Kita batasi dalam definisinya BPS ya.. bukan definisi yang beda, supaya ngga
jaka sembung.


On 7/11/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Kenapa begitu? Ambil contoh, kenaikan gaji tahunan/massal di suatu
perusahaan
5% sementara inflasi 10% (padahal kenaikan harga di pasar/warung jauh di
atas
angka inflasi tsb).. Artinya apa? IMHO, daya beli publik merosot.. Itu
bagi mereka yang
masih bisa bekerja/mendapat penghasilan bulanan rutin..

Anggaplah target survey BPS adalah para 'pekerja informal'.. Tetap saja
mereka bisa
dianggap sama dengan pekerja formal, karena yang disurvey angka pendapatan
&
konsumsinya toh? Hanya beda sumbernya saja.. Yang satu formal, lainnya
informail.. :-)


Jelas beda. Argumen anda pake argumen orang kantoran, sedangkan 85% yang
disurvey bukan orang gajian. Kalau pekerja formal merasa kenaikan gajinya
tidak cukup mengejar inflasi, ya tidak banyak hubungannya dg sampel BPS,
kebanyakan bukan mereka yang ditanya kok. Lagipula bukan pendapatan yang
dicatat, tapi pengeluaran.

Saudara saya ada yang punya warung. Pendapatannya setahun terakhir
meningkat, bukan karena dia jadi kaya, tetapi karena inflasi (harga2
jualannya naik). Pengeluarannya pun meningkat, bukan karena dia meningkatkan
konsumsinya tetapi lagi2 karena inflasi.

Jadi selama sampel tsb masih elastis mengikuti inflasi dan melampaui
pengeluaran 166 ribu/kapita/bln itu ya mereka diatas poverty line.
Itulah mengapa saya bilang, untuk micro-policy angka ini masih jauh dari
sufficient. Necessary but not sufficient. Perlu menengok definisi, metode
dan sampel sebelum menggunakannya lebih jauh.


Nah, kalau tahun lalu saja dengan daya beli yang belum merosot ada x jt
orang miskin,
apa benar, saat ini x jt justru berkurang? Bukankah dengan naiknya angka
patokan/
definisi kemiskinan, akan memicu meningkatnya jumlah (x jt)? Karena orang"
yang tadinya
masuk dalam level di atasnya bisa saja terbawa/merosot ke jenjang miskin.
Belum lagi kalau kita bicara soal daya beli yang menurun..


Setahu saya yang dijadikan sampel itu RT berdasarkan data BLT 2006. Jadi
kalau ada pengurangan kemiskinan, maka itu ditarik dari sampel ini.
(maksudnya ditarik ke populasi).

Misalkan pada periode maret 2005- maret 2006 ada x jt orang miskin. Ceteris
paribus (inflasi tetap, pengeluaran tetap) maka jumlah orang miskin pada
periode mar 2006- mar 2007 akan tetap x jt. Bener ga?

Sekarang kalau misal inflasi mar 06-07 < inflasi mar 05-06, dan pengeluaran
kita kontrol dg meng-adjustnya thd inflated poverty line (dari 152 rb ke 166
rb atau naik 9.67%).

Logikanya, ada kemungkinan x turun kan?


Sekedar contoh, dari hasil bincang" kecil dengan beberapa orang di
kampungnya
istri saya, uang 10 ribu rupiah sebelum harga BBM naik, masih bisa untuk
membeli
beras, sedikit lauk & minyak tanah.. namun setelah harga BBM naik, uang
segitu
hanya cukup untuk membeli sedikit beras & minyak tanah.. untuk lauknya
sudah defisit..



BBM naik terakhir thn berapa?  Susenas ini membandingkan periode maret 2006
ke maret 2007.
Justru dampak BBM jadi lebih kecil dibandingkan dg periode maret 2005 ke
maret 2006.


Faktanya, kenaikan harga barang seperti menjadi ritual tahunan atau bahkan
dadakan..
indikasinya adalah kelangkaan komoditas di pasaran.. Lah, berapa banyak
orang" yang
terkena dampak kenaikan harga tersebut? Sedikit? Atau malah berkurang
(baca: orang
miskin berkurang).. Ini memang contoh kecil/ sangat sederhana.. sangat
jauh dari metode
lembaga survey legal.. :D



Kalau soal naik harga (inflasi), dari saya masih kecil juga tiap tahun harga
selalu naik :)


wassalam,

fau

Kirim email ke