Informasi Bung Cosmas ini menaril.

Namun, kalau kita melihat realita sekarang dan seandainya niat
itu benar ada, kudeta milier adalah sebuah kebodohan yang amat
sangat mahal harganya yang tidak mungkin tertandingi oleh
kesalahan baik Soeharto, Soeharto, maupun Habibie.

Saya mungkin saja salah, namun bagaimanapun emosi para perwira
itu, mereka bagamanapun juga masih mempunyai otak yang bisa
digunakan untuk berpikir. Janganlah bandingkan mereka dengan para
jendral dari Pantai Gading atau Pakistan. Saya pikir, sangatlah
naif kalau lingkungan masyarakat, lingkungan regional Asean,
serta masa lalu sejarah bangsa ini disamakan dengan kedua negara
yang para jendralnya baru saja melakukan kudeta itu.

Meskipun demikian,  Informasi Bung Cosmas ini bagaimanapun juga
merupakan jenis informasi imperfect  yang saya nilai memiliki
peluang benar > 50% dan peluang salah< 50% . Artinya resiko kita
untuk mempercayai lebih kecil..

Mengingat informasi ini menyebut pula asal satuan-satuan
pendukung dan markasnya, maka bagaimana kalau ada kelompok
masyarakat yang kemudian bereaksi lebih dahulu dan kemudian
militer bereaksi?  Siapa yang akan memetik keuntungan dari
kemungkinan kekacauan itu? Apa tujuannya?

Saya pikir sebagian besar bangsa ini sudah bosan dengan kekacauan
yang tak kunjung usai. Kekuatan mahasiswa dan rakyat terutama di
Jakarta sebagai pusat kekuasaan jangan diabaikan. Kita sudah
menyaksikan bagaimana kekokohan Soeharto beserta komando
militernya yang solid dan tidak pernah diimpikan bisa dirobohkan.
Oleh karena itu, hanya mereka militer yang berpikir picik dan
sempit serta bodoh yang mungkin melakukan kudeta di Indonesia.

Duh... Gusti............. ((sambil menghela nafas panjang karena
memikirkan (lagi-lagi) rakyat kecil yang tidak mampu yang akan
menjadi korban pertama kali))


----- Original Message -----
From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
To: 'Kuli Tinta' <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 01 January 2000 18:15
Subject: [Kuli Tinta] FW:KUDETA SETELAH LEBARAN




-----Original Message-----
From: ]
Sent: Wednesday, December 29, 1999 5:07 PM
To:
Subject:

Dear All,

Ini gosip politik militer termutakhir.
Mudah-mudahan memang hanya gosip,
walaupun beberapa fakta benar adanya.
Selamat membaca.

==========
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 47/II/26 Desember 1999 - 1 Januari 2000
------------------------------

KUDETA SETELAH LEBARAN

(PERISTIWA):

Seorang letjen Angkatan Darat buka suara. Setelah Lebaran,
kelompok
Wiranto, mungkin ambil alih kekuasaan Gus Dur, lewat kudeta
militer.
Jendral TNI Wiranto gusar luar biasa. Bagaimana masuk diakal,
seorang
aktifis hak asasi manusia seperti Munir, yang jadi "musuh" TNI
sejak
lama, akhirnya bisa menginterogasi sang jendral sebagai seorang
pesakitan
dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur? Munir adalah anggota
Komisi
Penyelidik Pelanggaran HAM Timor Timur. Wiranto jelas tak bisa
menerima
kenyataan ini. Tak hanya Wiranto, para jendral lainnya, seperti
Mayjen
TNI Zacky Anwar Makarim, mantan Kepala BIA, Mayjen TNI Sjafrie
Samsoeddien,
mantan Pangdam Jaya, Mayjen TNI Adam Damiri, mantan Pangdan XI
Udayana dan
Brigjen TNI Tono Suratman, mantan Komandan Korem 164/Wiradharma,
Timtim.

Kegusaran Wiranto, tentu tidak diumbar oleh ia sendiri. Ia
meminta
Mayjen TNI Sudrajad, Kapuspen TNI dan Pangkostrad, Letjen TNI
Djadja
Suparman untuk membelanya. Dan, perintah itu dilakukan Sudrajad
dan
Djadja. Dua jendral ini terus-menerus mengeluarkan pernyataan
yang
bernada mengancam KPP HAM.
"Para prajurit akan marah jika jendralnya diperiksa, apalagi
diseret
ke pengadilan", demikian bunyi pernyataan Sudradjad dan Dajdja.
Kendati
begitu, di tubuh TNI, ada kelompok yang tidak setuju sikap
Sudrajad dan
Djadja. Kelompok ini tak lain kelompok Mayjen TNI Agus
Wirahadikusumah,
Pangdam VII Wirabuana (baca: Kasak-kusuk Para Jenderal).

Bukan sekali ini, jendral-jendral TNI dijadikan pesakitan.
Beberapa waktu
lalu, sejumlah jendral, seperti Jendral Purn TNI Benny Moerdani,
Jendral
Purn TNI Faisal Tanjung, Mayjen TNI Zacky Anwar Makarim dan
lain-lain
diperiksa Pansus DPR untuk kasus pelanggaran HAM di Aceh. Kini,
sejumlah
jendral, termasuk Wiranto, terancam jadi tersangka di pengadilan
dalam
rangkaian pembunuhan dan penghancuran di Timor Timur.

Tekanan-tekanan terhadap para jendral itulah yang menurut seorang
letnan
jendral tadi, mendorong kelompok Wiranto untuk melakukan kudeta.
Soalnya, kalau tidak, para jendral yang masih memiliki pengaruh
kuat di
tubuh TNI Angkatan Darat itu, akan masuk penjara yang cukup lama.
Para
jendral itu, sadar bahwa tak mungkin mengelak dari tuduhan
membentuk dan
mempersenjatai milisi. Mereka juga tak bisa mengelak dari fakta
bahwa
sejumlah penyerangan yang menyebabkan kematian dan kehancuran,
seperti
penyerangan Gereja Suai dan penyerangan rumah Uskup Belo,
dilakukan oleh
pasukan TNI. Banyak saksi dan dokumen mendukung keterlibatan TNI.
Bukti
paling kuat adalah penemuan mayat-mayat pembantaian pengungsi dan
pastor-pastor di Gereja Suai. Mayat-mayat itu disembunyikan
dengan dikubur
di wilayah Indonesia, agar Interfet tidak menemukannya sebagai
bukti.

Lagipula, Wiranto dan kawan-kawan juga menghadapi ancaman
tuntutan
Mahkamah Internasional jika Sekjen PBB dan Dewan Keamanan PBB
menyetujui
permintaan Komisi Tinggi HAM PBB untuk membentuk pengadilan
internasional.
Pekan lalu, Rapat Polkam yang dipimpin Wiranto, sebagai Menteri
Koordinator
Politik dan Keamanan, menolak mahkamah internasional dalam kasus
Timor
Timur.
Memang, ini bukan keputusan Presiden Gus Dur. Keputusan yang
diambil Rapat
Polkam itu juga bias, karena Wiranto yang juga tersangka dalam
kasus itu,
yang ikut memutuskan penolakan itu. Penolakan semacam ini
konsekuensinya
cukup berat. Indonesia bisa diisolasi dunia jika menolak
menyerahkan para
tersangka ke Mahkamah Internasional. Para jendral itu bisa
ditetapkan jadi
buronan Interpol dan tak bisa bepergian ke luar negeri.

Merasa kepepet, tampaknya tak ada pilihan lain bagi Wiranto dan
kawan-kawan
untuk merebut kekuasaan dari Gus Dur. Kostrad, menurut
sumber-sumber Xpos
sudah siap mendukung kudeta. Begitu juga Kopassus. Pangkostrad,
Letjen
TNI Djadja Suparman adalah orangnya Wiranto. Djaja inilah dulu
yang mengirim
pasukan dari Kodam V Brawijaya untuk mem-back-up Wiranto dari
ancaman
Letjen Prabowo menjelang tergulingnya Soeharto. Djaja juga punya
hutang budi
pada Wiranto karena ia diangkat jadi Pangkostrad, sebuah
kedudukan yang amat
tinggi bagi perwira tinggi yang dianggap tak memiliki daya
intelektual
dan prestasi apapun. Kedua unsur kuat di tubuh TNI AD itu sudah
siap-siap
menunggu perintah. Katanya, setelah Lebaran, dua kesatuan itu
akan
bergerak.

Nah, siapa kalangan TNI yang mendukung Gus Dur? Tentu kelompoknya
Mayjen
TNI Agus Wirahadikusumah, termasuk Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu,
Pangdam
Jaya. Tapi apakah kelompok ini memiliki kekuatan yang cukup untuk
melawan
Kopassus dan Kostrad? Tentu tidak. Kodam Jaya hanya memiliki tiga
Batalyon
Infantri (di bawah Brigif 1/Jaya Sakti), satu Batalyon Armed,
satu resimen
Arhanud dan dua Batayon Kaveleri. Total pasukan Kodam Jaya
sekitar 10 ribu.

Lalu, Marinir berada di pihak mana? Ini masih tanda tanya, karena
keberpihakan itu tampaknya akan tergantung pada Panglima TNI
Laksamana
TNI Widodo A.S. Kalau Widodo mendukung kudeta Angkatan Darat itu,
Korps
Marinir akan mendukung kudeta, namun kalau tidak, pasukan khusus
Angkatan
Laut ini akan bergabung dengan pasukan Mayjen Ryamizard. Korps
Marinir kini
memiliki dua brigade infanteri yang terdiri dari enam batalyon
infanteri.
Jumlah personilnya mencapai enam ribu hingga sembilan ribu. Kalau
ditambah
batalyon kavaleri dan alteleri, pasukan pro Gus Dur bisa lebih
kuat lagi.

Nah, bagaimana kekuatan Wiranto? Kostrad memiliki dua divisi,
yakni
satuan tempur militer terbesar, dengan kekuatan penuh, yakni:
Divisi
Infanteri 1 Kostrad (markas di Cilodong, Bogor), dan Divisi
Infanteri 2
Kostrad (markas di Singosari, Malang). Divisi-divisi tersebut,
selain
memiliki unsur tempur sendiri (infanteri, kavaleri dan artileri),
juga
memiliki unsur bantuan tempur (Bataliyon Zeni, Bataliyon
Perhubungan, dan
Bataliyon Peralatan), dan unsur bantuan administrasi sendiri
(perbekalan,
angkutan, kesehatan, polisi militer, dll). Jumlah personil sebuah
divisi
bisa mencapai lima belas ribu hingga duapuluh ribu. Kalau Kostrad
punya
dua divisi yang bisa dikerahkan ke ibukota, tampaknya kelompok
Wiranto
bisa menguasai pemerintahan. Apalagi, dengan bantuan Kopassus,
pasukan
elit yang memiliki sekitar enam ribu pasukan terlatih.

=====================================
KEKUATAN PASUKAN LETJEN TNI DJADJA SUPARMAN

SATUAN INFANTERI DI BAWAH DIVISI INFANTERI 1:

1. Brigif Linud 17/Kujang I (Cijantung, Jakarta Timur),
   membawahi 3 Yonif Linud:
   - Yonif Linud 305/Tengkorak (Karawang);
   - Yonif Linud 328/Dirgahayu (Cilodong, Bogor);
   - Yonif Linud 330/Tri Dharma (Cicalengka, Bandung)

2. Brigif Linud 3 (Makasar, Sulawesi Selatan), membawahi:
   - Yonif Linud 431;
   - Yonif Linud 432;
   - Yonif Linud 433

3. Brigif 13/Galuh (Tasikmalaya, Jawa Barat), membawahi:
   - Yonif 303/Setia Sampai Mati (Garut);
   - Yonif 321/Buaya Putih (Ciamis);
   - Yonif 323/Galuh Taruna (Majalengka)

4. Selain satuan infanteri, juga didukung satuan lain
   seperti:
   - Yonkav1/Tank (Cijantung, Jaktim);
   - Yon Armed 9/Pasopati (Sadang, Purwakarta);
   - Yon Armed 10/Nanggala (Sukabumi);
   - Yon Zipur 9/Para (Ujungberung, Bandung);
   - Yon Bekang (Cibinong, Bogor);
   - Yonkes (Ciluar, Bogor), dll.

SATUAN INFANTERI DI BAWAH DIVISI INFANTERI 2:

1. Brigif Linud 18/Trisula (Malang, Jawa Timur),
   membawahi:
   - Yonif Linud 501/Bajra Yodha (Madiun);
   - Yonif Linud 502/Ujwala Yodha (Malang);
   - Yonif Linud 503/Mayangkara (Mojokerto)

2. Brigif 6 (Mojolaban, Solo, Jawa Tengah), membawahi:
   - Yonif 411 (Salatiga);
   - Yonif 412 (Purworejo);
   - Yonif 413 (Solo)

3. Brigif 9 (Jember, Jawa Timur), membawahi:
   - Yonif 514 (Situbondo);
   - Yonif 515 (Tanggul);
   - Yonif 516 (Jember)

4. Selain satuan infanteri, juga didukung:
   - Yon Zipur 10 (Pasuruan);
   - Yonkav (Kepanjen, Malang);
   - Yon Armed (Singosari, Malang);
   - Yon Bekang (Malang), dll.

=====================================

Kekuatan Wiranto memang sulit dilawan jika benar akan terjadi
kudeta atas
Gus Dur. Pasukan Mayjen Ryamizard dan Korps Marinir akan sulit
menandingi
kekuatan dua divisi Kostrad plus tiga Grup Kopassus. Pagar Nusa
(kelompok silat NU) dan Banser (milisi NU) yang mungkin akan
dikerahkan
untuk membantu pasukan Kodam Jaya, juga tak akan mampu melawan
kekuatan
kudeta itu. Benteng terakhir Gus Dur, barangkali, ribuan jin yang
konon
dimilikinya mungkin bisa dipersenjatai dengan M-16 atau AK-47,
untuk bisa
menggagalkan kudeta itu.
Ya, semoga saja tidak terjadi. (
) ~#~
~#~




-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke