Tulisan WAM ini begitu mudah telah memporak-porandakan
kenaifan, niat terselubung, dan politik penjajah
Belanda yang dipraktekkan sekelompok orang saat ini. 
Dia itu ngakunya aja pelajar, anak UI, Peduli-Peduli,
tidak berbasis agama dll. Sukur Pak WAM jeli. Makasih
loh....
Sekarang ketika suara pdi-p disodorin ke akbar
tanjung, bilang apa dia? Tapi, kita tahu...  sandiwara
kelompok politik dia itu terlalu porno dan gampang deh
dicermati...
waspadai saja deh orang-orang tipikal kayak dia itu.
Selain bridwam, maseh banyak lage yg kayak geto

J. Pribadi

sengaja di cc ke kamu soalnya e-mail saya sudah sejaka
seminggu ini dicekal kuli-tinta


--- Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On Sat, 4 Oct 1997, Hendro C wrote:
> 
> > Martin Manurung wrote:
> > 
> > Menyikapi terpilihnya Amien Rais:
> 
> > REFORMASI, HIDUP?
> 
> > Oleh: Martin Manurung
> 
> > Selesai sudah satu dari sekian langkah penting
> dalam Sidang Umum MPR 1999.
> > Dengan hasil berdebar, dapat disaksikan di layar
> teve kemenangan Saudara
> > Amien Rais sebagai Ketua MPR 1999-2004. Ketika
> proses penghitungan suara itu
> > diumumkan, segera terdengar teriakan �Hidup
> Reformasi!�. Ya, mungkin dari
> > kaca mata sederhana, kita segera dapat berkata
> demikian. Tapi apakah
> > sebenarnya yang bisa ditangkap dari hasil itu?
> 
> > Konstelasi Politik Paska Pemilu 1999
> 
> > Menjelang Pemilu 1999, rakyat dibuai dengan
> angan-angan kubu �pro-reformasi�
> > (setidaknya, demikianlah kubu itu kini disebut:
> diantara tanda kutip) yang
> > kuat dan bersatu melalui serangkaian pertemuan
> monumental, dimulai dari
> > Kesepakatan Ciganjur sampai dengan Komunike Paso
> yang melahirkan �Front
> > Bersama PDI Perjuangan, PKB dan PAN� (demikian
> pula disebut diantara tanda
> > kutip).
> 
> WAM:
> Tanya bung Manurung.
> Sebenarnya, apa sih definisi reformasi/reformis itu?
> Terus terang, saya baru menemukan satu definisi yang
> ditulis oleh seorang
> dosen IAIN Jakarta: bahwa reformasi itu tidak
> identik dengan menggantikan
> Golkar/Habibie, tapi lebih ke arah demokratisasi.
> Jadi, dengan mengambil
> kata2 Cak Nur, setan pun bisa disebut reformis kalau
> dia seorang demokrat. 
> Tapi, boleh saya menduga?, anda adalah simpatisan
> PDI-P?, kayaknya banyak
> orang yang memelesetkan reformasi menjadi:pokoknya
> bukan Habibie/Golkar.
> Kalau sudah begini, saya rasa, itu bukan lagi
> definisi obyektif, tapi
> sudah amat sangat subyektif. 
> 
> Contoh konkritnya begini: kalau seandainya PDI-P
> (yang selalu
> digembar-gemborkan sebagai partai reformis)
> berkelakukan sama dengan
> kelakuan Golkar jaman dulu, apa ya ini reformis?
> Sebaliknya, dengan
> perubahan yang amat sangat yang terjadi di kubu
> Golkar, cuma orang picik
> yang mengatakan dia tidak leih reformis dibanding
> PDI-P. 
> 
> > Rakyat pun dengan begitu percaya, lugu dan polos
> segera menyambut antusias
> > dengan berbondong-bondong menuju tempat-tempat
> pemungutan suara. Hasilnya
> > kemudian dapat diketahui bahwa ketiga partai itu
> (PDI Perjuangan [33,1%],
> > PKB [11%]dan PAN [7,4%]) memperoleh �kemenangan�
> yang sangat signifikan:
> > 51,5%. Di lain pihak, �kubu status quo� yang
> ditandai dengan keikutsertaan
> > Golkar, hanya memperoleh suara 26%. Hal itu
> mencerminkan kehendak rakyat
> > yang sangat tinggi untuk perubahan dan menentang
> status quo, yang tercermin
> > dari anjloknya suara Golkar dari 74% pada Pemilu
> 1997 menjadi hanya 26% di
> > Pemilu 1999.
> 
> Sekali lagi saya pertanyakan definisi anda mengenai
> partai reformis dan
> non reformis. PDI-P partai reformis? Apa definisi
> reformis dan bukan itu
> cuma dibatasi kapan partai itu terbentuk? Lihat,
> banyak elite PDI-P
> adalah stok lama. 
> 
> > Rupanya belum cukup sampai di situ. PAN, partai
> yang semula membasiskan diri
> > pada nasional (setidaknya dapat dilihat dari
> kepanjangan huruf �N� pada PAN,
> > yaitu: �Nasional�), ternyata menggandengkan tangan
> dengan erat kepada
> > partai-partai berbasis agama. Dengan demikian,
> terjadi pergeseran format
> > politik pasca Pemilu. Jika semula mengikuti �janji
> kampanye� sebelum Pemilu,
> > maka sesungguhnya mandat politik rakyat diberikan
> pada partai-partai dengan
> > �ideologi tengah� (artinya tidak �kanan� atau
> berbasis agama, dan juga tidak
> > �kiri�, atau beraliran radikal sosialis). Hal itu
> dapat dilihat dari hasil
> > pemilu dimana partai-partai ber-�ideologi tengah�
> (PDI-P, Golkar, PKB dan
> > PAN) memperoleh +/- 80% suara, sementara
> partai-partai ber-�ideologi kanan�
> > (PPP, PBB, PK, PDKB, dll) hanya memperoleh +/- 20%
> suara dan partai-partai
> > ber-�ideologi kiri� hanya memperoleh kurang dari
> 1% suara. Jadi, telah
> > terjadi dua pemencengan mandat politik rakyat oleh
> elite; pertama,
> > pemencengan harapan bersatunya �kubu
> pro-reformasi� dan kedua, pemencengan
> > mandat politik rakyat untuk menjauh dari �politik
> aliran�.
> 
> Saya tanya, jujurkah anda waktu menempatkan PDI-P
> pada kelompok partai
> tengah? Saya tahu persis, PDI-P lebih tepat
> digolongkan sebagai partai
> berbasis agama. Meski tidak secara terang2an.
> Terkuaknya kasus banyaknya
> caleg non muslim PDI-P membuktikan bahwa partai ini
> telah bergerilya.
> Diam2 sebetulnya partai berbasis agama, tapi selalu
> menampakkan diri
> sebagai partai non-agama. Munculnya ide Poros
> Tengah, selain oleh faktor
> resistensi Golkar dan PDI-P, juga tidak lepas dari
> kekuatiran bahwa PDI-P
> sebenarnya partai berbasis agama.  
> 
> > Fenomena SU MPR: Masih Relevankah Reformasi?
> 
> > Terpilihnya Saudara Amien Rais, pada tanggal 3
> Oktober 1999 melalui voting
> > rahasia, menurut penulis, tidak lepas dari
> konstelasi politik dan
> > pemencengan harapan serta mandat politik rakyat,
> yang terjadi paska Pemilu
> > 1999. Hampir dapat dipastikan, bahwa suara yang
> diperoleh kandidat ketua
> > Matori Abdul Jalil, sebesar 279 suara, berasal
> dari �mantan� komunike paso,
> > yaitu PDI Perjuangan. Sementara itu sangat dapat
> dipastikan, bahwa
> > kemenangan Amien Rais dengan 305 suara tidak dapat
> dilepaskan dari sokongan
> > Golkar. Dengan konstelasi demikian, agaknya
> �alternatif paling akhir� yang
> > diucapkan Amien Rais dulu, itu telah terjadi.
> Bahkan, kenyataannya, malahan
> > bukan sebagai �alternatif paling akhir�.
> 
> Jika anda mempersoalkan AR yang dapat sokongan
> Golkar, kenapa anda tidak
> mempersoalkan PDI-P yang memberikan suaranya pada
> TNI pada pemilihan Ketua
> DPRD DKI? Apa itu bukan pemelencengan kepercayaan
> pendukung PDI-P?
> Atau, anda hanya beranggapan bahwa hal itu menjadi
> salah jika yang
> melakukan Golkar? Kalau memang demikian, apa yang
> namanya Warga Peduli
> tidak lebih dari politisi yang menyamar. Tidak perlu
> mengharapkan
> kejujuran dari kelompok ini. Begitu? Sayang, anda
> yang katanya berasal
> dari kelompok intelektual tidak bisa mempertahankan
> intelektualitas anda,
> dan terjebak pada permainan politik yang serba tidak
> jelas.
> 
> > Bukan kemenangan Amien Rais yang menjadi
> persoalan. Bahkan, kemenangan itu
> > seharusnya memberikan kebahagiaan bagi semua
> elemen �pro-reformasi�. Tetapi
> > bahwa kemenangan itu yang sangat signifikan
> dukungan Golkar-lah yang menjadi
> > keprihatinan utama. Kemanakah semua suara kritis
> bahkan cenderung caci maki
> > dari Sang Amien Rais kepada Golkar? Bagaimanakah
> nantinya Sang Ketua dapat
> > terus berkata pedas kepada �kubu status quo� yang
> telah memberikan sokongan
> > luar biasa padanya? Dan pertanyaan pamungkas:
> Apakah tawar menawar politik
> > yang telah diberikan Amien Rais kepada Golkar
> sebagai kompensasi dukungan
> > Golkar yang luar biasa itu? Akankah Amien Rais,
> nantinya akan memberikan
> > �balasan� dengan mendukung Habibie? Agaknya
> penulis telah mengetahui jawaban
> > pamungkas dari Sang Ketua: �Politik itu licin!�.
> Ya, 
=== message truncated ===


=====

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke