From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
>Irian Jaya kan bergabung dengan Indonesia
>setelah adanya PEPERA di bawah PBB.
Hmmm...apa bedanya dengan Jajak Pendapat Timtim waktu itu? PBB cuman
sebagai perantara saja, dengan nama UNTEA (United Nations Temporary
Executive Authority), sama dengan UNAMET. Terlepas dari netral/tidaknya,
misinya serupa. Kalau memang hasilnya waktu itu rakyat Irian Barat memilih
bergabung dengan RI, berarti memang mereka pada dasarnya mereka merasa
dirinya bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia....atau sekarang
anda ingin mengatakan bahwa UNTEA itu tidak netral, merugikan Belanda??
>Waktu proklamasi kan Irian masih di bawah Belanda, Bung.
>Segera setelah merdeka, Bung Karno mengumandangkan
>REBUT IRIAN Barat, karena Bung Karno MENGANGGAP bahwa
>Irian Barat adalah wilayah Republik Indonesia.
Waduh, nanti dulu....seperti yang saya katakan, wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia adalah bekas wilayah Hindia Belanda, termasuk Irian
Barat. Namun Revolusi Fisik dari 1945-1949 tidak memberikan kesempatan bagi
RI untuk segera mengklaim Irian Barat, antara lain karena Belanda masih
mempunyai basis kuat di situ, dengan pangkalan peninggalan Perang Dunia II
di Biak dan Hollandia. Dalam kesepekatan Konferensi Meja Bundar di Den Haag
27 Desember 1949 antara lain menentukan bahwa Belanda harus menyelesaikan
'masalah' Irian Barat dalam waktu satu tahun, sebagai kompensasinya Negara
Kesatuan Republik Indonesia diubah menjadi Republik Indonesia Serikat dan
dibentuk Uni Indonesia-Belanda. Setelah satu tahun ternyata sama-sama
mangkir, RIS kembali menjadi RI, Belanda tetap tidak menyelesaikan
'masalah' Irian Barat. Sampailah kita ke tahun 1962....
>Dibentuklah Komando Mandala di bawah komado
>Mayjen (waktu itu) Soeharto. Penyusupan pasukan
>ke wilayah Irian Barat memakan korban antara lain Laksamana
>Yos Soedarso yg terkenal dengan Peristiwa Laut Arafuru.
>Terus penerjunan sukarelawan ke Irian Barat, antara lain
>Team Naga di bawah Mayor (waktu itu) Benny Moerdani.
....sampai di sini kesabaran Bung Karno sudah habis. Waktunya tepat untuk
mengangkat isu Irian Barat ke perhatian dunia internasional, dengan
diplomasi dan ancaman aksi militer penuh. Dan ternyata Belanda juga
menantang gertakan RI dengan menyiagakan armadanya. Hancurnya KRI Macan
Tutul itu serupa dengan peristiwa Teluk Tonkin yang memicu mulainya Perang
Vietnam. Tanpa disadari patroli KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI
Harimau berpapasan dengan patroli kapal perusak dan fregat Belanda yang
(katanya) mengawal kapal perang Belanda Karel Doorman. Betapa dekatnya kita
dengan perang terbuka saat itu! Seingat saya operasi pembebasan Irian Barat
itu terdiri dari tiga tahap, tahap pertama infiltrasi komando ke
titik-titik strategis dan vital, tahap kedua penerjunan sukarelawan, dan
tahap ketiga invasi! Baru sampai tahap kedua, Belanda rupanya
mempertimbangkan pilihan lain....
>Karena tekanan internasional, akhirnya Belanda menyerah
>dan memberikan mandat atas Irian Barat kepada PBB sebagai
>masa peralihan. Setahun kemudian, barulah diadakan PEPERA
>(Penentuan Pendapat Rakyat). Saya kira jelas, Bung.
.....Belanda memang menyerah antara lain karena tekanan internasional.
UNTEA resmi beroperasi sejak Mei 1963, dengan demikian mengakhiri kekuasaan
Belanda atas Irian Barat, namun kalau tidak salah Pepera-nya sendiri baru
terlaksana tahun 1969 (gara-gara Soeharto?).
Saya sebetulnya masih tidak mengerti, mengapa kok Bung Cosmas bersikeras
bahwa Irian Barat bukan bagian dari RI? Kalau masalahnya adalah
ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat (Jakarta), saya kira itu karena
adanya diskriminasi perlakuan dari pusat ke daerah, terutama dalam hal
pemberdayaan penduduk setempat dan perimbangan keuangan, mengingat Irian
Barat kaya akan hasil bumi.
Wassalam,
Paladin A.
ICQ 50753984
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!