Bukannya Eloe yang bodo ? Tahunya cuma kulitnya doang, udah itu ngomongnya gede lagi
pake sumpah
serapah segala.
Si Soelojo itu walaupun tahunya cuma anggur tapi detail bok, udah sampe ke DNA/RNA nya
anggur kale
yang dia pelajari. Eloe itu cuma tahunya mencaci maki aja, udah itu ngomongnya nggak
pake logika
lagi. Mendingan eloe diam aja biar yang lain juga diam, soalnya jawaban eloe itu lucu
semua.
On Wed, 23 Aug 2000 13:42:05 +0700 (JAVT)
Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On Wed, 23 Aug 2000, mBah Soelojo wrote:
>
> > nama-nama pahlawan itu tergolong sedikit, maka faham pula
> > aku, bahwa jumblah daripada kapal perang negara maritim RI
> > ini sejumblah pahlawannya.
>
> WAM:
> Nha itu bodonya anda lagi, mbah. Maklum cuma tahu anggur.
> Nggak ada keharusan suatu nama hanya boleh dipakai sekali.
> Di negara mana pun, jamak kalau nama seorang pahlawan dapat dipakai
> berulang kali pada kapal perang. Jelas, praktek ini untuk menghindari
> _kehabisan stok_ nama. Apalagi buat negara besar yang jumlah kapal
> perangnya banyak. Weleh mbah, anda mau njegal saya tapi makin kelihatan
> nggak paham.
>
> Bodonya lagi, lha wong udah dijelaskan mbah Gigih, tidak semua kapal
> perang pakai nama pahlawan. Ada nama senjata tradisional (mis. Keris,
> Badik, Rencong), ada nama pulau (Pulau Rupat), ada nama teluk (Teluk
> Bone), ada nama senjata dalam wayang (Pasopati, Nanggala, Cakra).
> Dan nggak ada keharusan nama-nama itu nggak boleh dipakai berulang kali.
> Weh, jan sampeyan iki tibak-e nggak ngerti babar blas.
>
> > usul mas WAM, mumpung pengetahuanku serba sedikit, kalau sistem
> > penamaan kapal-keruk itu gimana ya?
>
> WAM:
> Memangnya saya guru anda. Kok nanya-nanya. Doktor kok malas baca.
>
> > Lha bareng nyari shell malah ketemunya lubang tembak
> > buat toropedorrrrr itu, yang sepadan benar dengan
> > stadium tropedo dari nuftah kecil-kecil yang sementara bulan
> > lalu tak amati sampek jeles...
>
> WAM:
> Sampeyan iku cuma paham betul soal pertanian, cq. anggur, mbah.
> Wis tah, di bidang ini aku angkat tangan saja lah. Sampeyan lebih pinter.
> Lha kok sampeyan susah amat untuk mengakui nggak paham apa-apa soal kapal
> selam. Pakai ketawa ketiwi menertawakan orang yang selevel pengetahuannya
> dengan sampeyan. Sampeyan memang terlalu sombong untuk mengaku bahwa di
> bidang lain sampeyan bukan selevel doktor. Selevel tukang tambal ban
> sepeda, kali. Lha mbok nggak usah menertawai pengetahuan tukang tambal ban
> sepeda. Saya sih nggak lagi ngeledek sampeyan mbah. Cuma, mbok ojok
> kumalungkung lah. Menungsa iki lak wis diatur tingkat kepinterannya. Nggak
> onok sing ngerti sak kabehane. Lha opo aku mesti pamer nek aku ngerti
> luwih akeh tinimbang sampeyan, nek nggak sampeyan pamer pengetahuan disik?
>
> > yang jelas, ketika ikutan diskusi jendela kapal selam ini,
> > sama sekali si Soel tidak mempertimbangkan pengetahuannya,
> > selain dari segi bahasa. bahasa indonesia. juga tertarik
> > dengan pembenaran Mas WAM, AKS tentang kenyataan
> > ada kapal selam berjendela di Bali... sial bener aku,
>
> WAM:
> Sekali lagi, ini kalau sampeyan bicara serius, saya nggak bohong atau
> bercanda waktu bilang ada kapal selam (sipil) yang pakai jendela (kaca).
> Lha kok makin cengengesan dipikir saya bercanda. Pergio ke Bali, pelabuhan
> Benoa, kalau nggak percaya.
>
> > ketika membayangkan jendela itu sama dengan MADO GUCHI
> > atau lubang LOKET buat beli tiket atau prangko di kantor
> > pos, ternyata semua sualaaaah polll.
>
> WAM:
> Kesalahan anda masih bisa dimaafkan, sendainya anda tidak menertawai
> pembuat posting yang mengira access hatch itu bisa dibuka semaunya.
> Namanya juga orang nggak paham. Boleh saja mengira yang enggak-enggak.
> Anda dituntut untuk berada di level pengetahuan yang lebih tinggi,
> manakala anda menertawakan orang lain yang sama nggak ngertinya. Nyatanya
> anda gagal, bukan?
>
> > mahap saudara-saudara atas kelancangan dugaan saya tentang
> > jendela-kapal-silem kemarin-kemarin. siapa tahu itu menimbulkan
> > kekacauan cara berfikir dan menangkap ungkapan bahasa
> > saudara-saudara sekalian, terutama Soel et al.
>
> WAM:
> Saya hargai _pengakuan_ sampeyan. Itu lebih baik ketimbang rekan
> _seperahu_ sampeyan, yang diem saja. Nggak mau ngaku kalau sama begonya.
> Tapi saya maklum. Wong pakai nama aja di sekitar alat kelamin. Dulu, pakai
> nama segawon.
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
--------------------------------------------------
Surat elektronik ini dikirim oleh http://www.plasa.com
PlasaCom : Plasa Informasi dan Komunitas Internet Indonesia
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!