Bila seseorang sudah bernaturalisasi menjadi WNI, maka asal usulnya 
tidak boleh kita permasalahkan lagi. Apakah WNI itu keturunan China 
atau Arab atau Belanda, bila telah menjadi WNI maka hak dan 
kewajibannya sama persis dengan WNI lainnya. Sehingga bila mereka 
membom Bali, maka mesti disebut "WNI ('tok) membom Bali", bukan 
ditambah embel-embel "WNI keturunan Arab membom Bali", betapa pun 
marahnya kita kepada mereka.

Tulisan di bawah ini jelas bersifat RASISTIS, dus tidak layak dimuat 
di media massa Indonesia. Kecuali bila media massa Indonesia tidak 
paham kode etik jurnalistik. Semoga menjadi perhatian kita semua 
demi membangun kerukunan di Indonesia, amin.

Salam hangat,
Danny Lim
Nederland (negara sangat anti rasisme)


--- In [email protected], Rudy Prabowo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> WNI Keturunan Arab dan Islam Radikal di Indonesia 
>  
> oleh He-Man 
> 
>  
>     Tragedi pemboman di Bali kembali memunculkan nama Abu Bakar 
Ba'asyr pemimpin Majelis Mujahiddin Indonesia yang oleh banyak 
negara dituding terlibat aksi-aksi terorisme di beberapa negara di 
Asia Tenggara. 
> 
>    Dalam seminar "Arab dan Islam di Indonesia Dewasa  Ini" yang 
diselengarakan PP Muhammadiyah padahari Rabu  9 Oktober 2002 ==>> 
>   http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/PAP/BaliBomb-2.html
>    
>   Pimpinan NU dan Muhammadiyah menyatakan kekuatirannya akan aksi-
aksi radikalisme Islam yang dipimpin oleh para WNI keturunan Arab di 
Indonesia , dari Laskar Jihad yang dipimpin Ja'far Umar Thalib, 
Front Pembela Islam (FPI) dipimpin Habib Rizieq Shihab, Majelis 
Mujahidin Indonesia dipimpin Abu Bakar Ba'asir, dan Jamaah Ikhwan al-
Muslimin Indonesia dipimpin Habib Husein al Habshi. Pada masa lalu 
kita juga mengenal nama Abdullah Sungkar (alm)  WNI keturunan Arab 
yang melakukan sejumlah aksi pemboman di Indonesia. Demikian juga 
gerakan tarbiyah yang dipimpin oleh WNI keturunan Arab yang bermukim 
di Bogor. 
>   
>    Begitu pula tokoh-tokoh kunci lapis kedua gerakan-gerakan Islam 
radikal di Indonesia pun mayoritasnya dipimpin oleh  keturunan Arab 
atau orang Indonesia alumnus universitas Saudi Arabia, Presiden PK 
Hidayat Nur Wahid misalnya , demikian juga tokoh-tokoh lainnya 
seperti Ahmad Fais , Asmuni , Hambali , Aunur Rofiq Ghufran,Yazid 
Jawaz, Abu Haidar, Natsir Harist dll yang sebagiannya masuk dalam 
daftar hitam karena dicurigai terlibat dalam aksi-aksi  terorisme. 
>  
> Kalau melihat sejarah pergerakan Islam di Indonesia, komunitas 
warga Arab sejak lama memang menganut sikap eksklusivme yang 
berlebihan , mereka menganggap ras mereka lebih unggul dari orang 
melayu .Pernikahan antara perempuan Arab dengan laki-laki pribumi 
sangat diharamkan .Dan dikalangan masyarakat Arab Indonesia sendiri 
terbagi dalam dua kelas yaitu kelas Sayyid (atau juga biasa 
dipanggil Habib ataupun  Syarif) yang merupakan kelas "unggul" 
karena merupakan keturunan nabi, dan kelas "masaikh" atau kelas 
lebih rendah,  pertarungan antar kelas ini menimbulkan friksi keras 
antar warga Arab, warga Arab dari kelas Sayyid mendirikan Jamiat'ul 
Kheir, sementara kelas Masaikh mendirikan Al Irsyad , dalam AD/ART 
Al  Irsyad bahkan ditegaskan bahwa kaum Sayyid diharamkan untuk 
bergabung. Di kalangan para sayyid , pernikahan seorang sayyidah 
(perempuan sayyid) dengan non sayyid apalagi orang ajam/ non Arab 
bisa berakhir dengan kematian.    
> 
> Pada masa kekuasaan Ottoman masih jaya , kawasan hejaz dan 
hadramaut bisa dikatakan sebagai wilayah tak bertuan, walaupun 
secara administratif berada dalam kekuasaan orang Turki Ottoman tapi 
kalangan Arab disana rata-rata memiliki angkatan perang sendiri yang 
seringkali saling berperang antar  mereka sendiri , dan imbasnya 
juga terjadi di Indonesia. Perang antar klan ini sedikit demi 
sedikit mulai menghilang paska kejatuhan dinasti Turki Ottoman. 
>   
> Tapi pandangan yang menganggap ras Arab lebih unggul masih 
menghinggapi warga Arab di Indonesia. Masih sangat jarang terjadi 
pernikahan antara perempuan Arab dengan laki-laki ajam/non Arab. 
>   
> Paham Islam Radikal di Indonesia
> 
> Paham Islam radikal di Indonesia sebagian besarnya berorientasi  
pada paham Wahaby/Salafy radikal di Timur Tengah. Gerakan-gerakan 
yang berdiri di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh 
ulama garis keras timur tengah , mereka yang menentukan hitam 
putihnya gerakan. Pemilihan para tokoh pimpinan kelompok-kelompok  
fundamentalis biasanya ditunjuk langsung dari pusat (timur tengah) 
bukan pilihan dari bawah , kaum fundamentalis  dikenal sangat 
fanatik sehingga mereka akan 100 % menurut pada keinginan  top 
leader  mereka tanpa membantah . 
> 
> Inilah yang menyebabkan kenapa WNI keturunan Arab ataupun alumnus 
universitas di Saudi Arabia yang selalu menjadi pemimpin gerakan-
gerakan fundamentalis di Indonesia. Paham yang mengunggulkan ras 
Arab sangat kentara dalam gerakan-gerakan fundamentalis di 
Indonesia. 
> 
> Paham Wahaby dikenal sangat radikal dan cenderung pada aksi-aksi   
kekerasan , sejarah wahaby adalah sejarah penuh darah dan 
peperangan , kaum wahaby dimana pun di dunia akan selalu berusaha 
menggunakan  aksi-aksi kekerasan termasuk kepada sesama muslim demi 
mendapat kekuasaan. Dalam sejarah Indonesia, di Sumatera Barat aksi 
kekerasan  kaum Wahaby yang menyebut dirinya kaum Paderi menimbulkan 
perang saudara yang kemudian akhirnya dimamfaatkan oleh pemerintah 
kolonial Belanda.
> 
> Di Saudi Arabia sendiri kekuasaan kaum Wahaby disertai aksi  teror 
terhadap kaum muslim penganut aliran sunni-al asy'ariyah yang 
bermazhab syafi'i dan maliki juga kaum syi'ah, demikian juga ketika  
kaum Taleban yang beraliran Wahaby berkuasa di  Afghanistan , 
banyak  warga Syi'ah yang menjadi korban pembantaian massal, begitu 
pula  madrasah-madrasah kaum sunni-maturidy yang mayoritasnya 
bermazhab hanafi banyak yang dihancurkan 
> 
> Jadi aksi kekerasan dan teror memang sudah menjadi watak kaum  
wahaby , sehingga tidaklah terlalu mengherankan kalau kaum wahaby 
yang dipimpin oleh para WNI keturunan Arab di  Indonesia pun sangat  
identik dan menyukai aksi-aksi teror dan kekerasan baik terhadap 
kaum non muslim maupun pada muslim sendiri yang  berbeda aliran. 
> 
> Dua tersangka pemboman Bali yang bali ditangkap pun merupakan  
warga keturunan Arab yang bermukim di Solo.Solo dan Jogja merupakan 
pusat gerakan Wahaby/Salafy Indonesia yang berkiblat ke Saudi, 
selain juga Bogor yang merupakan basis kelompok Tarbiyah yang 
berkiblat pada Ikhwanul Muslimin Yordania (yang lebih radikal 
daripada IM Mesir) .Jadi tidaklah terlalu  mengherankan kalau 
sejumlah negara Asing mengindikasikan Bogor , Solo dan Jogja sebagai 
basis teroris, bahkan sejumlah negara Barat sempat melarang   
warganya berkunjung kesana. 
> 
> Dari sini kita bisa melihat bahwa gerakan fundamentalis Islam 
Indonesia  bukanlah gerakan lokal , tapi merupakan satu jaringan 
dengan gerakan   fundamentalis islam dunia , dan peran WNI keturunan 
Arab sangat berperan   besar dalam hal ini sebagai penghubung antara 
gerakan fundamentalis Islam di Indonesia dengan kelompok induk 
mereka di Timur Tengah.
>


Kirim email ke