>Kalau di Indonesia, karena faktor ekonomi, saya cenderung meng-encourage
>orang2 untuk mendapatkan hasil komersial dari sumbangannya ke open source
>community.
>
Sepakat, tinggal dicari bentuk yang pas untuk ini bagaimana ?
Apakah model seperti ini:
a. seorang developer dikontrak oleh satu perusahaan IT:
- x% waktu untuk mengerjakan pekerjaan perusahaan
- (100-x)% waktu untuk proyek open-source yang didukung perusahaan
b. karya seorang developer dibeli oleh satu perusahaan IT atau Yayasan IT
lalu itu dilepas ke open-source (kalau software) / open-content (kalau
dokumen atau buku)
atau ?
Jadi kepikiran nih, ada peluang nggak kalau kita galakkan kegiatan nomor (b)
dengan dana dari luar negeri ?
Dengan demikian proyek membuat atau menerjemahkan buku atau dokumen tidak
perlu mesti 100% pakai dana sendiri (meski sebetulnya biasanya juga sampingan
dari pekerjaan lain), melainkan disubsidi dari dana luar negeri ini...
Anyway, saya sendiri nggak yakin lho kalau disubsidi jadi lancar banget, paling
sedikit lebih lancar. Kenapa nggak yakin ? Dulu RMS46 mengajukan 'proyek' CPL
(Cabang Pengembangan Linux) yang antara lain setiap menghasilkan dokumen
dihargai sekian perak per halaman, sampai akhir masa anggaran, dananya baru
terpakai sedikit.. Begitu pula di sini, penulisan SOP (yang notabene seharusnya
bagian integral dari pekerjaan masing - masing :-) akan dihargai sekian perak,
tetap saja sampai setahun berlalu, hasilnya nyaris tak terdengar :-)
Mungkin lebih tepat dana dari luarnya untuk memperbaiki 'budaya' menulis itu
sendiri ya...
--
/_/ _/ /_/_/_/_/ *Everything has its own beauty but not everyone sees it
_/_/_/ _/ HDS5 _/ (KongFuTze) +rev. 10 Oct 00 #include <std/disclaimer.h>
/_/ _/ /_/_/_/_/_/ Save the country: Use Linux 4 Any Server / NetAppliance
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]