biarin memperkosa judul. diganti dengan satu kata GURU!

koh,
hari ini aku terkejut, menerima posting dengan header PRESS.
tak kira mulai ada sweeping dari kalangan press eh salah pers ya?
atas netter's-2 ndugal. namun setelah membaca ada kata-kata
"ngarit", nggak jadi tuh terkejutnya. malah pindah ke artikel berita
di suaramerdeka.com yang secara acak tak comot begini,
---------------
Para pahlawan tanpa tanda jasa itu bahkan mengancam akan mogok
mengajar dan memboikot EBTA dan ebtanas, jika pemerintah dan DPR tak
memperhatikan nasib mereka yang masih terlunta-lunta.
Setelah berorasi dan aksi humor, antara lain seorang guru menaiki
sepeda dengan memboncengkan rekan seprofesi yang berpakaian anak SD,
wakil mereka diterima Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar.
----------------
sampai dlongop aku.
lha kok begitu sih ya dunia per-guru-an kita sekarang ini.
maklum aku ini termasuk anak-cucu kaum guru itu. yang dulu
begitu terhormatnya, sehingga mendapat sebutan kebangsawanan
DEN, jadi entah bagaimanapun asalnya, begitu ketahuan menjadi
guru, langsung dipanggil DEN GURU. (sering juga buat nakut-nakutin
anak kecil bila rewel..."awas didukani den guru lho, kalau rewel...."
hehehe...).

terkejut aku,
karena kemarin ada kabar bahwa banyak professor juga protes.
mempermasalahkan tunjangan fungsionalnya yang katanya minim.
(padahal berfungsinya professor sekarang ini kan minim juga ya?
paling ke kampus seminggu 2-3 kali seminggu, terus kalau ngajar
mirip mesin fotokopi. mentransfer ngelmunya orang lain, yang
kadang-kadang usianya jauuuh lebih muda dari beliau-2. atau
malah nyambi jadi politikus, pengamat, penulis amatiran dll)
jadi, terkejutnya daku kala itu.. lho kok nggak pada nggrayangi
githok sendiri (meraba tengkuk sendiri). atau takut kalau tahu
bahwa tengkuknya banyak "daki" dan "kurap" penyalahgunaan
professi? ndak tahu aku.

sekarang benar-benar terpana dan nggrantes.
sementara pahlawan tanpa tanda jasa sibuk mendemo kebijakan
pemerintah.... rupanya banyak "pahlawan tak berjasa" malah
sibuk meramaikan urusan. (termasuk daku..... hehehee..)

tapi juga senang,   lho? habisnya, dasar guru-guru yang sering
gurudukan. lha menyampaikan keluhan mengenaskan kok
masih sempat-sempatnya "ngelawak" hehee.... kan jadi segar
ya, koh?
juga senang, karena aku punya alasan, seandainya nanti diprotes
oleh khalayak... "heee... guru soeloyo.... kenapa anak didikmu
mejen semua... membleh kaya krupuk udang dicelup rawon semua?"
kan aku jadi punya alasan: "perbaiki dulu dong nasib gurunya...
sebelum
mempertanyakan mutu hasil didikannya... " hahahaa...

salam,

-----------------------------------------------------
Soelojo
moderator ML JOWO WOJOSETO
[EMAIL PROTECTED]
http://io.spaceports.com/~wojoseto/index.html
http://www.alladvantage.com/go.asp?refid=DTG850


----- Original Message -----
From: Press <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, April 11, 2000 10:11 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amplop"isme" dan Moralitas WartawanMENTAL


Biasa mbah, ngarit. Habis kalau dua minggu nggak ngarit, cempe-nya
pada
bengok bengok.

Ngeliat sendiri? Ya iya to mBah. Kalau tidak kan pitenah namanya. Itu
lho
mBah, orang mbukak bagasi E-320, lha kok isinya abang mbranang, tur
penuh,
masih iketan. Sipoa dikepalaku sempat ngitung, kalau duwit segitu
dikasihkan
aku semua, kira kira bisas menghidupi orang berapa kampung berapa
ketrurunan
gitu.
Nggrantes mBah, tetapi musti tetap jaga performance, jadi aku senyum
saja
seolah nggak ada yang istimewa.
Kira kira ya bangsanya: bibirnya merekah, hatinya patah. Padahal nggak
cuma
patah mBah, remuk redam!!!

Ya syukurlah, setelah dua dekade saya tulis, dan waktu itu aku
digendeng
gendengkan, ternyata sekarang multi-scale system dalam penggajian PNS
katanya mau diterapkan.Padahal, walaupun lebih maju dari mono scale
system
yang berlaku sekarang, konsep itu sudah dilupakan bahkan oleh
penulisnya
sendiri. Sekarang mungkin masih diajarkan difakultas Ekonomi yang
nggak up
date.

Biarlah saya menunggu, mungkin masih menangi, suatu ketika pegawai
boleh
menentukan gajinya sendiri, jam kerjanya sendiri, scope dan jenis
tugasnya
sendiri, seragamnya sendiri, dan segala sesuatunya sendiri sebagai
penghargaan bahwa pada dasarnya mereka masing masing adalah the
responsible
adult. Ini konsep yang sudah berumur 17 tahun, tetapi masih banyak
yang
menyangsikannya. Tetapi ditempat saya, konsep ini jalan dengan
mulusnya.
Teman teman dan saya yakin, inilah cara produktip pemberantasan sifat
kekanak kanakan pegawai, termasuk sifat suka ngutil alias korupsi.
Jalan
masih panjang mBah, dan mungkin nggak banyak yang sampai keujung.

yap

----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, April 05, 2000 5:12 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amplop"isme" dan Moralitas WartawanMENTAL


> wuiik... kemana aja koh?
> lha kok kini gaya postingnya ketularan wojosetanan? (^o^)
>
> terus itu amplop.. eh, karung berisi ember-ember itu pernah
> ngelihat sendiri to? hahaha... mbok aku dikasih tahu caranya
> biar dapat ember. biar saja sekarang orang pada cari T
> (timba = ember juga kan?)... aku pengen juga keguyur ember
> haaa.
>
> tentang pegawai negeri ber-jaguar atau ber-panther sampai
> perlu kandhang biar nggak berantem mah biarin. soalnya,
> kemarin kan aku diundang oleh [EMAIL PROTECTED], yang
> sudah tak reply undangannya, eee dapat lagi undangan.
> tak biarin. habis dalam undangannya ada permintaan buat
> mengirimken kesaksian-2 korupsi je? tak biarin, wong sudah
> terbukti nyata. ya kayak cerita koh yap tentang jaguar itu.
>
> walaupun, misalnya, PNS itu jenjangnya ditinggikan sampai
> 10 skala, nggak bakalan deh mampu beli juguar atau panther,
> sampai lengkap dengan kandang-kandangnya. belum kehidupan
> keseharian (misalnya kaya ceritaku dulu tentang sekolah putra-
> putrinya yang ngefavorite). yang beginian ini kan sudah bukti
> nyata tapi tak dapat dibuktikan... hahahaaaaa..
>
> dan kiranya kondisi ini yang mampu membuat jurang-jurang
> pemisah kaya-miskin, pejabat-jelata dll. sehingga begitu faham
> yang inginnya mengingkari kelas-kelas itu ditiupkan oleh kyai
> presiden, sibuk lah semua... hahahaa.... ngelamon dikit boleh
> kan?
> asal nggak nglamong aja... (lamong = gendheng; lamongan =
> gendhengan, deketnya njombang...)
>
> salam,



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke