Salam,

Saya setuju dengan pendapat mba Hira.
Sebagian dari kita masih berjiwa inlander, masih menggunakan standar Barat
(Eropa &Amerika) dalam bertindak, bahkan menganggapnya yang terbaik yang
harus diikuti.
Padahal Barat -yang sering disebut-sebut sebagai biang demokrasi-
menggunakan standar ganda dalam tingkah-lakunya.

Hal ini banyak ditemukan dalam kegiatan/ hal pemanfaatan sumberdaya alam.

Barat mendukung proyek investasi pemanfaatan (pengurasan) sumberdaya alam di
negara D III dengan tuntutan persyaratan baku mutu yang tinggi, segera, dan
kontinu yang kadang-kadang membuta-tulikan aspek sosial politik dan
lingkungan.
Ketika lingkungan rusak, mereka menuntut pelestarian sumberdaya tersebut.
Mengapa, karena Barat telah terlebih dulu melakukan pengurasan dan perusakan
sumberdaya alam setempat.

Dalam hal pematenan.  Seringkali resep-resep tradisional (obat, pangan,
dll.) yang telah dimiliki turun-temurun dari nenek moyang dan merupakan
pengetahuan umum di tengah komunitas masyarakat adat (biasanya di D III)
diambil dengan dalih penelitian/ eksplorasi dsb., dipatenkan, dan diakui
sebagai hasil penemuan mereka.  Setelah itu mereka masih tebal muka dengan
merasa bahwa merekalah yang paling berhak menjual produk tersebut, yang lain
tidak boleh (jika tetap menjual disebut pembajakan, pencurian hak cipta,
dll., monopoli ceritanya...), dengan harga jual yang sangat tinggi, jauh
lebih tinggi daripada ketika resep itu masih hidup di masyarakat (gratis
dengan bonus senyum ramah yang tulus...).  Di sini berlaku pembajak teriak
pembajak.
Padahal mungkin yang paling berhak memperoleh benefit adalah masyarakat adat
yang telah memelihara resep tesebut sejak dulu.

Untuk Timor-Timur, mungkin mereka menganggap luas negara Indonesia seperti
negara-negara Eropa yang kecil mungil.  Kejadian di suatu tempat di
Indonesia dianggap sebagai kejadian di seluruh Indonesia.

Oya, mengenai demokrasi. Saya tidak demokratis.  Karena saya menganggap
bahwa demokrasi lebih mementingkan suara terbanyak daripada suara terbenar.

Salam,
QN


NB. Untuk Pers, please buat berita yang seobyektif mungkin. Tolong lakukan
cross-check informasi atas suatu kejadian sebelum kejadian tersebut
disebarluaskan.  Jangan sampai timbul kesan lempar kata sembunyi fakta.


Silakan baca dengan hati kiriman dari seorang teman:

Subject: FW: nurani yang teridah


Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua
orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik.
Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah di lihat-begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya.

Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi
orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia
akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita
dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita
dapat menjual seorang sahabat." Orang itu miskin dan godaan besar.
Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.
Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek
dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami
peringatkanmu bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin. Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga?
Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja.
Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang
dan anda dikutuk oleh kemalangan.

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja
bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita
tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak,
bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat
menghakimi?"

Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh!
Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan.
Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."

Orang tua itu berbicara lagi. "Yang saya tahu hanyalah bahwa
kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah
itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita
lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka
memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan
menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya,
ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kau
bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima
hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara
sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia
lari
ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar
selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul
sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat.
Maafkan kami."

Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan
saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik
bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa
ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau
kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai?
Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian
menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan.
Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan?

Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup
berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong!
Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas
dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang
saya tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang
lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati
mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas
kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu
dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu
mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh
dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang
desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.

"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya
puteramu patah kedua kakinyam dan sekarang dalam usia tuamu kamu
tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin
lagi.

Orand tua itu berbicara lagi. "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran
untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa
anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak
ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong."

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan
negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara.
Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka. Sekali
lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan
berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit
sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musah sangat kuat dan
perang itu akan di menangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak
mereka kembali

"Kamu benar, orang tua," mereka menangis "Tuhan tahu kamu benar.
Ini membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah,
tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara
dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu.
Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan
anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan.
Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu

-----

Orang tua itu benar. kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.
Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu
halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik
kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga
kesabarannya. Mungkin dari tukang kayu lain di Galelia. Sebab
tukang kayu itulah yang paling baik mengungkapkannya:

"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. "

Ia yang paling tahu.
Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab terakhir.

di sadur dari : Chapter 15: In The Eye of The Storm - Max Lucado


-----Original Message-----
From: Hira D.G. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 24 September 1999 06:28
Subject: Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London


>Bung Ambara,
>
>Memang benar semua kita bersalah. Saya setuju itu. Tetapi konteks
>pembicaraan kita tadinya adalah bahwa mereka di Barat memboikot hal-hal
>yang tidak terkait soal Timtim seolah-olah pemerintah mereka tidak ikut
>bersalah dalam masalah Timtim. Saya pikir konteksnya adalah bahwa
>pemerintah di Barat itu bermuka dua, di depan masyarakat mereka terkesan
>demokratis dan menghormati ham, sementara mereka tidak segan membantu
>pemerintahan yang jelas-jelas melanggar Ham. Hari ini di Jakarta Post ada
>sebuah surat pembaca yang ditulis oleh seorang Barat yang amat menarik. Dia
>pertama memberikan selamat kepada Wiranto karena sekali lagi berhasil
>mendapatkan dukungan dari angkatan bersenjata AS untuk menjadi calon
>presiden. Tentunya nadanya sinis. Kemudian dia mengatakan bahwa hal itu
>berarti demokrasi yang baru mulai berproses di Indonesia akan digusur sama
>seperti ketika Ford dan Henry Kissinger datang ke jakarta seminggu sebelum
>penyerangan TNI ke timtim untuk mengatakan "go ahead, we will help you".
>Pada intinya dia membongkar "konspirasi AS agar Indonesia tetap dibawah
>pemerintahan militer di masa lalu dan mungkin juga di masa mendatang".
>
>Jadi Bung Ambara, salah kita semua, kita akui. Salah pemerintah Barat, kok
>malah sok jadi pahlawan. Tidak beda dengan Baramuli kan? Kenapa harus kita
>akui Barat sebagai kiblat demokrasi? Tujuan saya menulis surat ini adalah
>mencoba membelokkan wacana kita selama ini yang berkiblat ke barat sebagai
>kelompok yang pembela ham, pembela lingkungan hidup dll. Padahal, mereka
>hanya membela kepentingan mereka (paling tidak pemerintahnya). SEkian dan
>mudah-mudahan jadi bahan renungan.
>
>Salam
>Hira
>
>
>
>----------
>> From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: '[EMAIL PROTECTED]'
>> Subject: RE: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
>> Date: Thursday, September 23, 1999 7:23 AM
>>
>>
>> Yang membilang bahwa Barat mensuplai mileter/membantu militer Indonesia
>dan
>> mereka berhak juga disalahkan sama juga dengan menyalahkan saya sebagai
>> warganegara dan anda-anda sekalian yang membayar pajak per bulan ke
>> pemerintah, tapi cucuran hasil keringat kita dipakai untuk membantai
>> saudara-saudara kita....
>> Atau juga salahkan kekayaan alam didaerah-daerah (gas,minyak bumi,
>batubara)
>> yang dirampok dari daerah (Irian Jaya, Kaltim, Riau, Achech)..dibawa ke
>> Jakarta, sampai di Jakarta sebagian besar dikorupsi, sebagian lagi
>dipakai
>> militer untuk membiayai perang melawan rakyatnya sendiri, dan hanya
>sedikit
>> sekali kembali kedaerah, sehingga rakyat daerah tetap menderita, susah
>> sekolah, jalanan berdebu/tidak ada jalan, susah air dsb : Apakah itu
>berarti
>> kita semua bersalah...
>> Yah memang kita semua bersalah karena tidak memperingatkan (tidak berani
>> memperingatkan/mencegah) angkatan bersenjata jahanam yang petantang
>> petenteng dengan sangkur, bedil, dan senjatanya menyiksa,membunuh dan
>> menekan rakyat diseluruh Indonesia...
>>
>> salam
>>
>> GNA
>>
>> > ----------
>> > From: Hira D.G.[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> > Sent: Wednesday, September 22, 1999 8:20 PM
>> > To: [EMAIL PROTECTED]
>> > Subject: Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
>> >
>> > Harry, Yani dan teman-teman,
>> >
>> > Saya setuju dengan komentar Yani Witjaksono. Saya pikir perlu kita
>> > jelaskan
>> > bahwa seluruh Indonesia bukanlah TNI yang brutal di Timtim. Kita juga
>> > perlu
>> > jelaskan bahwa masalah Timtim bukan hanya salah TNI Indonesia (yang
>harus
>> > kita akui sebagai pelanggar ham) tetapi negara barat yang selama ini
>> > menyokong Abri dalam hal latihan militer dan dana. Pemerintah Barat
>selama
>> > ini kemana ketika ngasih bantuan itu? Bukankah mereka juga tahu. Waktu
>itu
>> > masyarakat Australia banyak yang menentang, tetapi malah pemerintahnya
>> > membela kepentingan mereka di Timtim lewat Indonesia. Jadi mari kita
>> > bernalar dengan mereka seperti kata Yani.
>> >
>> > Terima kasih dan salam
>> > Hira
>> >
>> > ----------
>> > > From: witjaksono <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > To: [EMAIL PROTECTED]
>> > > Subject: RE: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
>> > > Date: Wednesday, September 22, 1999 6:20 AM
>> > >
>> > > Harry:
>> > > Jangan terlalu berkecil hati dengan kampanye pemboikotan seminar
>terumbu
>> > > karang di Bali. Orang aneh pasti ada saja.  Yang penting,
>orang-orang
>> > aneh
>> > > itu  perlu diberi pengertian.  Kalau orang-orang aneh itu ilmuwan,
>bukan
>> > > politikus, saya punya harapan untuk bisa bernalar dengan mereka.
>Saya
>> > > percaya bahwa mereka bisa diajak bicara dan diminta berfikir lebih
>adil.
>> > > Kalau ada yang tahu alamat pengkampanye tentang pemboikotan seminar
>> > semacam
>> > > itu, tolong kirim ke list lingkungan ini.  Saya akan coba meluangkan
>> > waktu
>> > > untuk bernalar sehat dengan mereka.
>> > >
>> > > Salam,
>> > > Witjaksono
>> > >

_______________________________________________________
Are you a Techie? Get Your Free Tech Email Address Now!
Many to choose from! Visit http://www.TechEmail.com

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke