On Tue, 22 Aug 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Terlepas tolol tidaknya diriku ini, maka bagian ini
> adalah jatah saya untuk menjawabnya. Sebab saya ingat
> betul, ketika me-reply posting saya, WAM telah
> menyebut mengenai 'kesalahan' saya mengenai 'KRI
> Monginsidi kok kapal selam'.
WAM:
Anda tidak mengkonotasikan _jendela_ kapal selam dengan jendela rumah kan?
Itu saja ukuran apakah sampeyan masuk golongan tolol atau bukan. BUka saya
yang menentukan, mbah.
> Saya menyebut 'kesalahan' dalam tanda kutip, sebab
> saya benar-benar tidak menulis hal itu. Kalau masih
> punya simpanan posting saya di situ, maka yang saya
> sampaikan adalah:
WAM:
Bisa saja saya salah. Yang saya inget, anda seolah-olah menyebut bahwa ada
kapal selam Indonesia diberi nama pahlawan. Siapapun nama pahlawan itu,
tetap saja salah. (Anda menyebut, dulu sering masuk kapal selam karena
bapak simbah adalah komandan RI ...... Lha itu kan mengindikasikan bahwa
kapal itu kapal selam. Mestinya, tanpa keterangan bahwa anda tidak merefer
ke kapal selam, ya nggak usah disebut dulu bapaknya simbah itu jadi apa).
> Lihat, tak ada saya menyebut Sisingamangaraja itu
> kapal silem (yang dikelirukan oleh WAM sebagai
> Monginsidi). Tapi wong WAM, mana dia percaya sama
> pengutaraanku tersebut (lalu dia munculkan posting KRI
> Monginsidi kok kapal silem? dikira aku mau bohongi
> dia).
WAM:
SAya percaya, sekarang. Karena pengetahuan anda tentang penamaan KRI sama
dengan yang saya punya. (Dan tidak dipunyai oleh mbah Soel dkk).
> Kalau penamaan kapal-kapal, sedikit aku tahu. Soal
> nomor lambung, aku nggak paham. Misalnya, kapal-kapal
> LST (landing ship tank), selalu memakai nama 'Teluk'
> di depannya. Terus yang PR (Penyapu Ranjau) pakai
> nama-nama pulau, yang kalau disingkat jadi PR, seperti
> Pulau Rupat. Sementara kapal silem (yang tak
> berjendela, tentu) memakai nama-nama senjata
> pewayangan. jadi ada Pasopati, Candrasa, Nenggala,
> Cakra, dan masih ada beberapa yang lain (kalau nggak
> salah ada 12). Untuk kapal silem berjendela aku nggak
> tahu, maaf. Sementara untuk jenis Fregat dan
> Destroyer, pakai nama-nama pahlawan. Ayahku waktu ikut
> operasi Jayawijaya, pengembalian Irian Barat ke
> pangkuan RI, kapalnya RI Hasanudin. Ini jelas bukan
> kapal silem. Lebih-lebih berjendela. berjendilan,
> mungkin.
WAM:
Tepat, anda sudah menyebutkan tata cara penamaan kapal RI.
Itu juga yang saya tahu (dan tidak diketahui oleh mbah Soel dkk).
Tatacara penomoran lambungnya sama saja. Dengan melihat nomer pertama
(dari 3 angka) kita bisa tahu jenis kapal perang apa. Untuk kapal
pengangkut, biasanya dimulai dengan nomer 9.
Jadi, tenang saja mbah. Anda tidak termasuk kelompok tolol yang saya sebut
itu. Saya bukan orang yang dibesarkan di lingkungan TNI AL seperti simbah.
Tapi, saya masih punya kecerdasan untuk tahu gimana tata cara penamaan dan
penomoran kapal perang. Tatacara pemberian nama pesawat tempur (sistem
NATO, Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, China) saya juga tahu.
Namun, saya tidak perlu merasa pinter dengan menertawakan orang yang
menyebut access hatch sebagai jendela. Saya hanya menertawakan, kenapa
difikir access hatch ini bisa dibuka semaunya? Beda dengan yang _sangat
terdidik_ mbah Soel. Tahu kapal selam juga enggak, tapi merasa pinter.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!