On Wed, 23 Aug 2000, mBah Soelojo wrote:

> nama-nama pahlawan itu tergolong sedikit, maka faham pula
> aku, bahwa jumblah daripada kapal perang negara maritim RI
> ini sejumblah pahlawannya.

WAM:
Nha itu bodonya anda lagi, mbah. Maklum cuma tahu anggur.
Nggak ada keharusan suatu nama hanya boleh dipakai sekali.
Di negara mana pun, jamak kalau nama seorang pahlawan dapat dipakai
berulang kali pada  kapal perang. Jelas, praktek ini untuk menghindari
_kehabisan stok_ nama. Apalagi buat negara besar yang jumlah kapal
perangnya banyak. Weleh mbah, anda mau njegal saya tapi makin kelihatan
nggak paham.

Bodonya lagi, lha wong udah dijelaskan mbah Gigih, tidak semua kapal
perang pakai nama pahlawan. Ada nama senjata tradisional (mis. Keris,
Badik, Rencong), ada nama pulau (Pulau Rupat), ada nama teluk (Teluk
Bone), ada nama senjata dalam wayang (Pasopati, Nanggala, Cakra).
Dan nggak ada keharusan nama-nama itu nggak boleh dipakai berulang kali.
Weh, jan sampeyan iki tibak-e nggak ngerti babar blas.

> usul mas WAM, mumpung pengetahuanku serba sedikit, kalau sistem
> penamaan kapal-keruk itu gimana ya?

WAM:
Memangnya saya guru anda. Kok nanya-nanya. Doktor kok malas baca. 

> Lha bareng nyari shell malah ketemunya lubang tembak
> buat toropedorrrrr itu, yang sepadan benar dengan
> stadium tropedo dari nuftah kecil-kecil yang sementara bulan
> lalu tak amati sampek jeles...

WAM:
Sampeyan iku cuma paham betul soal pertanian, cq. anggur, mbah.
Wis tah, di bidang ini aku angkat tangan saja lah. Sampeyan lebih pinter.
Lha kok sampeyan susah amat untuk mengakui nggak paham apa-apa soal kapal
selam. Pakai ketawa ketiwi menertawakan orang yang selevel pengetahuannya
dengan sampeyan. Sampeyan memang terlalu sombong untuk mengaku bahwa di
bidang lain sampeyan bukan selevel doktor. Selevel tukang tambal ban
sepeda, kali. Lha mbok nggak usah menertawai pengetahuan tukang tambal ban
sepeda. Saya sih nggak lagi ngeledek sampeyan mbah. Cuma, mbok ojok
kumalungkung lah. Menungsa iki lak wis diatur tingkat kepinterannya. Nggak
onok sing ngerti sak kabehane. Lha opo aku mesti pamer nek aku ngerti
luwih akeh tinimbang sampeyan, nek nggak sampeyan pamer pengetahuan disik? 

> yang jelas, ketika ikutan diskusi jendela kapal selam ini,
> sama sekali si Soel tidak mempertimbangkan pengetahuannya,
> selain dari segi bahasa. bahasa indonesia. juga tertarik
> dengan pembenaran Mas WAM, AKS tentang kenyataan
> ada kapal selam berjendela di Bali... sial bener aku,

WAM:
Sekali lagi, ini kalau sampeyan bicara serius, saya nggak bohong atau
bercanda waktu bilang ada kapal selam (sipil) yang pakai jendela (kaca).
Lha kok makin cengengesan dipikir saya bercanda. Pergio ke Bali, pelabuhan
Benoa, kalau nggak percaya. 

> ketika membayangkan jendela itu sama dengan MADO GUCHI
> atau lubang LOKET buat beli tiket atau prangko di kantor
> pos, ternyata semua sualaaaah polll.

WAM:
Kesalahan anda masih bisa dimaafkan, sendainya anda tidak menertawai
pembuat posting yang mengira access hatch itu bisa dibuka semaunya.
Namanya juga orang nggak paham. Boleh saja mengira yang enggak-enggak.
Anda dituntut untuk berada di level pengetahuan yang lebih tinggi,
manakala anda menertawakan orang lain yang sama nggak ngertinya. Nyatanya
anda gagal, bukan?

> mahap saudara-saudara atas kelancangan dugaan saya tentang
> jendela-kapal-silem kemarin-kemarin. siapa tahu itu menimbulkan
> kekacauan cara berfikir dan menangkap ungkapan bahasa
> saudara-saudara sekalian, terutama Soel et al.

WAM:
Saya hargai _pengakuan_ sampeyan. Itu lebih baik ketimbang rekan
_seperahu_ sampeyan, yang diem saja. Nggak mau ngaku kalau sama begonya. 
Tapi saya maklum. Wong pakai nama aja di sekitar alat kelamin. Dulu, pakai
nama segawon.


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke