Soal tambang di Indonesia saat ini yang menjadi ramai dibicarakan di
mana-mana adalah apakah kita tidak perlu tambang lagi. Isu itu dikaitkan
dengan pernyataan JATAM: Tutup Tambang, yang menyebar meluas ke seluruh
penjuru dunia. Kalau dilihat pengalaman kegiatan pertambangan di Indonesia
masa orde baru hal itu bukanlah mengada-ada. Banyak realita di lapangan
menunjukkan praktek pertambangan yang buruk. Dari pertambangan skala raksasa
seperti Freeport sampai tambang rakyat kecil-kecilan yang diberi cap PETI.
Di Kalimantan pernah ada tambang rakyat dengan cara mendulang di hulu-hulu
sungai. Saat ini tambang-tambang kecil itu sebagian besar diganti dengan
peralatan besar yang menyedot air menggunakan mesin-mesin berkekuatan besar.
Tambang sangat jelas tidak pro lingkungan. Kalau ada yang bilang tambang pro
lingkungan, itu adalah usaha meminimalkan akibatnya. Dalam perjalanan
sejarah, manusia membutuhkan bahan-bahan tambang. Dari menambang tanah,
bahan keras/batu, logam dan mineral, sampai bahan bakar untuk energi.
Pertambangan adalah pilihan strategis untuk memanfaatkan potensi kekayaan
alam. Rusia mengumpulkan besi-besi di negaranya untuk membangun industri dan
militernya. Dasar pemikiran pilihan itulah yang penting. Untuk apa
menambang?, manfaat APa yang akan didapat dari menambang? Habis menambang
lalu apa?, dst karena sekali menambang akan ada akibat-akibat yang tidak
mungkin bisa dikembalikan lagi. Apalagi di Indonesia, yang terdiri dari
pulau-pulau yang umumnya adalah merupakan kawasan-kawasan ekosistem unik
yang rentan dan memiliki endemisitas spesies yang kaya.
Dalam beberapa hal, kebijakan pemerintah tidak bisa mengambil
pilihan-pilihan yang tegas. Banyak kepentingan harus diakomodir. Dalam
kaitan dengan pertambangan dan sektor-sektor lainnya, pilihan menghentikan
penambangan mungkin juga mendatangkan implikasi yang besar. Bahkan di
kegiatan Pertambangan emas Taman Nasional Gunung Halimun, banyak orang
percaya, biarkan saja pertambangan rakyat tetap berjalan meskipun liar,
karena pertambangan itu mendatangkan manfaat ekonomi, rakyat bergairah, ada
perdagangan, ada transaksi-transaksi, singkatnya kehidupan berdenyut. Bahkan
kenapa harus repot dengan lingkungan yang rusak???
Ada niat positif pemerintah untuk mencari jalan keluar. PP 27/99 misalnya,
akan memberi peluang pilihan sangat besar pada masyarakat sekitar untuk
menjatuhkan keputusan, apakah memilih mengizinkan atau menolak masuknya
kegiatan pengusahaan di tempat mereka. Saya nilai ada niat baik dan ada
usaha. Yang menjadi penting mungkin, bagaimana masyarakat bisa cerdas
menjatuhkan pilihan. Di masyarakat juga banyak kepentingan yang bermain,
banyak tarik menarik antara satu kepentingan dengan kepentingan lain. Hal
itu wajar dan biasa terjadi.
Jadi, dalam menentukan pilihan apakah kita perlu tambang atau tidak yang
paling penting adalah jawaban masyarakat itu sendiri. Kalau kita mengatakan
Tutup Tambang, setidaknya itu adalah pilihan rakyat yang tidak menginginkan
daerahnya rusak, tetapi jika rakyat mengatakan silakan menambang di kawasan
kami, setidaknya pilihan itu adalah pilihan yang dipertimbangkan dengan
matang dengan segala harapan dan akibat yang timbul, untuk kepentingan
mereka sendiri.
Salam,
Bambang RS
-----Original Message-----
From: Amir Sodikin <[EMAIL PROTECTED]>
To: ET Paripurno <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 10 Agustus 2000 10:14
Subject: [lingkungan] Re: [envirowatch] Re: [lingkungan] Tambang Emas di TN
>Ya.....memang ketika pasca Aristoteles paradigma ekologi dan ekonomi mulai
"berpisah". Dulu sih katanya nggak dikotakkan sedemikian rupa. Sekarang
memang Indonesia sedang menghadapi perdebatan sulit mengenai ekonomi Vs
ekologi. Sebenarnya siapa sih yang "diperjuangkan" untuk bisa exis,
"manusia" atau "lingkungan".
>
>Apapun pilihannya, yang jelas real di lapangan kita melihat banyak
kerusakan yang diakibatkan oleh pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan
transformasi masyarakat tempatan proyek. Sementara perubahan sosial yang
diklaim bisa menyediakan sekian dollars devisa dan sekian peluang tenaga
kerja harus dibayar mahal dengan "keberlanjutan pengelolaan SDA yang
tergadaikan".
>
>Saya percaya semua pertambangan sekarang melengkapi dirinya dengan para
konsultan handal, handal di bidang ekonomi, lingkungan dan juga pendekatan.
Nah bagaiamana sekarang dialog "ekonomi" yang diwakili oleh insan pebisnis
dan pengambil kebijakan dengan "ekologi" yang diwakili oleh pegiat NGO bisa
disinergikan.
>
>Jaminan apa sebenarnya yang bisa deberikan oleh pihak penambangan untuk
menyatakan bahwa perusahaan tersebut komit terhadap kepentingan lingkungan
serta memberikan kontribusi signifikan bagi kesejahteraan khalayak. Serta
mekanisme apa yang bisa mengontrol terhadap garansi jaminan ?.
>
>Usul saya hanya itu dulu.
>
>Amir Sodikin
>LINGKUP Indonesia.
>==================
>
>>kawan pemerhati lingkungan juga,
>>
>>saya sepakat bahwa kawan-kawan lsm mesti melengkapi dengan pemahaman yang
>>cukup tentang apa yang akan diperjuangkan. bisa secara langsung atawa
enggak
>>langsung. yang langsung ya belajar sendiri, yang enggak langsung ya pake
>>"konsultan"
>>memang enggak adil jika kritik dan "tantangan" dilontarkan hanya sekedar
>>"tidak suka". jadi, dicoba yang terbaik yang dipilih. semoga saja itu
bisa.
>>
>>salam
>>
>>et paripurno
>>t : 62-274-870078; f : 62-274-870323
>>e : [EMAIL PROTECTED]
>>----- Original Message -----
>>From: Mohammad Suryadi <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
>><[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
>>Sent: Tuesday, August 01, 2000 7:27 AM
>>Subject: [envirowatch] Re: [lingkungan] Tambang Emas di TN
>>
>>
>>> Rekan pemerhati lingkungan
>>>
>>> Pak Eko, saya ada sedikit pendapat, yang juga mungkin berguna bagi
>>teman-teman pemerhati lingkungan lainnya.
>>>
>>> Sebenarnya dimanapun penambangan dilakukan akan menyebabkan kerusakan
>>lingkungan, tapi kerusakan lingkungan tersebut dapat diperkecil dengan
>>adanya pengawasan dari pihak berwenang dan komitment perusahaan untuk
>>melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang sungguh-sungguh.
>>Artinya segala resiko kerusakan lingkungan telah benar-benar diantisipasi,
>>sehingga perangkat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang diperlukan
>>telah dipersiapkan terlebih dahulu dan komitment untuk melaksanakannya
>>secara benar. Tambang-tambang dinegara maju, seperti Australia misalnya
>>penambangan tidak hanya dilaksanakan di kawasan TN, bahkan didekat kawasan
>>pemukiman (bawah tanah) dapat diperkecil dampaknya karena komitment
>>perusahaan yang baik dan aparat pemerintah yang serius serta LSM yang
>>bertanggungjawab.
>>> Yang banyak terjadi selama ini adalah terjadinya kritik-kritik dari LSM
>>terhadap lingkungan tanpa pengetahuan yang cukup mengenai lingkungan itu
>>sendiri.
>>>
>>> Salam
>>
>>
>>
>>--------------------------------------------------------------------<e|-
>>Lonely? Get Firetalk!
>>Free, unlimited calls anywhere in the world.
>>Free voice chat on hundreds of topics.
>>http://click.egroups.com/1/5477/8/_/26578/_/965720926/
>>--------------------------------------------------------------------|e>-
>>
>>=============Petunjuk EnviroWatch====================
>>
>>Berhenti berlangganan, kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
>>
>>Berlangganan kembali, kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
>>
>>Berkorespondensi dengan anggota lain, kirim ke : [EMAIL PROTECTED]
>>
>>======================================================
>>
>>
>>
>================================================
>LINGKUP Indonesia
>Jl. Jembatan Merah, Cepit Baru : 193, Soropadan,
>CC, Yogyakarta. Ph/Fax : 0274-514025.
>WEBSITE : http://lingkup.gq.nu,
>E-mail : [EMAIL PROTECTED]
>-----------------------------------------------
>Free & Easy! Love, Peace, Email http://JMAIL.CO.JP
>
>--
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/