On Thu, 27 Jul 2000, Benny wrote:

> Benny :
> Jika anda ingin mempersoalkan apa yang dilakukan oleh Romo magnis atau
> romo-romo lainnya atau semua kegiatan yang dilakukan oleh pihak katolik
> silahkan mendatangi pihak keuskupan atau pastoral atau gereja karena kami
> selalu terbuka bagi sesama.

WAM:
Terima kasih atas kesediaanya. Namun, bukankah kita berdiskusi di sini?
Kenapa tidak anda sebut saja apa yang pernah dilakukan, kalau memang anda
tahu. That'll save us a lot of trouble. 
  
> WAM:
> Saya bukan tidak percaya doa. Siapapun yang berdoa, romo atau kiai. Namun,
> dalam konteks diskusi kita, doa tok tidak cukup. Anda tidak percaya?
> Kenapa orang Kristen tidak berdoa saja sekarang ini? Kenapa mereka demo ke
> berbagai dubes untuk minta tentara PBB masuk Maluku?
 
> Benny :
> Saya percaya doa. Saya juga percaya tindakan baik, tetapi bukan tindakan
> yang justru makin memperuncing suasana.

WAM:
Saya yakin kok, tindakan romo Magnis (jika dia bersedia meredam konflik)
bukan suatu tindakan yang memperuncing suasana. Bahkan termasuk tindakan
yang amat baik.  Justru yang membuat saya heran adalah _ketidakmauan_
beliau.
 
> Saya rasa orang yang meminta perlindungan dari luar adalah orang-orang yang
> tidak mempercayai lagi pemerintahan Indonesia mampu untuk menyelesaikan
> masalah di Ambon.

WAM:
Sepakat.
Saya yakin, para romo dan p[ara kiai punya peran yang besar untuk ikut
meredakan konflik. Yang saya heran, justru presidennya sendiri nggak mau
ngaku itu konflik bernuansa agama. Lha terus apa peran para pembesar
agama?

> Definisi _melakukan pembalasan_ itu apa?
> Kalau saya diusir dari rumah saya, kemudian saya merebut rumah saya
> kembali, itu pembalasan atau bukan?
 
> Dan bung, lupakah anda bahwa (dalam kasus POso) tempo hari GKST (Gereja
> Kristen Sulawesi Tengah?) mengatakan bahwa mereka membalas tindakan
> kelompok muslim dalam pertikaian Poso II? Dan ini made public.
> Semua orang bisa baca alasan itu di koran. Artinya, omongan anda sungguh
> baik dalam teori. Kenyataan di lapangan amat jauh beda.
 
> Benny :
> Kasus ini mungkin, oleh orang yang lebih berkompeten untuk menjawabnya.

WAM:
Siapa yang berkompeten? Tidakkah kita, dengan dasar berita di media,dan
setidaknya untuk diskusi di sini, pantas dibilang kompeten? 
Menakutkan ya bung, mengakui bahwa kelompok kita juga dapat berbuat salah?

> WAM:
> Betul. Romo Magnis tidak akan mampu berbuat apa-apa sendirian. Saya juga
> yakin itu. Namun, tetap saja tidak semestinya dia _menghindar_. Kenapa dia
> tidak jawab, dia mau, tapi minta bantuan berbagai pihak. Dan seperti saya
> bilang di depan, bantuan para kiai juga diperlukan. Saya tidak pernah
> menganggap romo Magnis itu Superman yang mampu berbuat apa saja. Yang saya
> sesalkan justru karena dia menolak menyumbangkan sesuatu yang pasti
> bermanfaat bagi perdamaian di Maluku.
  
> Benny :
> Saya akan coba mencarikan nomor telepon romo tersebut semampu saya.

WAM:
Saya yakin anda mampu. Minimal, dibanding saya.
  
> WAM:
> Terima kasih. Saya pun demikian. Saya tidak membenci siapa-siapa. Saya
> hanya membenci orang yang melakukan kekerasan, dan tidak mau menghentikan
> kekerasan itu. Terima kasih.
 
> Benny :
> menurut saya cara menghentikan kekerasan itu bukan dengan kekerasan lagi.

WAM:
Teorinya dan idealnya memang begitu. Tapi saya tidak percaya. Kalau pihak
yang merasa _unggul_ tidak mau juga menghentikan kekerasan, hanya
pembalasan kekerasan yang akan menghentikan kekerasan. Di Maluku dan di
Poso hal itu terjadi. Dan nggak cuma di kedua tempat itu. Menyedihkan,
memang. Namun, adakah cara lain? Pada tataran teori dan keadaan ideal,
saya sepakat dengan anda. Dalam praktek, saya melihat kenyataan, hal itu
tidak mungkin dilakukan.  








->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke