From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
>RI menganggap Irian Barat itu "bagian" dr RI saat itu karena kesamaan
>nasib, yaitu sama-sama bekas jajahan Belanda. Itu satu-satunya
>alasan bagi Bung Karno untuk mengklaim Irian Barat. Saat itu,
>suara rakyat Irian sama sekali tidak ada. Kalaupun ada, hanya
>segelintir orang Irian yang kebetulan ndak suka sama Belanda
>sehingga pro Indonesia. Mereka ini di kemudian hari diangkat
>sebagai pahlawan nasional, misalnya Frans Kaisepo.
>Mohon koreksi bila saya salah.
Kesamaan nasib itu merupakan salah satu alasan adanya persatuan. Ke-13
koloni Inggris di Dunia Baru tidak akan bersatu bila tidak merasa senasib,
lalu kemudian negara bagian-2 Selatan memisahkan diri dari Utara karena
merasa sudah tidak senasib dan serasa lagi.
>Dari segi lain, misalnya etnis, jelas Irian Barat sangat berbeda dengan
>daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka jauh lebih dekat kepada
>orang-orang Papua Nugini atau suku-suku bangsa lain di kawasan
>Pasifik. Atas dasar ini mereka tetap memiliki alasan kuat untuk
>berdiri sendiri. Belum lagi dari segi agama.
Secara etnis, benar demikian. Keterikatan secara primordial juga merupakan
alasan persatuan.
>Apalagi bila dikaitkan dengan ketidak adilan Jakarta. Irian yg selama ini
>penyumbang devisa bagi negara dalam jumlah sangat besar ternyata
>sangat tertinggal dan jangan lupa: menderita rawan pangan, kurang
>pangan beberapa tahun lalu. Sampai-sampai beberapa media nasional
>seperti KOMPAS membuka dompet kemanusiaan. Tak kurang dari
>mantan Presiden Soeharto sendiri mengirim beberapa karung TIWUL.
>Duh Gusti ..... malang nian nasibmu, Irian.
Kalau masalah ini bisa diatasi dengan kebijakan hubungan pusat-daerah yang
lebih baik daripada dahulu, contohnya adalah konsep federasi yang
memberikan otonomi lebih besar kepada masing-masing daerah untuk
mengembangkan potensi daerahnya sendiri tanpa campur tangan banyak dari
pemerintah pusat.
>Kalau mereka ingin merdeka, sangat wajar. Belum lagi kalau disangkut
>pautkan dengan mayoritas minoritas plus agama. Kalau mau jujur,
>harusnya wakil rakyat di DPR yang mewakili Irian, KalTim dan Riau
>harusnya menduduki posisi mayoritas karena merekalah yang selama
>ini punya andil paling besar untuk "memberi makan" Republik ini.
Keinginan untuk merdeka itu banyak alasannya, jika memang rakyat Papua
Barat (meminjam istilah GJA) menginginkannya, silahkan dibahas dengan
kepala dingin, dengan mempertimbangkan plus-minusnya, keuntungan dan
kerugian, dan prospek masa depan. Untuk wakil rakyat, menurut saya jumlah
tidak harus banyak, biar sedikit namun 'galak' efeknya bisa sama, mungkin
malah lebih cepat diperhatikan. Wakil-wakil rakyat inilah yang harus
mewakili kepentingan rakyatnya dalam lembaga legislatif.
Wassalam,
Paladin A.
ICQ 50753984
>-----Original Message-----
>From: Arief Rakhmatsyah [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Monday, October 25, 1999 4:15 PM
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] JACOB TOBING & AKBAR TANJUNG
>
>Cosmas, coba lihat lagi perjanjian pengakuan kedaulatan (KMB?) tahun bulan
>Desember 1949.
>
>Perjanjiannya Irian Barat akan DIKEMBALIKAN kepada RI dalam waktu sekian
>tahun (lupa). Nah, karena si bule jelek penjajah itu ingkar janji maka
>keluarlah Komando Mandala.
>
>
>Riev
>
>
>----- Original Message -----
>From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Friday, October 22, 1999 7:40 AM
>Subject: RE: [Kuli Tinta] JACOB TOBING & AKBAR TANJUNG
>
>
>
>
>Irian Jaya kan bergabung dengan Indonesia
>setelah adanya PEPERA di bawah PBB.
>
>Waktu proklamasi kan Irian masih di bawah Belanda, Bung.
>Segera setelah merdeka, Bung Karno mengumandangkan
>REBUT IRIAN Barat, karena Bung Karno MENGANGGAP bahwa
>Irian Barat adalah wilayah Republik Indonesia.
>Dibentuklah Komando Mandala di bawah komado
>Mayjen (waktu itu) Soeharto. Penyusupan pasukan
>ke wilayah Irian Barat memakan korban antara lain Laksamana
>Yos Soedarso yg terkenal dengan Peristiwa Laut Arafuru.
>Terus penerjunan sukarelawan ke Irian Barat, antara lain
>Team Naga di bawah Mayor (waktu itu) Benny Moerdani.
>
>Karena tekanan internasional, akhirnya Belanda menyerah
>dan memberikan mandat atas Irian Barat kepada PBB sebagai
>masa peralihan. Setahun kemudian, barulah diadakan PEPERA
>(Penentuan Pendapat Rakyat). Saya kira jelas, Bung.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!