Saya hampir di atas 90 persen tidak percaya
kemungkinan akan adanya kudeta tersebut. Lebih-lebih
pakai nunggu lebaran segala. Jika ada kudeta, maka
detik ini juga pasti sudah jalan. Setiap aktivitas
operasi militer selalu dilakukan dengan pendadakan.
Nunggu lebaran bukan masuk kategori pendadakan. Toh
begitu, ada bagusnya waspada.

Militer sekarang beda dengan ketika diketiaki oleh
Soeharto, di mana hampir semua lini strategis
benar-benar sudah teken mati setia setiap saat
terhadap bliouw-nya. Model main incar antara komandan
dan wakilnya, dan wakilnya lagi dipasang dengan rapih,
sehingga memungkinkan gerakan para komandan yang
coba-coba mainkan langkah lain di luar skenario
Orbaniyah sudah akan tercium cepat oleh wakil, dan
wakil, dan wakil, terus sampai ke yang di bawah.
Rejeki berlebihan yang dinikmati komandan pasti
membuat ngiler para wakil yang ambisius, membuat
mereka lebih tajam mengincar komandan (atasan)
dibanding incaran mereka terhadap perusuh keamanan
yang sebenarnya. Lihat saja, mana turun gangguan
keamanan dibanding gonta-ganti komandan.

Sekarang, pengincar-pengincar bukan datang dari wakil,
tetapi datang dari rakyat banyak, yang sudah bersumpah
untuk tak mau dikadalin lagi. Ini cukup efektif,
sehingga para provokator bayaran pun rada keder untuk
macam-macam lagi. Meski sekali dua masih terjadi.

Juga, pemikir-pemikir reformatif pun sudah bertebaran
di seantero lini militer. Bagaimana Djadja mau
macam-macam, kalau Pangdam-nya adalah Ryamizad?
Taruhlah kekuatan Kostrad semua tunduk sama Djadja,
termasuk Kopassus, Pangdam pasti mendapat backup dari
Marinir, Paskhas, dan jangan remehkan satuan-satuan
non-komando yang dimiliki oleh TNI-AL dan TNI-AU. Itu
dari militer. Sementara dari non-militer juga tak
kalah kuat. Sebut Banser atau Satgas PDI-Perjuangan.

Saat ini, sekedar mengincar keuntungan sesaat rasanya
sudah bukan kebiasaan lagi. Beda dengan era Orba
sebelumnya, yang demi keuntungan sesaat mereka rela
sekali untuk menjungkalkan kawan seiring. Resikonya
besar sekali, selain negeri yang masih terpalut krisis
dan butuh sokongan dari luar, juga menjadi pemerintah
dalam kondisi super bobrok seperti saat ini bukan
keadaan ideal yang bisa membuat ngiler. Lebih-lebih
jika yang melakukannya adalah faksi militer, yang
seantero dunia rasanya sudah mencibir. Sebuah bunuh
diri, namanya.

Yang paling aku kuatirkan bukanlah kudeta benar-benar,
tetapi adalah upaya menggoyang kredibilitas pemerintah
dengan menciptakan sejumlah kerusuhan, yang kualitas
kengeriannya bukan main-main. Bukan sekedar
jambret-jambretan belaka, tetapi model bunuh-bunuhan
dengan jumlah mati yang lumayan banyak.

Jadi ?

Diperlukan aktivitas intelijen dengan intensitas
tinggi untuk bisa memantau tiap gerakan, dan
mematahkan kegiatan tersebut sebelum benar-benar
parah, dan jangan lupa ungkap siapa mereka ini sebenarnya.

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com

-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke