Haa? Replubika mau revolusi?? bener nih...??


------Original Message------
From: Zaki Tugiyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: October 13, 1999 4:39:48 AM GMT
Subject: [Kuli Tinta] Massa Megawati Ancam Lakukan Revolusi


Hay guys,

Ada mau ikut rusuh-rusuh ayo gabung untuk melakukan revolusi silahkan
baca posting dibawah ini, sory loh korannya Republika bukan Rakyat
Merdeka.

Ngamuk yo ... 

Salam
Zaki Tugiyo

URL             :  http://www.republika.co.id/9910/13/13XPDI-P.01

   REPUBLIKA
   Republika, 13 Oct 1999


   Massa Megawati Ancam Lakukan Revolusi

   JAKARTA -- Para pendukung Megawati Soekarnoputri yang dalam sepekan
   terakhir mulai 'membanjiri' Bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta,
   tak hanya datang untuk mendukung ketua umum PDI Perjuangan itu
menjadi
   Presiden RI mendatang. Mereka juga mulai mengancam melakukan revolusi
   bila Megawati akhirnya gagal duduk di kursi kepresidenan.

   Sekitar tiga ribu pendukung Megawati yang berdatangan dari berbagai
   wilayah di Jabotabek, memadati Bundaran HI di Jakarta, sejak siang
   hingga kemarin sore. Mereka bergantian mengadakan orasi mendukung
   Ketua Umum PDI-P itu sebagai presiden keempat RI.

   Mereka menutup jalur putar Bundaran HI dan menempatkan satu mobil
pick
   up berisi generator listrik dan perangkat sound system yang dipakai
   untuk orasi.

   Aktivis PDI-P, Pius Lustrilanang, yang hadir dan menggalang massa
   'banteng' dari Bogor, dalam orasinya meminta MPR mendatang menetapkan
   Megawati sebagai presiden. ''Jika Megawati tidak terpilih, maka
   terjadi revolusi,'' kata Pius diiringi teriakan ''revolusi, revolusi,
   revolusi!'' berkali-kali dari ribuan pendukung Megawati.

   Pada kesempatan itu Pius juga meminta pendukung Mega untuk
mengibarkan
   bendera merah di halaman rumah serta memakai kaos bergambar Megawati
   hingga 21 Oktober sebagai upaya untuk mengingatkan MPR memilih
   Megawati.

   Abidin dari Barisan Banteng Megawati (BBM) dalam orasinya
berkali-kali
   menegaskan pilihan MPR hanya dua yaitu, Megawati atau revolusi jika
   ketua umum PDI-P tidak terpilih sebagai presiden.

   Para pengunjuk rasa dari berbagai komponen PDI-P yang terdiri atas
   Barisan Banteng Megawati (BBM), Komite Pendukung Megawati (KPM),
   Barisan Rakyat Setia Pendukung Megawati (BRSPM), Tim Sukses Megawati
   (TSM), dan Front Nasional Bersatu (FNB) tersebut mengitari Bundaran
HI
   dengan menggelar spanduk berisi tanda tangan serta tulisan dukungan
   kepada Megawati.

   Menurut keterangan beberapa koordinator lapangan aksi tersebut,
   demonstrasi yang digelar saat ini sebagai awal dari aksi yang lebih
   besar selama masa SU MPR. ''Tanggal 14 Oktober nanti kami akan
   mengadakan konsolidasi dengan para pendukung dari luar Jabotabek
serta
   akan mengadakan aksi puncak pada 18 Oktober,'' kata seorang
   koordinator yang tidak mau disebut identitasnya. Menurut
pengakuannya,
   massa pendukung PDI Perjuangan yang hadir kemarin tercatat 2.750
   orang.

   Para peserta aksi yang hampir semuanya mengenakan kaos berlambang
   PDI-P mengaku datang dari berbagai wilayah Ibu Kota maupun luar
   Jakarta seperti Bogor dan Tangerang. Ratusan di antaranya mengendarai
   20 Metromini dan berhenti di Tugu Proklamasi, lalu berjalan kaki
   sejauh tiga kilometer ke Bundaran HI dan membagikan selebaran berisi
   dukungan pada Megawati, penolakan pertanggungjawaban Presiden BJ
   Habibie, amandemen UUD 1945, serta penuntasan kasus Soeharto dan
   kroninya.

   Ketua DPP PDI-P, Suparlan, yang dimintai komentar tentang ancaman
   revolusi dari massa pendukung Megawati itu mengaku tak tahu-menahu.
   ''Saya kok belum tahu kalau ada pengerahan massa PDI-P,'' ujarnya
   kepada Republika tadi malam.

   Secara terpisah, Komandan Satgas Barisan Serbagunua (Banser) GP
Ansor,
   Imam Kusnin Ahmad, mengatakan pihaknya memberi perhatian serius
   terhadap upaya-upaya anarki yang dilakukan massa selama
berlangsungnya
   SU MPR. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, lanjutnya, Banser siap
   turun dengan puluhan ribu pasukannya.

   Bahkan, tegas Kusnin, Banser akan mendapat dukungan penuh dari
pasukan
   jin (pasukan tidak kasat mata) yang siap membentengi Gedung MPR/DPR.
   ''Yang jelas, kelompok dari manapun yang mencoba mengganggu jalannya
   SU MPR akan berhadapan dengan Banser. Dan, kami tidak main-main untuk
   mengamankan jalannya SU MPR itu dengan dukungan dari pasukan jin
Islam
   yang sewaktu-waktu siap diturunkan di arena,'' tegasnya ketika
   berbincang dengan Republika di Jakarta kemarin.

   Kusnin mengingatkan pasukan tidak kasat mata itu memang bisa
   dikendalikan sesuai dengan keinginan para kiai. Untuk itu, katanya,
   mereka baru akan diturunkan kalau kondisinya benar-benar sangat
gawat.
   Jadi, papar dia, pasukan jin ini tidak akan segan-segan menangkal
   siapa pun yang mencoba berbuat jahat untuk menggagalkan SU MPR.

   Pengerahan pasukan Banser serta kemungkinan didukung pasukan jin itu,
   menurut Kusnin, dilakukan sesuai dengan instruksi Gus Dur (KH
   Abdurrahman Wahid) yang sebelumnya telah memberi warning kepada
   kelompok manapun yang ingin mengganggu jalannya SU MPR. ''Apa yang
   kami lakukan ini berdasarkan perintah Gus Dur. Kami akan turun ke
   lapangan untuk mengamankan situasi dan tetap berpijak pada etika
   HAM,'' jelasnya.

   Berdasarkan laporan dari Surabaya, ribuan Banser yang siap
diterjunkan
   telah mendapat bekal senjata dari para kiai plus. Mereka bersenjata
   rotan yang telah diberi asma. ''Senjata rotan ini memang kecil, tapi
   keampuhannya lebih dahsyat ketimbang senjata api,'' ujar salah
seorang
   anggota Banser asal Sidoarjo, Jawa Timur. Ia memberikan contoh, pada
   saat menumpasan G-30-S/PKI, senjata-senjata rotan kecil itu telah
   dibuktikan keampuhannya.

   Hal senada juga dikemukakan Komandan Banser Kab Malang, Ahmad Mujib,
   bahwa pihaknya juga mengirim ratusan orang anggotanya untuk
pengamanan
   SU MPR itu. ''Banser tak akan ragu-ragu sedikit pun untuk mengamankan
   SU MPR itu demi tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa.''

   ''Keampuhan pasukan Banser ini sudah terbukti sejak pemberantasan
PKI,
   waktu tahun 1965 itu. Dalam waktu sekejap PKI yang berniat jahat
   terhadap negara kesatuan RI bisa ditumpas,'' tegas Mujib.

   Ketua Umum GP Ansor, Syaifullah Yusuf, juga membenarkan bahwa Banser
   yang di bawah komando Ansor itu sudah menyiapkan pasukannya untuk
   suksesnya SU MPR kali ini. Mereka, kata dia, didatangkan dari
berbagai
   daerah.

   ''Ini sesuai dengan tradisi Banser NU selama ini, setiap tenaganya
   dibutuhkan oleh bangsa ini mesti mereka tampil dan bangkit untuk
   membela negeri ini dari ancaman dan gangguan serta hambatan yang akan
   memporak-porandakan negeri ini,'' papar Syaifullah.

   Dalam SU tahap pertama, kata Syaifullah, Banser sudah dikerahkan di
   berbagai sudut gedung MPR/DPR serta beberapa tempat, terutama di
Hotel
   Sahid dan HI, tempat penginapan anggota MPR/DPR.

   ''Karena menjelang SU MPR lanjutan ini, terutama menjelang pemilihan
   presiden isunya semakin dahsyat, kemungkinan kerusahan akan lebih
   besar, karena itu pasukan Banser yang dikerahkan akan lebih besar
   pula,'' kata keponakan Gus Dur ini.

   Sementara itu, Ketua DPR Akbar Tanjung mengimbau kepada para elite
   politik agar tidak lagi menggunakan cara-cara pengerahan massa dalam
   jumlah berlebihan untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan yang
   diinginkan.

   ''Diharapkan berbagai kelompok tidak lagi menggunakan cara-cara
   pengerahan massa dalam jumlah berlebihan dalam memecahkan masalah
atau
   bergaya mengancam guna mencapai tujuan yang diinginkan,'' kata Akbar
   saat melantik dua anggota DPR baru di Gedung MPR/DPR kemarin.

   Menurut Akbar, pengerahan massa secara tidak terkendali hanya
   menunjukkan ketidakmampuan seorang elite politik dalam mengatur
   kehidupan kenegaraan dan pemerintahan. Dikatakannya, sikap
   memprioritaskan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau
   golongan sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi saat ini yang
   masih menghadapi krisis bersifat multidimensi.

   Senada dengan Akbar, Ketua DPP Partai Golkar, Slamet Effendy Yusuf,
   mengatakan pengerahan massa untuk menekan suatu kelompok demi
   menggolkan tujuan merupakan cara demokrasi yang masih primitif.

   Ditemui di sela-sela rapat PAH III yang membahas soal amandemen UUD
   1945 di gedung MPR/DPR Senayan, Slamet menyatakan bahwa pengerahan
   massa untuk mengepung dan memaksakan kehendak agar tujuan-tujuan
   kelompoknya bisa tercapai, sudah tidak zamannya lagi diterapkan.

   ''Perlu diketahui saja, kalau kerumunan massa itu hanya sekadar
   memberi dukungan moral, tidak lebih dari itu. Dan, itu semua sama
   sekali tidak mempengaruhi setiap keputusan yang akan diambil,'' kata
   Slamet.

   Dengan mekanisme one man one vote yang digunakan dalam proses
   pengambilan keputusan di MPR ataupun dalam forum lainnya, menurut
   Slamet, tidak akan mempengaruhi anggota dalam menentukan keputusan
   yang akan diambilnya.

   Selain itu, kata Slamet, semua orang juga sudah tahu kalau kerumunan
   dan pengerahan massa itu sudah tidak lagi murni seperti halnya
   aksi-aksi unjuk rasa di masa lalu yang cenderung digerakkan atas
dasar
   nurani dan kebenaran.

   Oleh karena itu, lanjut Slamet, pengerahan massa untuk mendukung
salah
   seorang kandidat capres perlu dihindari karena selain bisa berkembang
   ke arah anarkis juga dapat memecah belah masyarakat. n ant/zis/afa
     _________________________________________________________________


   Diterbitkan oleh Republika Online
   Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1998

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
-----------------------------------------------
FREE! The World's Best Email Address @email.com
Reserve your name now at http://www.email.com



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke