On Mon, 14 Feb 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:

> KKN tak langsung, saya tak tahu. Dan sama sekali tak
> terpikir untuk mencari tahu. Gaji yang saya terima
> saya nilai seimbang dengan pekerjaan yang saya lakukan
> (mestinya kurang). Alhamdulilah, yang saya kerjakan
> benar-benar tak bakal dekat dengan urusan yang serba
> KKN tersebut. Untuk menambal kekurangan gaji saya,
> maka di rumah saya jual pecel. Kalau yang begini masih
> dibilang KKN, entahlah....

WAM:
Anda sendiri yang mengatakan, di posting sebelumnya, bahwa anda nggak
berani pakai nama asli karena kaitan antara  pekerjaan anda dengan orang
tertentu (yang sering anda kritik?). Lha kalau memang anda
tidak ada urusan dengan _penguasa_ saat lalu, baca keluarga Cendana, buat
apa anda merasa takut? 

Tahun 94-95, saya dan kawan-kawan di kantor berani _menendang_ orang yang
bawa-bawa nama presiden. Kok ya nggak apa-apa?

> Gigih :
> 
> Ijinkan saya tetap mempertahankan sikap saya soal
> ketakutan saya tersebut. Nama Gigih sudah dimulai
> ketika ketakutan memang sudah wajar dipakai, lebih
> dari 5-6 tahu silam. Saya pikir gila (ketika itu)
> kalau berani mengusik keluarga tertentu, meski semua
> tahu.

WAM:
Saya tidak merasa gila ketika _mendepak_ (baca keterangan di atas) orang
yang petentengan di kantor saya dengan membawa-bawa nama presiden. Kami,
saya dan kawan-kawan, justru merasa tertantang untuk melakukan hal itu.
Sekedar menunjukan kami bukan pengecut yang mundur ditakut-takuti nama
presiden. Kami dididik untuk mengatakan A itu A. 

> Gigih :
 
> Tak pernah sekalipun saya menulis yang tak benar. Saya
> bertahan untuk tak mencampuri beberapa posting
> tertentu, hanya karena tak cukup fakta yang saya
> miliki.

WAM:
Terserah sampeyan ae lah cak. Wong sampeyan bohong di tempat lain juga
saya nggak tahu.
 
> Gigih :
 
> Anda pemberani. Saya kagum. Hikam pasti tak akan
> memecat Anda. Anda adalah asset bagi BPPT. Jangan
> ikut-ikutan penakut seperti saya.

WAM:
Apa hubungannya Hikam dengan  saya?
Look, saya menulis ini pada jam istirahat.
Lagian, mana sempat menteriku baca yang beginian?
Yang jelas, saya pernah mengeritik Hikam di koran.
Pakai nama asli, lengkap dengan identitas sebagai pegawai BPPT.
Nuansa demokrasi sudah lama terbangun di BPPT, cak. Jadi, jangan salahkan
kalau saya sering bicara terlalu liberal.
Saya tanya, di kantor mana ada direktur dipilih oleh anak buahnya?
Suasana egalitarian sudah lama dirasakan di kantor saya.
 
> Gigih :
 
> Kalau masih ada, coba arsipnya diperiksa. Sama sekali
> saya tak menegur WAM, cuma Jarodh saja, yang memaki
> 'bukan orang'. Perkara nama Pabu Sacilat, yang saya
> juga baru tahu kalau arinya Asu Bajingan, bagi saya,
> tak soal benar. Wong nama samaran, mau milih yang elek
> atau bagus, terserah yang milih. Saya memilih Gigih
> karena julukan itulah yang diberikan oleh almarhum ibu
> saya.

WAM:
Saya tidak selalu sependapat bahwa nama tidak berarti apa-apa.
Sangat berarti, mbah. Apalagi kalau namanya memang ngasur sekali.
Masih bagus kalau cuma Gigih. Kalau Pabu? Mau po, tak panggil Pabu?
Aku sih enggak mau.
 
> Gigih :
 
> Terimakasih. Untuk sekedar nama, dan di milis, saya
> rela munafik. Lebih-lebih kalau yang bilang 'cuma'
> seorang WAM. Beberapa sahabat lebih suka memakai nama
> Gigih meski mereka tahu siapa saya sebenarnya. ya tak
> masalah...
 
> Masih kurang ?

WAM:
Kurang. Pecel-e. Ciao, mbah.
 


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke