On Wed, 13 Oct 1999, Zaki Tugiyo wrote:
> Hay guys,
>
> Ada mau ikut rusuh-rusuh ayo gabung untuk melakukan revolusi silahkan
> baca posting dibawah ini, sory loh korannya Republika bukan Rakyat
> Merdeka.
>
> Ngamuk yo ...
>
> Salam
> Zaki Tugiyo
Koran Suara Pembaruan hari Minggu, 10 Oktober, memberitahukan 200.000
sipamtisan PDi-P dari Jatim akan ke Jakarta. Katanya untuk mengamankan
Senayan dari pendukung Habibie yang akan memaksakan kehendak.
WAM:
Yang biasanya memaksakan kehendak itu siapa sih?
Kalau anggota MPR yang jumlahnya mendekati 700 itu sebagian besar milih
capres selain Mega, apa itu pemaksaan kehendak?
Besok harinya, di TV ada berita Roy BB Janis memeriksa barisan pendukung
Mega yang akan _mengamankan_ Jakarta pada saat SU MPR. Katanya, ada
150.000 simpatisan Mega yang akan berseragam, dan 50.000 yang tidak
berseragam.
WAM:
Ketika terjadi kerusuhan di Wonosobo pada saat kampanye Golkar, TV begitu
jelas yang membuat keributan bersegaram PDI-P. Tapi, pembesar PDI-P
mengatakan bahwa seragam PDI_P mudah dibeli sehingga tayangan TV itu tidak
bisa dijadikan bukti. Lalu, apa nggak lebih parah lagi kalau ada 50.000
orang simpatisan PDI-P yang tidak pakai seragam? Siapa yang bisa mengawasi
mereka?
Kalau ada kerusuhan, siapa yang bertanggungjawab?
Heran saya. Budaya kekerasan kok ya masih mau dilestarikan.
Padahal, katanya sih, mau reformasi.
WAM
> URL : http://www.republika.co.id/9910/13/13XPDI-P.01
>
> REPUBLIKA
> Republika, 13 Oct 1999
>
>
> Massa Megawati Ancam Lakukan Revolusi
>
> JAKARTA -- Para pendukung Megawati Soekarnoputri yang dalam sepekan
> terakhir mulai 'membanjiri' Bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta,
> tak hanya datang untuk mendukung ketua umum PDI Perjuangan itu
> menjadi
> Presiden RI mendatang. Mereka juga mulai mengancam melakukan revolusi
> bila Megawati akhirnya gagal duduk di kursi kepresidenan.
>
> Sekitar tiga ribu pendukung Megawati yang berdatangan dari berbagai
> wilayah di Jabotabek, memadati Bundaran HI di Jakarta, sejak siang
> hingga kemarin sore. Mereka bergantian mengadakan orasi mendukung
> Ketua Umum PDI-P itu sebagai presiden keempat RI.
>
> Mereka menutup jalur putar Bundaran HI dan menempatkan satu mobil
> pick
> up berisi generator listrik dan perangkat sound system yang dipakai
> untuk orasi.
>
> Aktivis PDI-P, Pius Lustrilanang, yang hadir dan menggalang massa
> 'banteng' dari Bogor, dalam orasinya meminta MPR mendatang menetapkan
> Megawati sebagai presiden. ''Jika Megawati tidak terpilih, maka
> terjadi revolusi,'' kata Pius diiringi teriakan ''revolusi, revolusi,
> revolusi!'' berkali-kali dari ribuan pendukung Megawati.
>
> Pada kesempatan itu Pius juga meminta pendukung Mega untuk
> mengibarkan
> bendera merah di halaman rumah serta memakai kaos bergambar Megawati
> hingga 21 Oktober sebagai upaya untuk mengingatkan MPR memilih
> Megawati.
>
> Abidin dari Barisan Banteng Megawati (BBM) dalam orasinya
> berkali-kali
> menegaskan pilihan MPR hanya dua yaitu, Megawati atau revolusi jika
> ketua umum PDI-P tidak terpilih sebagai presiden.
>
> Para pengunjuk rasa dari berbagai komponen PDI-P yang terdiri atas
> Barisan Banteng Megawati (BBM), Komite Pendukung Megawati (KPM),
> Barisan Rakyat Setia Pendukung Megawati (BRSPM), Tim Sukses Megawati
> (TSM), dan Front Nasional Bersatu (FNB) tersebut mengitari Bundaran
> HI
> dengan menggelar spanduk berisi tanda tangan serta tulisan dukungan
> kepada Megawati.
>
> Menurut keterangan beberapa koordinator lapangan aksi tersebut,
> demonstrasi yang digelar saat ini sebagai awal dari aksi yang lebih
> besar selama masa SU MPR. ''Tanggal 14 Oktober nanti kami akan
> mengadakan konsolidasi dengan para pendukung dari luar Jabotabek
> serta
> akan mengadakan aksi puncak pada 18 Oktober,'' kata seorang
> koordinator yang tidak mau disebut identitasnya. Menurut
> pengakuannya,
> massa pendukung PDI Perjuangan yang hadir kemarin tercatat 2.750
> orang.
>
> Para peserta aksi yang hampir semuanya mengenakan kaos berlambang
> PDI-P mengaku datang dari berbagai wilayah Ibu Kota maupun luar
> Jakarta seperti Bogor dan Tangerang. Ratusan di antaranya mengendarai
> 20 Metromini dan berhenti di Tugu Proklamasi, lalu berjalan kaki
> sejauh tiga kilometer ke Bundaran HI dan membagikan selebaran berisi
> dukungan pada Megawati, penolakan pertanggungjawaban Presiden BJ
> Habibie, amandemen UUD 1945, serta penuntasan kasus Soeharto dan
> kroninya.
>
> Ketua DPP PDI-P, Suparlan, yang dimintai komentar tentang ancaman
> revolusi dari massa pendukung Megawati itu mengaku tak tahu-menahu.
> ''Saya kok belum tahu kalau ada pengerahan massa PDI-P,'' ujarnya
> kepada Republika tadi malam.
>
> Secara terpisah, Komandan Satgas Barisan Serbagunua (Banser) GP
> Ansor,
> Imam Kusnin Ahmad, mengatakan pihaknya memberi perhatian serius
> terhadap upaya-upaya anarki yang dilakukan massa selama
> berlangsungnya
> SU MPR. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, lanjutnya, Banser siap
> turun dengan puluhan ribu pasukannya.
>
> Bahkan, tegas Kusnin, Banser akan mendapat dukungan penuh dari
> pasukan
> jin (pasukan tidak kasat mata) yang siap membentengi Gedung MPR/DPR.
> ''Yang jelas, kelompok dari manapun yang mencoba mengganggu jalannya
> SU MPR akan berhadapan dengan Banser. Dan, kami tidak main-main untuk
> mengamankan jalannya SU MPR itu dengan dukungan dari pasukan jin
> Islam
> yang sewaktu-waktu siap diturunkan di arena,'' tegasnya ketika
> berbincang dengan Republika di Jakarta kemarin.
>
> Kusnin mengingatkan pasukan tidak kasat mata itu memang bisa
> dikendalikan sesuai dengan keinginan para kiai. Untuk itu, katanya,
> mereka baru akan diturunkan kalau kondisinya benar-benar sangat
> gawat.
> Jadi, papar dia, pasukan jin ini tidak akan segan-segan menangkal
> siapa pun yang mencoba berbuat jahat untuk menggagalkan SU MPR.
>
> Pengerahan pasukan Banser serta kemungkinan didukung pasukan jin itu,
> menurut Kusnin, dilakukan sesuai dengan instruksi Gus Dur (KH
> Abdurrahman Wahid) yang sebelumnya telah memberi warning kepada
> kelompok manapun yang ingin mengganggu jalannya SU MPR. ''Apa yang
> kami lakukan ini berdasarkan perintah Gus Dur. Kami akan turun ke
> lapangan untuk mengamankan situasi dan tetap berpijak pada etika
> HAM,'' jelasnya.
>
> Berdasarkan laporan dari Surabaya, ribuan Banser yang siap
> diterjunkan
> telah mendapat bekal senjata dari para kiai plus. Mereka bersenjata
> rotan yang telah diberi asma. ''Senjata rotan ini memang kecil, tapi
> keampuhannya lebih dahsyat ketimbang senjata api,'' ujar salah
> seorang
> anggota Banser asal Sidoarjo, Jawa Timur. Ia memberikan contoh, pada
> saat menumpasan G-30-S/PKI, senjata-senjata rotan kecil itu telah
> dibuktikan keampuhannya.
>
> Hal senada juga dikemukakan Komandan Banser Kab Malang, Ahmad Mujib,
> bahwa pihaknya juga mengirim ratusan orang anggotanya untuk
> pengamanan
> SU MPR itu. ''Banser tak akan ragu-ragu sedikit pun untuk mengamankan
> SU MPR itu demi tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa.''
>
> ''Keampuhan pasukan Banser ini sudah terbukti sejak pemberantasan
> PKI,
> waktu tahun 1965 itu. Dalam waktu sekejap PKI yang berniat jahat
> terhadap negara kesatuan RI bisa ditumpas,'' tegas Mujib.
>
> Ketua Umum GP Ansor, Syaifullah Yusuf, juga membenarkan bahwa Banser
> yang di bawah komando Ansor itu sudah menyiapkan pasukannya untuk
> suksesnya SU MPR kali ini. Mereka, kata dia, didatangkan dari
> berbagai
> daerah.
>
> ''Ini sesuai dengan tradisi Banser NU selama ini, setiap tenaganya
> dibutuhkan oleh bangsa ini mesti mereka tampil dan bangkit untuk
> membela negeri ini dari ancaman dan gangguan serta hambatan yang akan
> memporak-porandakan negeri ini,'' papar Syaifullah.
>
> Dalam SU tahap pertama, kata Syaifullah, Banser sudah dikerahkan di
> berbagai sudut gedung MPR/DPR serta beberapa tempat, terutama di
> Hotel
> Sahid dan HI, tempat penginapan anggota MPR/DPR.
>
> ''Karena menjelang SU MPR lanjutan ini, terutama menjelang pemilihan
> presiden isunya semakin dahsyat, kemungkinan kerusahan akan lebih
> besar, karena itu pasukan Banser yang dikerahkan akan lebih besar
> pula,'' kata keponakan Gus Dur ini.
>
> Sementara itu, Ketua DPR Akbar Tanjung mengimbau kepada para elite
> politik agar tidak lagi menggunakan cara-cara pengerahan massa dalam
> jumlah berlebihan untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan yang
> diinginkan.
>
> ''Diharapkan berbagai kelompok tidak lagi menggunakan cara-cara
> pengerahan massa dalam jumlah berlebihan dalam memecahkan masalah
> atau
> bergaya mengancam guna mencapai tujuan yang diinginkan,'' kata Akbar
> saat melantik dua anggota DPR baru di Gedung MPR/DPR kemarin.
>
> Menurut Akbar, pengerahan massa secara tidak terkendali hanya
> menunjukkan ketidakmampuan seorang elite politik dalam mengatur
> kehidupan kenegaraan dan pemerintahan. Dikatakannya, sikap
> memprioritaskan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau
> golongan sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi saat ini yang
> masih menghadapi krisis bersifat multidimensi.
>
> Senada dengan Akbar, Ketua DPP Partai Golkar, Slamet Effendy Yusuf,
> mengatakan pengerahan massa untuk menekan suatu kelompok demi
> menggolkan tujuan merupakan cara demokrasi yang masih primitif.
>
> Ditemui di sela-sela rapat PAH III yang membahas soal amandemen UUD
> 1945 di gedung MPR/DPR Senayan, Slamet menyatakan bahwa pengerahan
> massa untuk mengepung dan memaksakan kehendak agar tujuan-tujuan
> kelompoknya bisa tercapai, sudah tidak zamannya lagi diterapkan.
>
> ''Perlu diketahui saja, kalau kerumunan massa itu hanya sekadar
> memberi dukungan moral, tidak lebih dari itu. Dan, itu semua sama
> sekali tidak mempengaruhi setiap keputusan yang akan diambil,'' kata
> Slamet.
>
> Dengan mekanisme one man one vote yang digunakan dalam proses
> pengambilan keputusan di MPR ataupun dalam forum lainnya, menurut
> Slamet, tidak akan mempengaruhi anggota dalam menentukan keputusan
> yang akan diambilnya.
>
> Selain itu, kata Slamet, semua orang juga sudah tahu kalau kerumunan
> dan pengerahan massa itu sudah tidak lagi murni seperti halnya
> aksi-aksi unjuk rasa di masa lalu yang cenderung digerakkan atas
> dasar
> nurani dan kebenaran.
>
> Oleh karena itu, lanjut Slamet, pengerahan massa untuk mendukung
> salah
> seorang kandidat capres perlu dihindari karena selain bisa berkembang
> ke arah anarkis juga dapat memecah belah masyarakat. n ant/zis/afa
> _________________________________________________________________
>
>
> Diterbitkan oleh Republika Online
> Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1998
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!