Martin:
Rupanya belum cukup sampai di situ. PAN, partai yang semula membasiskan diri
pada nasional (setidaknya dapat dilihat dari kepanjangan huruf "N" pada PAN,
yaitu: "Nasional"), ternyata menggandengkan tangan dengan erat kepada
partai-partai berbasis agama.

Gogon:
Menurut logika bodoh saya, sangat logis jika akhirnya PAN memilih bergandengan 
erat dengan partai2 berbasis agama. Kenapa?, sangat jelas bahwa basis massa PAN 
adalah dari Muhammadiyah. Dengan menambahkan kata "Nasional" barangkali ada 
harapan untuk menarik potensi pemilih "non-Muhammadiyah". Berapa sih jumlah 
suara yang diperoleh PAN?, darimana suara itu berasal?,....
Saya kira akan sama hasilnya jika nama PAN diganti PAM (Partai Amanah 
Muhammadiyah), massa PAN lebih melihat PAN sebagai partainya Muhammadiyah, 
bukan sebagai partai yang nasionalis atau agamis. Menurut anda apasih 
Muhammadiyah itu?,tempat nongkrongnya orang2 nasionaliskah?.
Tidak sopan kalau saya menuntut anak tetangga sebelah untuk mengikuti kemauan 
saya, apalagi bapaknya!. 


Martin:
Terpilihnya Saudara Amien Rais, pada tanggal 3 Oktober 1999 melalui voting
rahasia, menurut penulis, tidak lepas dari konstelasi politik dan
pemencengan harapan serta mandat politik rakyat, yang terjadi paska Pemilu
1999. Hampir dapat dipastikan, bahwa suara yang diperoleh kandidat ketua
Matori Abdul Jalil, sebesar 279 suara, berasal dari "mantan" komunike paso,
yaitu PDI Perjuangan. Sementara itu sangat dapat dipastikan, bahwa
kemenangan Amien Rais dengan 305 suara tidak dapat dilepaskan dari sokongan
Golkar. Dengan konstelasi demikian, agaknya "alternatif paling akhir" yang
diucapkan Amien Rais dulu, itu telah terjadi. Bahkan, kenyataannya, malahan
bukan sebagai "alternatif paling akhir".

Gogon:
Menurut prasangka saya, kemungkinan besar suara yang di peroleh kandidat ketua 
Kwik Kian Gie (yang nyaris tak terdengar) berasal dari mantan komunike Paso 
yang benar-benar konsisten dan reformis.
Benar2 menyedihkan, hanya segitukah anggota majelis terhormat yang reformis?. 
Mohon maaf,...hanya prasangka, tapi apakah benar bahwa rakyat mengharapkan 
Matori menjadi ketua MPR?, bukannya Kwik Kian Gie?, atau Theo Shapei, atau 
Litay, atau Dimyati?.
Saya kok malah berprasangka bahwa sebenarnya rakyat menghendaki Megawati 
sebagai ketua MPR,.....merangkap ketua DPR,....sekaligus merangkap presiden.
Maaf, benar2 prasangka buruk.


Martin:
Bukan kemenangan Amien Rais yang menjadi persoalan. Bahkan, kemenangan itu
seharusnya memberikan kebahagiaan bagi semua elemen "pro-reformasi". Tetapi
bahwa kemenangan itu yang sangat signifikan dukungan Golkar-lah yang menjadi
keprihatinan utama. Kemanakah semua suara kritis bahkan cenderung caci maki
dari Sang Amien Rais kepada Golkar? 


Gogon:
Ya, sangat disayangkan bahwa Golkar yang tidak reformis kok ikut-ikutan 
mendukung elemen pro-reformasi. Seharusnya Golkar itu biar saja tetap anti 
reformis, malah kalau bisa lebih anti reformis lagi supaya kita lebih sering 
mendengar caci maki "solo" Amin Rais, bukan caci maki untuk Amin Rais dari 
orang-orang yang tidak bahagia dengan reformasi (Maaf, logika saya memang 
dangkal).

Martin:
Ya, politik itu memang
licin, tetapi apakah sebegitu licinnya sampai sulit untuk menyadari bahwa
kehendak dan mandat politik rakyat telah dimencengkan untuk suatu kursi
kekuasaan?


Gogon:  
Secara pribadi saya berharap (tidak diikuti doa) tokoh reformis dan konsisten 
seperti bu Mega mampu menyingkirkan jago2 dari kubu bingung PT dan kubu busuk 
Golkar untuk duduk di kursi kepresidenan, agar terbuka mata para pengkritik 
Megawati bahwa beliau tidak memelencengkan mandat politik rakyat hanya untuk 
mengejar kekuasaan semata.
 


Martin:
Karena itu tidaklah berlebihan warning dari kelompok Warga Peduli melalui
Deklarasi 1 Oktober 1999. SU MPR memang bisa jadi tidak merefleksikan
aspirasi, kehendak dan mandat politik rakyat. SU MPR memang bisa jadi hanya
merupakan sarana politik bagi elite untuk mengejar kursi kekuasaan. Dan SU
MPR memang bisa jadi bertentangan dengan keputusan Pemilu. Semua itu bisa
terjadi karena "licin"-nya politik dan kehausan elite untuk kekuasaan. Maka
kini bisa dikatakan bahwa  "kubu pro-reformasi" telah tamat dan tidak lagi
relevan. Bila demikian keadaannya, apakah lagi yang bisa diharapkan dari SU
MPR 1999? Setidaknya, kita masih punya Gerakan Mahasiswa yang sampai detik
ini masih konsisten; the last of the least hope.


Gogon:
Hmmm,.... saya sendiri amat sangat heran, kenapa sampai saat ini tidak ada demo 
mahasiswa atas terpilihnya si plin-plan Amin Rais sebagai ketua MPR, atas 
persekongkolan busuk PT dengan si busuk Golkar. Mungkinkah mahasiswanya sudah 
jadi ikut-ikutan busuk?, tolong beritahu kami bung Martin.
Anda sebagai mahasiswa tentu lebih tahu, kalau tidak, barangkali bisa anda 
tanyakan kepada sebagian dari mereka pada waktu memberikan asistensi.


Gogon Waskito
Yang nggak paham politik



_____________________________________________
Free email with cool domains at FriendlyEmail
http://www.mypad.com/



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke