Bung Indra, saya tidak dalam posisi membela Gus Dur. Tetapi jujur saja saya
sangat hormat kepadanya.
Agar ekonomi islam bisa keluar, promoted, dan dikenal semua orang, ya setiap
orang yang merasa dirinya islam melaksanakannya, mengimplementasikan sesuai
konsepnya, tanpa perlu gembar gembor atau ngusilin orang lain.

Lihat nggak betapa indahnya kemenangan Schumy atas Hakinen kemarin?
Sampai lap ke 42 (dari 62 laps) dia masih follower, tetapi dengan strategi
sederhana melambatkan second pitstop dengan 2 laps setelah Hakinen, dia tak
terkejar sampai finish. Apa point-nya? Schumy selalu berpikir dan bertindak
produktif, penuh percaya diri dan konsisten melaksanakan keyakinannya.
Dukungan dari timnya memang hebat, tetapi penentunya kan dia juga.
Dia memenangkan lomba dan simpati dunia sekaligus. Fantastis!!!

Islam, katanya disini dianut lebih dari 150 juta orang. Kalau semuanya
menjalankan butir demi butir dari 6666 ayat itu plus meneladani hadist
Rosulullah, Insya Allah yang Anda ragukan itu akan terjadi dengan mudahnya.
Ibarat racing, disini Islam start paling depan, dengan engine paling besar,
dengan dukungan super team paling hebat. Jadi ya PD ajalah melaju, lakukan
amalan nyata. Bukan malah penuh kekhawatiran, curiga, berantem sesamanya
atau over acting yang sangat kontra produktip.
Nggak perlu risau apa strategi GD, karena GD hanya salah satu dari umat
islam. GD hanyalah salah satu kontributor. Yang lain kan sama sebagai
kalifah juga dimuka dunia. Ya marilah semua berlomba melakukan kebajikan.

Ibda bi nafsika. Mulailah dari dirimu sendiri. Jangan cuma tolah toleh,
nunggu instruksi, atau sibuk mendorong orang lain melakukan, atau menunggu
orang lain melakukan. Ngapain?

Nah kalau ditanya, melakukan apa? Ada 3, ya 3 saja dululah. Pertama,
Itaqulloha hai suma quntum. Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada. Kedua,
wa atbihis sayih atal hasanah, tamhoha. Dan bila kamu melakukan sesuatu yang
kurang baik, segeralah lakukan kebaikan, semoga dapat mengurangi kekurang
baikan itu. Ketiga, wa cholichin naas sabichuluchin hazaniin. Dan
pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Sudah gitu aja dulu, nggak usah muluk muluk. Kalau makin banyak yang bisa
melakukan itu, saya kira nggak perlu Tap Tap-an, Islam dan pemeluknya akan
dihormati keberadaannya diseluruh dunia.

Saya pikir cukup jelaslah bahwa yang pertama kita diperintahkan memahami dan
mengimplementasikan secara utuh konsepsi Islam. Mengimplementasikan sesuai
dengan konsep aslinya, bukan dipreteli, atau dicomot bagian yang disukai
saja. Yang kedua adalah konsep yang sekarang dikenal dengan Kaizen atau the
continuous improvement. Nggak perlu penjelasan, karena sudah sangat
terkenal. Yang ketiga kita diminta tidak minder tetapi juga tidak over
acting. Nah kalau setiap orang Islam berperilaku begitu maka jadilah Islam
sebagai rahmat seluruh alam (Rachmatan lil alamin).

Apa dengan begini perlu takut komunis, kapitalis, imperialis, fasis dan
lainnya? Apa memang perlu memusuhi pemeluk agama lain? Itu kan cuma masalah
waktu, kapan seseorang akan memperoleh hidayah. Gitu aja kok repot.

yap
(PD aja lagiiii...)

Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: Indra Bayu <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, 12 April 2000 10:26 WIB
Subject: RE: [Kuli Tinta] Pengulangan (Menghargai perbedaan)


> Masalahnya bung Yap, GD yang selalu anda puja-puji itu, nampaknya jenis
yang
> tidak rela kalau islam harus dihadapkan dengan isme2x bikinan manusia.
Jadi
> bagaimana ekonomi islam bisa keluar, promoted, dan dikenal semua orang?
Atau
> menurut anda saya aja yang bodo nggak bisa melihat strategi jangka
> panjangnya GD? Strategi yang manakah itu?
>



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke