Biasa mbah, ngarit. Habis kalau dua minggu nggak ngarit, cempe-nya pada
bengok bengok.
Ngeliat sendiri? Ya iya to mBah. Kalau tidak kan pitenah namanya. Itu lho
mBah, orang mbukak bagasi E-320, lha kok isinya abang mbranang, tur penuh,
masih iketan. Sipoa dikepalaku sempat ngitung, kalau duwit segitu dikasihkan
aku semua, kira kira bisas menghidupi orang berapa kampung berapa ketrurunan
gitu.
Nggrantes mBah, tetapi musti tetap jaga performance, jadi aku senyum saja
seolah nggak ada yang istimewa.
Kira kira ya bangsanya: bibirnya merekah, hatinya patah. Padahal nggak cuma
patah mBah, remuk redam!!!
Ya syukurlah, setelah dua dekade saya tulis, dan waktu itu aku digendeng
gendengkan, ternyata sekarang multi-scale system dalam penggajian PNS
katanya mau diterapkan.Padahal, walaupun lebih maju dari mono scale system
yang berlaku sekarang, konsep itu sudah dilupakan bahkan oleh penulisnya
sendiri. Sekarang mungkin masih diajarkan difakultas Ekonomi yang nggak up
date.
Biarlah saya menunggu, mungkin masih menangi, suatu ketika pegawai boleh
menentukan gajinya sendiri, jam kerjanya sendiri, scope dan jenis tugasnya
sendiri, seragamnya sendiri, dan segala sesuatunya sendiri sebagai
penghargaan bahwa pada dasarnya mereka masing masing adalah the responsible
adult. Ini konsep yang sudah berumur 17 tahun, tetapi masih banyak yang
menyangsikannya. Tetapi ditempat saya, konsep ini jalan dengan mulusnya.
Teman teman dan saya yakin, inilah cara produktip pemberantasan sifat
kekanak kanakan pegawai, termasuk sifat suka ngutil alias korupsi. Jalan
masih panjang mBah, dan mungkin nggak banyak yang sampai keujung.
yap
----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, April 05, 2000 5:12 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amplop"isme" dan Moralitas WartawanMENTAL
> wuiik... kemana aja koh?
> lha kok kini gaya postingnya ketularan wojosetanan? (^o^)
>
> terus itu amplop.. eh, karung berisi ember-ember itu pernah
> ngelihat sendiri to? hahaha... mbok aku dikasih tahu caranya
> biar dapat ember. biar saja sekarang orang pada cari T
> (timba = ember juga kan?)... aku pengen juga keguyur ember
> haaa.
>
> tentang pegawai negeri ber-jaguar atau ber-panther sampai
> perlu kandhang biar nggak berantem mah biarin. soalnya,
> kemarin kan aku diundang oleh [EMAIL PROTECTED], yang
> sudah tak reply undangannya, eee dapat lagi undangan.
> tak biarin. habis dalam undangannya ada permintaan buat
> mengirimken kesaksian-2 korupsi je? tak biarin, wong sudah
> terbukti nyata. ya kayak cerita koh yap tentang jaguar itu.
>
> walaupun, misalnya, PNS itu jenjangnya ditinggikan sampai
> 10 skala, nggak bakalan deh mampu beli juguar atau panther,
> sampai lengkap dengan kandang-kandangnya. belum kehidupan
> keseharian (misalnya kaya ceritaku dulu tentang sekolah putra-
> putrinya yang ngefavorite). yang beginian ini kan sudah bukti
> nyata tapi tak dapat dibuktikan... hahahaaaaa..
>
> dan kiranya kondisi ini yang mampu membuat jurang-jurang
> pemisah kaya-miskin, pejabat-jelata dll. sehingga begitu faham
> yang inginnya mengingkari kelas-kelas itu ditiupkan oleh kyai
> presiden, sibuk lah semua... hahahaa.... ngelamon dikit boleh
> kan?
> asal nggak nglamong aja... (lamong = gendheng; lamongan =
> gendhengan, deketnya njombang...)
>
> salam,
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!