Oh gitu pak, saya pikir bohong dan Ulang adalah dua hal yang berbeda. karena kalau rakyat 60% lebih memilih SBY kan tidak bohong dong !! (Rakyatnya ).
soalnya gini, kalau diulang juga, lalu pak SBY yang menang lagi, masa ulang lagi ???. lah iya karena kepercayaannya katanya dibohongi?? lalu samapi kapan mau ulang lagi terus ??? Seperti posting saya pertama, bahwa saya dan masyarakat umum pada dasarnya adalah pekerja (lebih banyak Presentasinya ), nah kita2 ini senang pak kalau libur lagi, libur lagi. lalu masa ulang lagi,ulang lagi. jelas ini lebih kuat desakannya karena 60% yang milih SBY. bahkan jika presidenya Mega atau juga JK. saya akan yakin bahwa beliau2 itu pasti ingin yang terbaik buat Indonesia. tapikan bisa saja yang 60% pemilih bilang mereka berdua bohong juga. nah kalau saya SBY bisa ngebohongi 60% masyarakat Indonesia, nah yang salahkan masyarakatnya. jadi kita lihat saja dulu. karena jika pak Wal bilang menyesal 5 tahun Yad. nah kalau kita pilih JK atau Mega pun rasa itu akan sama kadarnya. karena semuanya belum teruji.semuanya juga bohong dan semuanya juga hanya janji. Tapi karena SBY menang kali ini nah buat apa kita buang2 waktu. karena kadarnya akan sama kalau kita hanya berpikir begitu. (siapapun yang terpilih ) yang harus kita pikirkan bahwa saat ini 60% lebih pilih SBY, nah kalau KPU kerluar jumlahnya jadi 70 % mau bicara apalagi, padahal sebelumnya kan bicaranya lihat KPU dulu jangan Quick Count. kapan abisnya masalah jika kita hanya bekutat di situ. padahal waktu sudah berjalan terus. padahal masalahnya hanya berjiwa besar dan menerima apa yang sudah dilakukan secara demokratis, yang kita lalui masih dalam tahap belajar2 ini. soal teror bom siapun kaga tahu . tukang ramal saja hanya bicara setelah kejadian, bahkan beri kabar kaget2an, bahwa akan ada lagi. jadi soal bom yang salah Yang ngebom itu bukan SBY. karena jika Mega jadi atau JK jadi bisa saja Bom itu tetap meledak, karena motifnya juga kita kaga tahu apa ? semua kaya penonton. analisa nya, kira2 doang. semua penonton biasanya lebih pandai dari yang main. ada yang bilang bom dirakit dalam hotel, lalu ada lagi yang bilang nonsen jika dirakit dalam hotel. dua2nya argumentasi masuk akal ,tapikan sifatnya dua2nya spekulasi. nah pilpres juga gitu, siapuan presidenya sifatnya masih spekulasi, tapi yakin niatnya semua pasti baik. kalau gagal banyak faktor, karena jika tidak didukung siapaun presidenya pasti gagal. nah bukinya dari zaman Sukarno hingga zaman SBY, peringkat negara miskin yang kesekian itu kaga ningkat-ningkat. jadi mau diapain juga sulit, jika kita tidak kerja sama. Dikantor saya ada atasan memerintah keras. ini jalan samapi tujuan. lalu atsan bagian lain lemah lembut juga jalan dengan mulus. karena semua didukung anak buahnya. tapi jika bagian yang keras, lalu ada yang tidak setuju , lalu neka -neko ,lalu bikin aturan yang lain atau tidak ikut perintah ,jelas yakin akan amburadul. sama, bagian yang lemah lembut, lalu dikacaukan oleh yang keras. kaga jalan juga. ada pepatah banyak jalan menuju Roma. jadi bisa lewat priok, lewat Cengkareng, lewat ciliwung atau cisandane juga sampai. hanya beda2 waktu sampainya. tapi tetap akan sampai. kalau satu tujuan, tapi jikalau dirong-rong lewat manapun kaga sampai2 ke Roma.nah itulah kita !! itulah negara kita, kaga sampai sampai karena dipecah - belah mulu mau, sejak jaman belanda hingga kini,kita kaga bisa bersatu.! rasanya cukup panjang lebar tuh mas Wal. ini niat baik, jika tulisan ini dibantah juga ,yang sama pasti kaga akan sampai2. bukan artinya tulisan saya minta kaga dibantah dan serba benar. tapi minimum ini pikiran umum dan standard. bahwa kebenaran itu memang begitu. nah kalau kita semua sama kita akan sampai puncak, kalau beda samapi kapanpun kita masih didasar. salam, Ft. ----- Original Message ----- From: Wal Suparmo To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Sent: Saturday, July 25, 2009 4:46 AM Subject: Re: -:: Milist NB::- Hasil Pilpres bisa Batal . Salam, Pilpres lebih baik diulang daripada menyesal 5 tahun yad. Belum pasti jadi presiden sudah mulai ketahuan kebohongannya yang bertubi2 dan kelemahannya sehingga teror bom bisa terjadi. Wsalam, Wal Suparmo
