Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Mulai dari mana ? Sriwijaya? Majapahit? Mereka runtuh karena ulah raja mereka sendiri
atau karena kepentingan asing?
��: Asing pertama kali masuk ke Nusantara kapan sih Mas,
dan untuk tujuan apa? Apa karena diundang atau
atas kemauan sendiri? Brawijaya V itu hengkang karena
apa sih Mas?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
Belanda masuk Jawa karena apa ? Karena raja Jawa haus kuasa dan menciptakan banyak
permusuhan dengan sekutu potensial atau karena kepentingan asing?
��: Ya dijawab dulu dhong Mas pertanyaan saya
agar posisinya jelas.
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Kekuatan pesisir dihancurkan, pada saat kebingungan melawan musuh-musuhnya itu eh
Belanda malah diundang.
��: Apakah bupati-bupati pesisir itu pada saat itu
mengirim delegasi ke Belanda untuk membantu
mereka? Tahun 1596 Belanda datang ke Pelabuhan
Sunda kelapa untuk apa? Apa karena Pangeran
Jayakarta mengirim email kepada Ratu Belanda?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Belanda masuk Aceh karena para Tengku saling berbantahan.
��: Apakah Belanda mau membantu salah satu kekuatan di Aceh
tanpa ada imbalan yang diharapkan? Sejarah telah menjelaskan
bahwa pembangunan jalan kereta api mesti dilandasi oleh
motif ekonomi. Di Aceh ada pembangunan jalan Kereta Api
oleh Belanda kan Mas, apa Belanda datang ke Aceh hanya
akan menjadi Sinter Klas melalui S. Hurgronye? Apakah Teuku
Umar melawan Belanda karena Belanda memihak seterunya?
Bagaimana dengan Cut Nya Dien yang akhirnya dibuang oleh
Belanda dan dimakamkan di Jawa Barat?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Masuk Maluku, karena kerajaan potensial Ternate dan Tidore saling bersaing (sampai
sekarang).
��: Waduuuhh...., yang masuk pertama kali ke daerah itu Portugis
atau Belanda sih Mas? Apakah Portugis juga hanya ingin
menjadi Sinter Klas dan menyebarkan agama disana?
Kalau kisah Bone bagaimana ?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Masuk Sulawesi Selatan juga begitu. Bali juga begitu.
��: Intinya, kemudian ada yang melawan Belanda dan
ada yang dibantu Belanda. Bagaimana dengan kisah
Puputan itu? Kalau orang Bugis membantu Mataram
melawan Belanda apa karena Mataram melawan
Bupati2 pesisir? Kalimantan ada ceritanya enggak
ya Mas?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Juga kalau bilang karena disintegrasi itu karena adanya ulah kepentingan asing, bisa
ditanyakan apa sih manfaatnya bagi asing kalau suatu negeri jadi kacau balau karena
disintegrasi ?
��: Maka saya juga bertanya apakah orang asing itu Portugis,
Inggris, Belanda, dan Jepang pada datang ke Indonesia
hanya untuk membantu salah satu kekuatan yang sedang
bertikai atau ada maksud lain. Pertemuan perwira menengah
AD di Kuala Lumpur ketika Indonesia sedang berkonfrontasi
dengan Malaysia yang di back up Inggris dan Amerika 3 bulan
sebelum peristiwa G 30 S ada apa ya?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Ongkos jadi tambah, piutang jadi hilang, jualan juga kagak laku, usaha macet. Mana
yang lebih gampang untuk blood sucking capitalism lewat satu pintu atau bermacam-macam
pintu ?��
��: Wah... otak, informasi, dan pengetahuan saya nggak
nyampai Mas untuk membahas hal itu. Yang saya ketahui
sih ongkos itu tidak selalu jangka pendek. Politik dan
perdagangan international adalah sebuah investasi
jangka panjang. Apakah Amerika membantu Kuwait
dalam perang Teluk hanya untuk alaasan kemanusiaan?
Kini Amerika juga sudah berhasil menjadi penguasa
tunggal dunia setelah USSR runtuh. Dulu Amerika
memback up Indonesia dalam masalah Timtim ketika
USSR masih ada, tetapi kini mereka berbalik dan
ada informasi ribuan marinir ada disana. Untuk apa?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Kenapa kemarin IMF protes lewat FEER, perkara otonomi daerah ? Bagi mereka Indonesia
lenyap, lenyap pula seluruh hutang yang ditanggung anak cucu kita.
��: Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa negara yang
hutangnya dihapus juga ada. Apakah penghapusan
hutang mesti berkaitan dengan hilangnya sebuah negara?
Sebenarnya, anak cucu kita sampai berapa lama sih harus
menanggung hutang kita? Tepatnya, masih butuh berapa
puluh generasi lagi sampai hutang kita lunas?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Untuk Papua bisa diteliti latar belakang orang-orang yang
ribut Konggres Papua kemarin.
��: Salah satu hidden figur yang dibelakang mereka adalah
figur yang malang melintang di jaman Orba. Mengapa
orang itu tidak ribut ketika masa Orba padahal ketidak
adilan didepan mata? Orang Irian juga terdistribusi.
In term of democracy mereka yang tidak ribut di kongres
juga jangan diabaikan. Lihat saja kasus FPI, apakah
mereka benar mewakili umat Islam Indonesia?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Mungkin kita terlalu banyak menyelam dalam dunia ide, ide negara kesatuan, ide negara
integralistik, dan yang pada akhirnya dipaksakan malah mengucurkan banyak darah bila
ada orang yang mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi demi ide.
��: Saya sih nggak bisa berenang apalagi menyelam di dunia ide.
Tenggelam malah mungkin. :-) Saya pikir tulisan Pak MMA
sudah cukup menjelaskan perihal pemberontakan2 di tanah
air. Saya sih tetap berpendapat bahwa perdebatan di sidang
BPUPKI pada saat itu sangat menarik dan bukan pemaksaan
ide. Saya setuju dengan kritik Buyung dalam paham
negara Integralistiknya Soepomo berkaitan dengan dominasi
kekuasaan pemerintah yang memanfaatkan kelemahan
UUD 45. Sayang sekali bahwa para wakil rakyat di MPR malah
melupakan hal itu dan terlalu sibuk untuk mengamankan
kepentingan politiknya masing-masing serta posisi mereka
secara pribadi. Lihat saja produk amandemen mereka. Padahal
dimasa hangat tuntutan reformasi itu isu tersebut sering sekali
muncul di media masa.
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Coba saja suruh nyanyi Padamu Negeri kepada orang Aceh. Pingin tahu saya apa reaksi
mereka.
��: Ya jelas dhong setelah mereka dibunuh dan diperlakukan
secara deskriminatif di negara sendiri. Salah satu teman
yang sarjana Inpres di Irian menceritakan bagaimana
diskriminasi itu bahkan melebihi apa yang terjadi di Amerika
pada tahun 60 an. Aceh? Ah... setelah pembunuhan dan
penguasaan sumber-sumber ekonomi serta diskriminasi
masak sih mau peduli dengan pemerintahan Indonesia.
Mereka semua butuh tindakan konkrit yang hasilnya
segera bisa dilihat.
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Bagi saya lagu Padamu Negeri sudah tidak relevan lagi, yang lebih cocok sekarang
adalah Padamu Manusia Indonesia, Manusia Aceh, Manusia Dayak, Jawa, Maluku, Papua,dll,
lebih nyata, lebih bisa dipegang daripada konsep NEGERI, yang diawang-awang, yang
gampang diselewengkan, yang batas-batas NEGARAnya lebih ditentukan oleh akibat
kolonialisme daripada ditentukan oleh batas-batas BANGSA. Stop sudah pembantaian
manusia karena ide-ide.
��: Mau tanya nih mas Agus, manusia Indonesia itu yang
mana?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Untuk Maluku saya masih percaya bahwa kerusuhan yang tercipta disana adalah sama dan
sebangun dengan Situbondo, Tasikmalaya, dll. Kalau dituding ada kepentingan asing, apa
manfaatnya ?
��: Wah kita berbeda kepercayaan kalau begitu....
namun mengenai Maluku itu, aduuhh.., ini mah diskusi
Kuli Tinta masa lalu. Biarkan yang lain aja yang menjelaskan.
Yang pasti, ada yang mempunyai teori tarik garis tegak
lurus Maluku ke atas dan ke bawah. The Pacific main stream,
Australia yang ingin mengirim pasukannya untuk melindungi
warganya dsb. Mengapa Pesawat Australia sampai masuk
ke wilayah Maluku ketika mereka bertugas di Timtim.
Mengapa Maluku meledak setelah Orba hancur?
Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Untuk Aceh dan Papua jelas masalahnya adalah ketidakadilan (ini termasuk hukum dlsb).
Supaya tidak terjadi disintegrasi ya adili yang bener orang-orang yang bikin
ketidakadilan di Aceh atau Papua. Selama itu tidak dilakukan ya orang tidak percaya.
Dan jangan tuding kepentingan asing sebagai penyebabnya.
��: Mas, ketidakadilan di Aceh dan Papua itu terjadi selama Orba.
Freeport belum ada di masa Orla. demikian pula dengan Arun.
Saya hanya bertanya, Sabang sebagai pelabuhan bebas itu
dicanangkan oleh Soekarno ketika angkatan bersenjata RI
yang di back up oleh USSR adalah yang terkuat di Asia Teggara
dan Singapore belum berkembang. Mengapa status itu dicabut
dalam masa pemerintahan Orba? Untuk mengamankan jalur
selat Malaka berkaitan dengan perang dingin dan persiapan
penguasaan Vietnam? Juga, kasus Free Port siapa sih
yang punya kepentingan dan menikmati kepentingan disana?
Apa bedanya dengan masa kehadiran para penjajah itu mulai
masuk ke Nusantara? Coba aja deh apa nggak menyakitkan
kalau Belanda dan Inggris saling tukar koloni wilayah
Nusantara ibarat tanah nenek moyang mereka? Bagi saya,
Irian dan Aceh membutuhkan perubahan kesejahteraan yang
segera bisa dilihat tanpa mereka perlu tahu bagaimana caranya.
Mengadili oknum Orba? He... he... apa mungkin. Mereka itu
duitnya Masya Allah.... bisa untuk apa saja Mas. Lihat saja kasus
bank Bali dan raibnya Tommy. Orang polisi aktif saja bisa
berada pada posisi berseberangan dengan pemerintah.
Salam mesra dari Miri
Aguss
salam kembali.
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com