Bung Ambara,
Memang benar semua kita bersalah. Saya setuju itu. Tetapi konteks
pembicaraan kita tadinya adalah bahwa mereka di Barat memboikot hal-hal
yang tidak terkait soal Timtim seolah-olah pemerintah mereka tidak ikut
bersalah dalam masalah Timtim. Saya pikir konteksnya adalah bahwa
pemerintah di Barat itu bermuka dua, di depan masyarakat mereka terkesan
demokratis dan menghormati ham, sementara mereka tidak segan membantu
pemerintahan yang jelas-jelas melanggar Ham. Hari ini di Jakarta Post ada
sebuah surat pembaca yang ditulis oleh seorang Barat yang amat menarik. Dia
pertama memberikan selamat kepada Wiranto karena sekali lagi berhasil
mendapatkan dukungan dari angkatan bersenjata AS untuk menjadi calon
presiden. Tentunya nadanya sinis. Kemudian dia mengatakan bahwa hal itu
berarti demokrasi yang baru mulai berproses di Indonesia akan digusur sama
seperti ketika Ford dan Henry Kissinger datang ke jakarta seminggu sebelum
penyerangan TNI ke timtim untuk mengatakan "go ahead, we will help you".
Pada intinya dia membongkar "konspirasi AS agar Indonesia tetap dibawah
pemerintahan militer di masa lalu dan mungkin juga di masa mendatang".
Jadi Bung Ambara, salah kita semua, kita akui. Salah pemerintah Barat, kok
malah sok jadi pahlawan. Tidak beda dengan Baramuli kan? Kenapa harus kita
akui Barat sebagai kiblat demokrasi? Tujuan saya menulis surat ini adalah
mencoba membelokkan wacana kita selama ini yang berkiblat ke barat sebagai
kelompok yang pembela ham, pembela lingkungan hidup dll. Padahal, mereka
hanya membela kepentingan mereka (paling tidak pemerintahnya). SEkian dan
mudah-mudahan jadi bahan renungan.
Salam
Hira
----------
> From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <[EMAIL PROTECTED]>
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> Date: Thursday, September 23, 1999 7:23 AM
>
>
> Yang membilang bahwa Barat mensuplai mileter/membantu militer Indonesia
dan
> mereka berhak juga disalahkan sama juga dengan menyalahkan saya sebagai
> warganegara dan anda-anda sekalian yang membayar pajak per bulan ke
> pemerintah, tapi cucuran hasil keringat kita dipakai untuk membantai
> saudara-saudara kita....
> Atau juga salahkan kekayaan alam didaerah-daerah (gas,minyak bumi,
batubara)
> yang dirampok dari daerah (Irian Jaya, Kaltim, Riau, Achech)..dibawa ke
> Jakarta, sampai di Jakarta sebagian besar dikorupsi, sebagian lagi
dipakai
> militer untuk membiayai perang melawan rakyatnya sendiri, dan hanya
sedikit
> sekali kembali kedaerah, sehingga rakyat daerah tetap menderita, susah
> sekolah, jalanan berdebu/tidak ada jalan, susah air dsb : Apakah itu
berarti
> kita semua bersalah...
> Yah memang kita semua bersalah karena tidak memperingatkan (tidak berani
> memperingatkan/mencegah) angkatan bersenjata jahanam yang petantang
> petenteng dengan sangkur, bedil, dan senjatanya menyiksa,membunuh dan
> menekan rakyat diseluruh Indonesia...
>
> salam
>
> GNA
>
> > ----------
> > From: Hira D.G.[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Wednesday, September 22, 1999 8:20 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> >
> > Harry, Yani dan teman-teman,
> >
> > Saya setuju dengan komentar Yani Witjaksono. Saya pikir perlu kita
> > jelaskan
> > bahwa seluruh Indonesia bukanlah TNI yang brutal di Timtim. Kita juga
> > perlu
> > jelaskan bahwa masalah Timtim bukan hanya salah TNI Indonesia (yang
harus
> > kita akui sebagai pelanggar ham) tetapi negara barat yang selama ini
> > menyokong Abri dalam hal latihan militer dan dana. Pemerintah Barat
selama
> > ini kemana ketika ngasih bantuan itu? Bukankah mereka juga tahu. Waktu
itu
> > masyarakat Australia banyak yang menentang, tetapi malah pemerintahnya
> > membela kepentingan mereka di Timtim lewat Indonesia. Jadi mari kita
> > bernalar dengan mereka seperti kata Yani.
> >
> > Terima kasih dan salam
> > Hira
> >
> > ----------
> > > From: witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: [EMAIL PROTECTED]
> > > Subject: RE: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> > > Date: Wednesday, September 22, 1999 6:20 AM
> > >
> > > Harry:
> > > Jangan terlalu berkecil hati dengan kampanye pemboikotan seminar
terumbu
> > > karang di Bali. Orang aneh pasti ada saja. Yang penting,
orang-orang
> > aneh
> > > itu perlu diberi pengertian. Kalau orang-orang aneh itu ilmuwan,
bukan
> > > politikus, saya punya harapan untuk bisa bernalar dengan mereka.
Saya
> > > percaya bahwa mereka bisa diajak bicara dan diminta berfikir lebih
adil.
> > > Kalau ada yang tahu alamat pengkampanye tentang pemboikotan seminar
> > semacam
> > > itu, tolong kirim ke list lingkungan ini. Saya akan coba meluangkan
> > waktu
> > > untuk bernalar sehat dengan mereka.
> > >
> > > Salam,
> > > Witjaksono
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ---------------------------------------------------------------------
> > > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > >
> > >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
> >
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]