Saya baru tersadar... Benar juga ya... Bung Yap. Kemungkinan besar disinilah letak masalah itu. Ini sungguh merupakan pernyataan yang sangat reflektif bagi yang mau berefleksi. ----- Original Message ----- From: Yap <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, April 12, 2000 8:25 PM Subject: Re: [Kuli Tinta] Pengulangan (Menghargai perbedaan) Bung Indra, saya tidak dalam posisi membela Gus Dur. Tetapi jujur saja saya sangat hormat kepadanya. Agar ekonomi islam bisa keluar, promoted, dan dikenal semua orang, ya setiap orang yang merasa dirinya islam melaksanakannya, mengimplementasikan sesuai konsepnya, tanpa perlu gembar gembor atau ngusilin orang lain. Lihat nggak betapa indahnya kemenangan Schumy atas Hakinen kemarin? Sampai lap ke 42 (dari 62 laps) dia masih follower, tetapi dengan strategi sederhana melambatkan second pitstop dengan 2 laps setelah Hakinen, dia tak terkejar sampai finish. Apa point-nya? Schumy selalu berpikir dan bertindak produktif, penuh percaya diri dan konsisten melaksanakan keyakinannya. Dukungan dari timnya memang hebat, tetapi penentunya kan dia juga. Dia memenangkan lomba dan simpati dunia sekaligus. Fantastis!!! Islam, katanya disini dianut lebih dari 150 juta orang. Kalau semuanya menjalankan butir demi butir dari 6666 ayat itu plus meneladani hadist Rosulullah, Insya Allah yang Anda ragukan itu akan terjadi dengan mudahnya. Ibarat racing, disini Islam start paling depan, dengan engine paling besar, dengan dukungan super team paling hebat. Jadi ya PD ajalah melaju, lakukan amalan nyata. Bukan malah penuh kekhawatiran, curiga, berantem sesamanya atau over acting yang sangat kontra produktip. Nggak perlu risau apa strategi GD, karena GD hanya salah satu dari umat islam. GD hanyalah salah satu kontributor. Yang lain kan sama sebagai kalifah juga dimuka dunia. Ya marilah semua berlomba melakukan kebajikan. Ibda bi nafsika. Mulailah dari dirimu sendiri. Jangan cuma tolah toleh, nunggu instruksi, atau sibuk mendorong orang lain melakukan, atau menunggu orang lain melakukan. Ngapain? Nah kalau ditanya, melakukan apa? Ada 3, ya 3 saja dululah. Pertama, Itaqulloha hai suma quntum. Bertaqwalah kamu dimanapun kamu berada. Kedua, wa atbihis sayih atal hasanah, tamhoha. Dan bila kamu melakukan sesuatu yang kurang baik, segeralah lakukan kebaikan, semoga dapat mengurangi kekurang baikan itu. Ketiga, wa cholichin naas sabichuluchin hazaniin. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Sudah gitu aja dulu, nggak usah muluk muluk. Kalau makin banyak yang bisa melakukan itu, saya kira nggak perlu Tap Tap-an, Islam dan pemeluknya akan dihormati keberadaannya diseluruh dunia. Saya pikir cukup jelaslah bahwa yang pertama kita diperintahkan memahami dan mengimplementasikan secara utuh konsepsi Islam. Mengimplementasikan sesuai dengan konsep aslinya, bukan dipreteli, atau dicomot bagian yang disukai saja. Yang kedua adalah konsep yang sekarang dikenal dengan Kaizen atau the continuous improvement. Nggak perlu penjelasan, karena sudah sangat terkenal. Yang ketiga kita diminta tidak minder tetapi juga tidak over acting. Nah kalau setiap orang Islam berperilaku begitu maka jadilah Islam sebagai rahmat seluruh alam (Rachmatan lil alamin). Apa dengan begini perlu takut komunis, kapitalis, imperialis, fasis dan lainnya? Apa memang perlu memusuhi pemeluk agama lain? Itu kan cuma masalah waktu, kapan seseorang akan memperoleh hidayah. Gitu aja kok repot. yap (PD aja lagiiii...) Success is neither magical nor mysterious. Success is the natural consequence of consistently applying basic fundamentals. - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
