Penyelesaian kasus Soeharto yang terkesan lambat, tidak terlepas dari gambar besar (grand design) penanggulangan krisis. Kemampuan melihat gambar besar itu berbanding lurus dengan pengendalian kesabaran. Kita memang berpacu dengan waktu, tetapi tuntutan yang jelas adalah bahwa kalau Soeharto diseret kepengadilan ada dua harga mati yang dimaui rakyat: terbukti bersalah dan keamanan tetap stabil. Mengupayakan terbukti bersalah (menurut hukum) ternyata makan waktu dan energi yang sangat besar, baik karena 'kejahatan' yang dilakukan telah dibungkus rapi oleh peraturan yang membenarkannya, kondisi kesehatan Soeharto dan 'kemampuan' aparat hukum kita. Belum lagi kesiapan tim pembela yang (tentunya) digaji luar biasa besar. Apa yang akan terjadi kalau setelah diajukan kepengadilan ternyata Soeharto tak terbukti bersalah? Atau terbukti salah kecil kecilan setara maling ayam? Ini beban pertama yang lumayan berat. Kedua faktor keamanan. Mengupayakan agar situasi tetap 'aman terkendali' ketika Soeharto dimeja hijaukan bukan pekerjaan yang mudah. Mulai dari pemetaan front pembela soeharto, cara menggembosinya, sampai yakin benar bahwa pengadilan itu tidak menimbulkan gejolak. Mungkin saja ada yang memang setia pada soeharto. Tetapi yang lebih berbahaya (dan sulit diprediksi) adalah ulah pasukan bayaran, yang gampang saja direkrut untuk menimbulkan kekacauan dalam berbagai bentuk. Kalau untuk masalah hukum saja dapat disusun pengacara kelas satu seperti sekarang, bukan hal yang sulit untuk membentuk pasukan teroris dan anti teror kelas dunia sekalipun. Langkah pemerintah memereteli kekuatan soeharto dilingkungan tni sama sekali belum menjadi jaminan, karena diintern tni sendiri masih cukup banyak yang 'siap jenderal!' ketika diperintahkan bikin kerusuhan. Budaya malu sudah jauh dari masyarakat kita. Bukti kecil (dan memalukan) adalah tertangkapnya tentara yang bawa bawa ganja dari aceh (pengawalnya juga bawa) setelah divonnis bersalah dalam pengadilan (srimulat) koneksitas Teuku Bantaqiyah. Upaya menyetop aliran dana kekocek soeharto juga masih dalam taraf angan angan. Dana masih mengalir deras kesana. Belum terhitung (kalau ada) pihak yang ingin meloncat kepuncak kekuasaan dengan memanfaatkan keributan itu. Dalam pandangan seperti inilah saya melihat perlunya kejadian diluar skenario, seperti 'kebrutalan' demo mahasiswa itu. Kalau saja terjadi perkeliruan, sehingga timbul chaos lokal dijalan Cendana sehingga soeharto terbunuh dalam kekacauan itu, nampaknya para pihak yang berhadapan (pendukung dan penentang soeharto) tidak sempat baku hantam. Ini pasti sebuah blessing in disguise. Tetapi kalau chaosnya meluas, ya mampuslah kita. Apalagi kalau keburu dipindahkan oleh Marzuki Darusman, ya bakal panjanglah ceritanya. Artinya bakal panjang juga penderitaan bangsa indonesia. yap ----- Original Message ----- On Friday, 26 May 2000, Martin Manurung wrote: > Segera Selesaikan Kasus Soeharto > > Oleh: Martin Manurung > > > Ketika tulisan ini disusun, unjuk rasa yang mendebarkan hati tengah terjadi > di seputar Salemba dan Diponegoro, Jakarta. Unjuk rasa itu menuntut agar > Soeharto segara diajukan ke pengadilan. Lagi-lagi terjadi unjuk rasa, dan > lagi-lagi pula aparat penegak hukum belum mampu untuk menyelesaikan kasus > Soeharto. > deleted - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
