MPR memang bisa jadi tidak merefleksikan
aspirasi, kehendak dan mandat politik rakyat. SU MPR memang bisa jadi
hanya
merupakan sarana politik bagi elite untuk mengejar kursi kekuasaan. Dan
SU
MPR memang bisa jadi bertentangan dengan keputusan Pemilu. Semua itu
bisa
terjadi karena �licin�-nya politik dan kehausan elite untuk kekuasaan.
Maka
kini bisa dikatakan bahwa  �kubu pro-reformasi� telah tamat dan tidak
lagi
relevan. Bila demikian keadaannya, apakah lagi yang bisa diharapkan dari
SU
MPR 1999? Setidaknya, kita masih punya Gerakan Mahasiswa yang sampai
detik
ini masih konsisten; the last of the least hope.

Martin Manurung
Deklarator Warga Peduli
Mahasiswa dan Asisten Dosen
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke