Kata orang: "tidak ada makan siang gratis". Jelas dukungan bulat GOLKAR untuk Amien Rais (Poros Tengah) bukan dukungan gratis dong. Mana ada dalam politik gratis. Masalahnya, konsensi apa yang sudah dilakukan antara AR dkk dengan GOLKAR ? Seorang Bapak Reformasi melakukan deal politik dengan kelompok status quo. Gejala apa ini ? Tentu saja tidak tertutup kemungkinan munculnya politik "balas jasa" dari seorang Amies Rais terhadap GOLKAR. "Balas jasa" seperti apa ? Bagi GOLKAR jelas untuk memuluskan calonnya dan /atau mempertahankan status quo dengan segala kenikmatan materi dan kekuasaannya. Saya kok jadi teringat sewaktu Habibie diserahi jabatan presiden oleh Pak Harto. Sampai kapanpun Habibie tidak akan mengadili Pak Harto. Apakah kita akan menyaksikan seorang Habibie Jilid II ? Bila Poros Tengah menang, apakah negara ini akan diperintah oleh Orde Baru Jilid III atau status quo baru ? Mohon sumbang saran kawan-kawan. -----Original Message----- From: Dedi Elfira [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Monday, October 04, 1999 7:40 PM To: '[EMAIL PROTECTED]' Subject: RE: [Kuli Tinta] REFORMASI, HIDUP? Menyikapi atas terpilihnya Amin Rais sebagai Ketua MPR memang di sambut positip semua kalangan dan hanya sangat sedikit yang merasa kurang puas. Seandainya di milis Kuli-tinta pun di adakan pemilihan antara Amin dan Mathori saya yakin Amin bukan hanya menang telak tapi menang KO ( he...he....sorry ya buat pendukung Mathori, masak sih yang di adu Amin sama Mathori ya jelas dong kalah ibarat tinju kelas menengah melawan kelas berat. Dedi Warga biasa juga. > ---------- > From: Hendro C[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Reply To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: 04 Oktober 1997 12:48 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [Kuli Tinta] REFORMASI, HIDUP? > > Sudahlah semua hampir semua kalangan menyambut positip atas hasil yang > demokratis ini tidak kurang reaksi pasar atas terpilihnya Prof.Dr Amin > Rais > sudah langsung kelihatan kearah positip hari ini kalau anda melihat > liputan 6 > SCTV komentar posip juga dikemukakan Investor asing atas terpilihnya > seorang > yang menurut mereka reformis. > Kalau menuruti pandangan anda yang cuma mengandalkan itung2an hasil pemilu > dan > memetak2kan kubu ini dan itu maka itu bukan politik, dan ini membuktikan > bahwa > tidak ada suara mayoritas yang secara arogan meng claim dirinya sebagai > kelompok > yang mesti memegang kendali untuk tentukan siapa2 yang harus duduk > diposisi > pejabat tinggi dan tertinggi negara kekalahan PDI-P dalam beberapa voting > menunjukkan bahwa memang perlu adanya dukungan partai lain, diluar itu > semua > marilah kita pandang positip kelangsungan demokrasi ini. > Tidak ada alasan gerakan Mahasiwa untuk menentang proses demokrasi ini. > > > Hendro C > Warga Biasa > > > Martin Manurung wrote: > > > Menyikapi terpilihnya Amien Rais: > > > > REFORMASI, HIDUP? > > > > Oleh: Martin Manurung > > > > Selesai sudah satu dari sekian langkah penting dalam Sidang Umum MPR > 1999. > > Dengan hasil berdebar, dapat disaksikan di layar teve kemenangan Saudara > > Amien Rais sebagai Ketua MPR 1999-2004. Ketika proses penghitungan suara > itu > > diumumkan, segera terdengar teriakan "Hidup Reformasi!". Ya, mungkin > dari > > kaca mata sederhana, kita segera dapat berkata demikian. Tapi apakah > > sebenarnya yang bisa ditangkap dari hasil itu? > > > > Konstelasi Politik Paska Pemilu 1999 > > > > Menjelang Pemilu 1999, rakyat dibuai dengan angan-angan kubu > "pro-reformasi" > > (setidaknya, demikianlah kubu itu kini disebut: diantara tanda kutip) > yang > > kuat dan bersatu melalui serangkaian pertemuan monumental, dimulai dari > > Kesepakatan Ciganjur sampai dengan Komunike Paso yang melahirkan "Front > > Bersama PDI Perjuangan, PKB dan PAN" (demikian pula disebut diantara > tanda > > kutip). > > > > Rakyat pun dengan begitu percaya, lugu dan polos segera menyambut > antusias > > dengan berbondong-bondong menuju tempat-tempat pemungutan suara. > Hasilnya > > kemudian dapat diketahui bahwa ketiga partai itu (PDI Perjuangan > [33,1%], > > PKB [11%]dan PAN [7,4%]) memperoleh "kemenangan" yang sangat signifikan: > > 51,5%. Di lain pihak, "kubu status quo" yang ditandai dengan > keikutsertaan > > Golkar, hanya memperoleh suara 26%. Hal itu mencerminkan kehendak rakyat > > yang sangat tinggi untuk perubahan dan menentang status quo, yang > tercermin > > dari anjloknya suara Golkar dari 74% pada Pemilu 1997 menjadi hanya 26% > di > > Pemilu 1999. > > > > Sejenak kita terbuai oleh euphoria kemenangan "kubu pro-reformasi". > Sejenak > > pula kita memperoleh tambahan energi untuk seakan makin mampu > mempersempit > > ruang gerak "kubu status quo" dengan menggencarkan ragam tudingan dan > > desakan untuk tidak mencalonkan presiden-nya dalam Sidang Umum MPR 1999. > > > > Namun rupanya kemenangan "kubu pro-reformasi" itu tidak berlangsung > lama. > > Elite-elite politik mulai melancarkan "gerilya" untuk menambah > probabilitas > > kemenangan dalam SU MPR 1999. Tawar menawar dukungan semakin terlihat > jelas > > ke puncak perhatian publik. Suara rakyat yang diberikan dengan tulus, > lugu > > dan penuh kepercayaan itu, mulai dibuat seakan hitungan nominal (sekadar > > angka-angka) tanpa memiliki arti mandat politik. "Kubu pro-reformasi" > pun > > mulai terlihat lebih nyata keretakannya. Adalah seorang Ketua PAN, > Abdillah > > Toha, yang menyatakan pertama kali bahwa partainya (yang sesungguhnya > > merupakan bagian komunike paso yang katanya "front bersama > pro-reformasi"), > > mungkin akan berkoalisi dengan Golkar (yang sering dicap sebagai "kubu > > status-quo"). Seketika muncul banyak protes dari masyarakat. Berbagai > > penyesalan terungkap dan rasa pengkhianatan atas kepercayaan rakyat itu, > > tidak lagi dapat dibendung. Adalah Sekjen PAN, Faisal Basri, yang dengan > > tegas, tegar dan konsisten menyebutkan bahwa koalisi dengan Golkar sudah > > "harga mati". Walaupun kemudian, Sang Ketua PAN, Amien Rais, memberikan > > jawaban yang questionable bahwa koalisi dengan Golkar itu sebagai > > "alternatif paling akhir". Dengan jawaban yang terakhir itu, sekalipun > > disebutkan "paling akhir", tetapi tentunya memiliki kemungkinan yang > tidak > > sama dengan nol. > > > > Rupanya belum cukup sampai di situ. PAN, partai yang semula membasiskan > diri > > pada nasional (setidaknya dapat dilihat dari kepanjangan huruf "N" pada > PAN, > > yaitu: "Nasional"), ternyata menggandengkan tangan dengan erat kepada > > partai-partai berbasis agama. Dengan demikian, terjadi pergeseran format > > politik pasca Pemilu. Jika semula mengikuti "janji kampanye" sebelum > Pemilu, > > maka sesungguhnya mandat politik rakyat diberikan pada partai-partai > dengan > > "ideologi tengah" (artinya tidak "kanan" atau berbasis agama, dan juga > tidak > > "kiri", atau beraliran radikal sosialis). Hal itu dapat dilihat dari > hasil > > pemilu dimana partai-partai ber-"ideologi tengah" (PDI-P, Golkar, PKB > dan > > PAN) memperoleh +/- 80% suara, sementara partai-partai ber-"ideologi > kanan" > > (PPP, PBB, PK, PDKB, dll) hanya memperoleh +/- 20% suara dan > partai-partai > > ber-"ideologi kiri" hanya memperoleh kurang dari 1% suara. Jadi, telah > > terjadi dua pemencengan mandat politik rakyat oleh elite; pertama, > > pemencengan harapan bersatunya "kubu pro-reformasi' dan kedua, > pemencengan > > mandat politik rakyat untuk menjauh dari "politik aliran". > > > > Fenomena SU MPR: Masih Relevankah Reformasi? > > > > Terpilihnya Saudara Amien Rais, pada tanggal 3 Oktober 1999 melalui > voting > > rahasia, menurut penulis, tidak lepas dari konstelasi politik dan > > pemencengan harapan serta mandat politik rakyat, yang terjadi paska > Pemilu > > 1999. Hampir dapat dipastikan, bahwa suara yang diperoleh kandidat ketua > > Matori Abdul Jalil, sebesar 279 suara, berasal dari "mantan" komunike > paso, > > yaitu PDI Perjuangan. Sementara itu sangat dapat dipastikan, bahwa > > kemenangan Amien Rais dengan 305 suara tidak dapat dilepaskan dari > sokongan > > Golkar. Dengan konstelasi demikian, agaknya "alternatif paling akhir" > yang > > diucapkan Amien Rais dulu, itu telah terjadi. Bahkan, kenyataannya, > malahan > > bukan sebagai "alternatif paling akhir". > > > > Bukan kemenangan Amien Rais yang menjadi persoalan. Bahkan, kemenangan > itu > > seharusnya memberikan kebahagiaan bagi semua elemen "pro-reformasi". > Tetapi > > bahwa kemenangan itu yang sangat signifikan dukungan Golkar-lah yang > menjadi > > keprihatinan utama. Kemanakah semua suara kritis bahkan cenderung caci > maki > > dari Sang Amien Rais kepada Golkar? Bagaimanakah nantinya Sang Ketua > dapat > > terus berkata pedas kepada "kubu status quo" yang telah memberikan > sokongan > > luar biasa padanya? Dan pertanyaan pamungkas: Apakah tawar menawar > politik > > yang telah diberikan Amien Rais kepada Golkar sebagai kompensasi > dukungan > > Golkar yang luar biasa itu? Akankah Amien Rais, nantinya akan memberikan > > "balasan" dengan mendukung Habibie? Agaknya penulis telah mengetahui > jawaban > > pamungkas dari Sang Ketua: "Politik itu licin!". Ya, politik itu memang > > licin, tetapi apakah sebegitu licinnya sampai sulit untuk menyadari > bahwa > > kehendak dan mandat politik rakyat telah dimencengkan untuk suatu kursi > > kekuasaan? > > > > Dari pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya telah semakin menemukan > > jawabnya itu, ijinkan penulis katakan bahwa terminologi "reformasi" > telah > > usang dan dimasukkan ke keranjang sampah oleh nafsu untuk memperoleh > > kekuasaan. Bila terminologi "reformasi" itu telah usang, maka tak > berlebihan > > pula jika dikatakan bahwa pengorbanan para martir demokrasi itu pun > telah > > turut terbuang dalam keranjang sampah, karena move politik elite yang > haus > > kekuasaan. Suara, darah, jerih dan peluh rakyat serta terlebih kehendak > dan > > mandat politik rakyat pun telah usang. Tinggallah kini kita menyaksikan > > "licin"-nya politik dan ketidakkonsistenan elite, lagi-lagi, untuk > mengejar > > kursi posisi politik. > > > > Karena itu tidaklah berlebihan warning dari kelompok Warga Peduli > melalui > > Deklarasi 1 Oktober 1999. SU MPR memang bisa jadi tidak merefleksikan > > aspirasi, kehendak dan mandat politik rakyat. SU MPR memang bisa jadi > hanya > > merupakan sarana politik bagi elite untuk mengejar kursi kekuasaan. Dan > SU > > MPR memang bisa jadi bertentangan dengan keputusan Pemilu. Semua itu > bisa > > terjadi karena "licin"-nya politik dan kehausan elite untuk kekuasaan. > Maka > > kini bisa dikatakan bahwa "kubu pro-reformasi" telah tamat dan tidak > lagi > > relevan. Bila demikian keadaannya, apakah lagi yang bisa diharapkan dari > SU > > MPR 1999? Setidaknya, kita masih punya Gerakan Mahasiswa yang sampai > detik > > ini masih konsisten; the last of the least hope. > > > > Martin Manurung > > Deklarator Warga Peduli > > Mahasiswa dan Asisten Dosen > > Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. > > > > > > > ______________________________________________________________________ > Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI > dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; > Bergabung: [EMAIL PROTECTED] > Keluar: [EMAIL PROTECTED] > > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia! > > > > > > > > > > > ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
