All,
Kelihatannya semua ikut prihatin dengan "akan mungkin" dilakukan penambangan di
kawasan taman nasional. Usaha penambangan dimana pun di dunia akan "merubah" wajah
lingkungan baik fisik maupun non-fisik, hal ini tidak dapat dipungkir lagi. Saya
mengatakan "merubah" bukan merusak lingkungan, karena perubahan yang terjadi ada yang
bersifat positif ada pula yang negatif. Sedangkan merusak lingkungan adalah hal yang
negatif.
Tambang rakyat atau yang disebut orang PETI, dapat dikatakan total merusak lingkungan,
karena konsep penambangannya adalah "mendapatkan logam mulia semurah dan secepat
mungkin". Berbeda dengan tambang modern. Berdasarkan pengalaman, sebelum penambangan
dilaksanakan, telah diadakan terlebih dahulu beberapa tahapan studi, mulai dari
explorasi, kelayakan (ekonomi-lingkungan-teknis), khusus studi lingkungan (mulai dari
masa explorasi, konstruksi, dan operasi penambangan). Berdasarkan dokumentasi yang ada
dan "kontrak karya" dari pemerintah, maka tambang modern mudah untuk diawasi
pelaksanaannya sehingga dapat merubah wajah lingkungan dengan dampak negatif yang
sekecil mungkin, dibandingkan dampak positif yang diperoleh, baik oleh masyarakat
sekitar, pemerintah maupun tenaga kerja pertambangan. Faktor pengawasan oleh
masyarakat, pemerintah dan LSM adalah hal yang sangat penting sehingga dampak negatif
yang sudah diprediksi sebelumnya tidak semakin besar. Bukankah "ada tambang ada uang
dan pemerintah dapat bayar utang serta pembangunan terus berjalan dan penganguranpun
berkurang"
Maaf ini cuman masukan yang mungkin tidak bermanfaat banyak
salam
>>> "ET Paripurno" <[EMAIL PROTECTED]> 08/08 6:05 AM >>>
pak bambang, terimakasih berat informasi dan wejangannyanya. kami
bener-bener butuh masukan macam itu. informasi dari pak bambang dan
kawan-kawan lain, rencananya akan kami bikin "buku pinter". oleh karena itu
kami juga sedang nyari bahan ke kawan-kawan yang mempunyai latar belakang
ilmu tambang. saya sendiri enggak terlalu ngeh tentang proses produksi.
kalau perkara eksplorasi bolehlah , orang geologi sih.
kalau selama ini lazimnya penjarahan atas taman nasional dibabat habis
pohonnya, dan di embat ragam faunanya. maka sebentar lagi akan diembat
emasnya. saya sangat sepakat dengan konsep manajemen sumberdaya berbasis
masyarakat. asal bener saja melakukannya. cuma pertanyaan saya, dimana ada
pengelolaan sumberdaya (khususnya kawasan konservasi) yang berbasis
masyarakat, sehingga bisa digunakan model untuk mentoring? sokur kalau
tambang emas.
et paripurno
t : 62-274-870078; f : 62-274-870323
e : [EMAIL PROTECTED]
----- Original Message -----
From: Bambang Ryadi Soetrisno <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, August 01, 2000 9:48 AM
Subject: Re: [lingkungan] Tambang Emas di TN
> Wah maaf kalau saya kelihatannya memberi wejangan...
>
> Contoh yang paling dekat, barangkali di TNGH (Taman Nasional Gunung
> Halimun). Di TNGH ada PT Aneka Tambang yang menambang emas di daerah
> Pongkor, perbatasan TNGH. Tambang itu perluasan dari tambang Cikotok yang
> operasi sejak abad ke 19.
> Secara teknik, tambang di Pongkor sangat canggih dan termasuk menggunakan
> teknologi mutakhir. Teknik pertambangan dilakukan dengan sistem terowongan
> horizontal, dengan asumsi tidak akan merusak permukaan TN, tailing dibuang
> ke terowongan yang sudah tidak terpakai. Jadi sistem bikin lubang di satu
> tempat dan di tutup lagi. Pemurniannya tidak lagi menggunakan merkuri.
> Pokoknya katanya tergolong teknologi paling modern di Asia.
> Dari sisi itu sejauh ini tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah,
demam
> emas itu mengundang banyak orang datang masuk ke TN dan menambang di
> lokasi-lokasi di atas terowongan-terowongan yang dibuat ANTAM. Jumlahnya
> ribuan, dan mereka menggali lubang di mana-mana. Proses pertambangan
mereka
> dilanjutkan dengan pemurnian menggunakan merkuri yang di proses di
> sungai-sungai yang mengalir di TN.
> Persoalan yang berkembang bahkan menjadi lebih kompleks ketika ANTAM dan
> BAPPEDAL mengeluarkan pernyataan bahwa sungai-sungai yang berasal dari
TNGH
> dan mengalir ke Cisadane yang menjadi sumber air minum warga Jakarta,
> tercemar merkuri. Pencemaran merkuri memang bukan dilakukan oleh ANTAM,
> tetapi ANTAM jelas memicu terjadinya pencemaran di kawasan tersebut, jadi
> pertambangan emas di kawasan itu tidak bisa cuci tangan.
>
> Contoh itu menggambarkan bahwa persoalan pertambangan di TN bukan hanya
> sekedar soal teknologi, tetapi dampak sosial pertambangan terhadap kawasan
> TN saya katakan akan menutup tujuan utama kita dalam mengkonservasi
kawasan.
> Jadi harus konsisten, jika kawasan itu dikonserv ya jangan ada
> kegiatan-kegiatan yang kontra di dalamnya.
> Saya kira masih banyak soal lain, cuma kan masalahnya sekarang sangat
> berkaitan dengan keinginan dan kebanggaan daerah. Jatim waktu lalu kan
tidak
> punya hasil tambang selain golongan C, kalau saat ini ada tambang emas
maka
> orang-orang pertambangan di Jatim bisa merasa lebih bangga karena dapat
> menyumbang untuk pemasukan daerah lebih besar. Bahkan bukan hanya buat
> orang-orang pertambangan, tetapi mungkin orang se Jatim jadi lebih bangga,
> karena di daerahnya juga ada tambang emasnya.
>
> Bambang Ryadi Soetrisno
> -----Original Message-----
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/