-----Original Message-----
From: ]
Sent: Wednesday, December 29, 1999 5:07 PM
To:
Subject:
Dear All,
Ini gosip politik militer termutakhir.
Mudah-mudahan memang hanya gosip,
walaupun beberapa fakta benar adanya.
Selamat membaca.
==========
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 47/II/26 Desember 1999 - 1 Januari 2000
------------------------------
KUDETA SETELAH LEBARAN
(PERISTIWA):
Seorang letjen Angkatan Darat buka suara. Setelah Lebaran, kelompok
Wiranto, mungkin ambil alih kekuasaan Gus Dur, lewat kudeta militer.
Jendral TNI Wiranto gusar luar biasa. Bagaimana masuk diakal, seorang
aktifis hak asasi manusia seperti Munir, yang jadi "musuh" TNI sejak
lama, akhirnya bisa menginterogasi sang jendral sebagai seorang pesakitan
dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur? Munir adalah anggota Komisi
Penyelidik Pelanggaran HAM Timor Timur. Wiranto jelas tak bisa menerima
kenyataan ini. Tak hanya Wiranto, para jendral lainnya, seperti Mayjen
TNI Zacky Anwar Makarim, mantan Kepala BIA, Mayjen TNI Sjafrie Samsoeddien,
mantan Pangdam Jaya, Mayjen TNI Adam Damiri, mantan Pangdan XI Udayana dan
Brigjen TNI Tono Suratman, mantan Komandan Korem 164/Wiradharma, Timtim.
Kegusaran Wiranto, tentu tidak diumbar oleh ia sendiri. Ia meminta
Mayjen TNI Sudrajad, Kapuspen TNI dan Pangkostrad, Letjen TNI Djadja
Suparman untuk membelanya. Dan, perintah itu dilakukan Sudrajad dan
Djadja. Dua jendral ini terus-menerus mengeluarkan pernyataan yang
bernada mengancam KPP HAM.
"Para prajurit akan marah jika jendralnya diperiksa, apalagi diseret
ke pengadilan", demikian bunyi pernyataan Sudradjad dan Dajdja. Kendati
begitu, di tubuh TNI, ada kelompok yang tidak setuju sikap Sudrajad dan
Djadja. Kelompok ini tak lain kelompok Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah,
Pangdam VII Wirabuana (baca: Kasak-kusuk Para Jenderal).
Bukan sekali ini, jendral-jendral TNI dijadikan pesakitan. Beberapa waktu
lalu, sejumlah jendral, seperti Jendral Purn TNI Benny Moerdani, Jendral
Purn TNI Faisal Tanjung, Mayjen TNI Zacky Anwar Makarim dan lain-lain
diperiksa Pansus DPR untuk kasus pelanggaran HAM di Aceh. Kini, sejumlah
jendral, termasuk Wiranto, terancam jadi tersangka di pengadilan dalam
rangkaian pembunuhan dan penghancuran di Timor Timur.
Tekanan-tekanan terhadap para jendral itulah yang menurut seorang letnan
jendral tadi, mendorong kelompok Wiranto untuk melakukan kudeta.
Soalnya, kalau tidak, para jendral yang masih memiliki pengaruh kuat di
tubuh TNI Angkatan Darat itu, akan masuk penjara yang cukup lama. Para
jendral itu, sadar bahwa tak mungkin mengelak dari tuduhan membentuk dan
mempersenjatai milisi. Mereka juga tak bisa mengelak dari fakta bahwa
sejumlah penyerangan yang menyebabkan kematian dan kehancuran, seperti
penyerangan Gereja Suai dan penyerangan rumah Uskup Belo, dilakukan oleh
pasukan TNI. Banyak saksi dan dokumen mendukung keterlibatan TNI. Bukti
paling kuat adalah penemuan mayat-mayat pembantaian pengungsi dan
pastor-pastor di Gereja Suai. Mayat-mayat itu disembunyikan dengan dikubur
di wilayah Indonesia, agar Interfet tidak menemukannya sebagai bukti.
Lagipula, Wiranto dan kawan-kawan juga menghadapi ancaman tuntutan
Mahkamah Internasional jika Sekjen PBB dan Dewan Keamanan PBB menyetujui
permintaan Komisi Tinggi HAM PBB untuk membentuk pengadilan internasional.
Pekan lalu, Rapat Polkam yang dipimpin Wiranto, sebagai Menteri Koordinator
Politik dan Keamanan, menolak mahkamah internasional dalam kasus Timor
Timur.
Memang, ini bukan keputusan Presiden Gus Dur. Keputusan yang diambil Rapat
Polkam itu juga bias, karena Wiranto yang juga tersangka dalam kasus itu,
yang ikut memutuskan penolakan itu. Penolakan semacam ini konsekuensinya
cukup berat. Indonesia bisa diisolasi dunia jika menolak menyerahkan para
tersangka ke Mahkamah Internasional. Para jendral itu bisa ditetapkan jadi
buronan Interpol dan tak bisa bepergian ke luar negeri.
Merasa kepepet, tampaknya tak ada pilihan lain bagi Wiranto dan kawan-kawan
untuk merebut kekuasaan dari Gus Dur. Kostrad, menurut sumber-sumber Xpos
sudah siap mendukung kudeta. Begitu juga Kopassus. Pangkostrad, Letjen
TNI Djadja Suparman adalah orangnya Wiranto. Djaja inilah dulu yang mengirim
pasukan dari Kodam V Brawijaya untuk mem-back-up Wiranto dari ancaman
Letjen Prabowo menjelang tergulingnya Soeharto. Djaja juga punya hutang budi
pada Wiranto karena ia diangkat jadi Pangkostrad, sebuah kedudukan yang amat
tinggi bagi perwira tinggi yang dianggap tak memiliki daya intelektual
dan prestasi apapun. Kedua unsur kuat di tubuh TNI AD itu sudah siap-siap
menunggu perintah. Katanya, setelah Lebaran, dua kesatuan itu akan
bergerak.
Nah, siapa kalangan TNI yang mendukung Gus Dur? Tentu kelompoknya Mayjen
TNI Agus Wirahadikusumah, termasuk Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu, Pangdam
Jaya. Tapi apakah kelompok ini memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan
Kopassus dan Kostrad? Tentu tidak. Kodam Jaya hanya memiliki tiga Batalyon
Infantri (di bawah Brigif 1/Jaya Sakti), satu Batalyon Armed, satu resimen
Arhanud dan dua Batayon Kaveleri. Total pasukan Kodam Jaya sekitar 10 ribu.
Lalu, Marinir berada di pihak mana? Ini masih tanda tanya, karena
keberpihakan itu tampaknya akan tergantung pada Panglima TNI Laksamana
TNI Widodo A.S. Kalau Widodo mendukung kudeta Angkatan Darat itu, Korps
Marinir akan mendukung kudeta, namun kalau tidak, pasukan khusus Angkatan
Laut ini akan bergabung dengan pasukan Mayjen Ryamizard. Korps Marinir kini
memiliki dua brigade infanteri yang terdiri dari enam batalyon infanteri.
Jumlah personilnya mencapai enam ribu hingga sembilan ribu. Kalau ditambah
batalyon kavaleri dan alteleri, pasukan pro Gus Dur bisa lebih kuat lagi.
Nah, bagaimana kekuatan Wiranto? Kostrad memiliki dua divisi, yakni
satuan tempur militer terbesar, dengan kekuatan penuh, yakni: Divisi
Infanteri 1 Kostrad (markas di Cilodong, Bogor), dan Divisi Infanteri 2
Kostrad (markas di Singosari, Malang). Divisi-divisi tersebut, selain
memiliki unsur tempur sendiri (infanteri, kavaleri dan artileri), juga
memiliki unsur bantuan tempur (Bataliyon Zeni, Bataliyon Perhubungan, dan
Bataliyon Peralatan), dan unsur bantuan administrasi sendiri (perbekalan,
angkutan, kesehatan, polisi militer, dll). Jumlah personil sebuah divisi
bisa mencapai lima belas ribu hingga duapuluh ribu. Kalau Kostrad punya
dua divisi yang bisa dikerahkan ke ibukota, tampaknya kelompok Wiranto
bisa menguasai pemerintahan. Apalagi, dengan bantuan Kopassus, pasukan
elit yang memiliki sekitar enam ribu pasukan terlatih.
=====================================
KEKUATAN PASUKAN LETJEN TNI DJADJA SUPARMAN
SATUAN INFANTERI DI BAWAH DIVISI INFANTERI 1:
1. Brigif Linud 17/Kujang I (Cijantung, Jakarta Timur),
membawahi 3 Yonif Linud:
- Yonif Linud 305/Tengkorak (Karawang);
- Yonif Linud 328/Dirgahayu (Cilodong, Bogor);
- Yonif Linud 330/Tri Dharma (Cicalengka, Bandung)
2. Brigif Linud 3 (Makasar, Sulawesi Selatan), membawahi:
- Yonif Linud 431;
- Yonif Linud 432;
- Yonif Linud 433
3. Brigif 13/Galuh (Tasikmalaya, Jawa Barat), membawahi:
- Yonif 303/Setia Sampai Mati (Garut);
- Yonif 321/Buaya Putih (Ciamis);
- Yonif 323/Galuh Taruna (Majalengka)
4. Selain satuan infanteri, juga didukung satuan lain
seperti:
- Yonkav1/Tank (Cijantung, Jaktim);
- Yon Armed 9/Pasopati (Sadang, Purwakarta);
- Yon Armed 10/Nanggala (Sukabumi);
- Yon Zipur 9/Para (Ujungberung, Bandung);
- Yon Bekang (Cibinong, Bogor);
- Yonkes (Ciluar, Bogor), dll.
SATUAN INFANTERI DI BAWAH DIVISI INFANTERI 2:
1. Brigif Linud 18/Trisula (Malang, Jawa Timur),
membawahi:
- Yonif Linud 501/Bajra Yodha (Madiun);
- Yonif Linud 502/Ujwala Yodha (Malang);
- Yonif Linud 503/Mayangkara (Mojokerto)
2. Brigif 6 (Mojolaban, Solo, Jawa Tengah), membawahi:
- Yonif 411 (Salatiga);
- Yonif 412 (Purworejo);
- Yonif 413 (Solo)
3. Brigif 9 (Jember, Jawa Timur), membawahi:
- Yonif 514 (Situbondo);
- Yonif 515 (Tanggul);
- Yonif 516 (Jember)
4. Selain satuan infanteri, juga didukung:
- Yon Zipur 10 (Pasuruan);
- Yonkav (Kepanjen, Malang);
- Yon Armed (Singosari, Malang);
- Yon Bekang (Malang), dll.
=====================================
Kekuatan Wiranto memang sulit dilawan jika benar akan terjadi kudeta atas
Gus Dur. Pasukan Mayjen Ryamizard dan Korps Marinir akan sulit menandingi
kekuatan dua divisi Kostrad plus tiga Grup Kopassus. Pagar Nusa
(kelompok silat NU) dan Banser (milisi NU) yang mungkin akan dikerahkan
untuk membantu pasukan Kodam Jaya, juga tak akan mampu melawan kekuatan
kudeta itu. Benteng terakhir Gus Dur, barangkali, ribuan jin yang konon
dimilikinya mungkin bisa dipersenjatai dengan M-16 atau AK-47, untuk bisa
menggagalkan kudeta itu.
Ya, semoga saja tidak terjadi. (
) ~#~
~#~
------------------------------------------------------------------------
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!