Hi pak Tan

Setelah saya baca maka saya dapat menyarankan dari argument bapak :

 

1.      Hak masing2 individu atas pilihannya, tetapi kita juga harus mempunyai 
planning 5 tahun kedepan dengan mengajukan

Pertanyaan ke diri sendiri : Apakah saya masih bertahan hidup untuk 5 tahun 
kedepan lagi dengan kondisi yang terjadi selama 5 tahun

sebelumnya ( kita analisa sendiri ) ? 

Kalau saya pribadi maunya perubahan….

2.      Kita ngga usah pusing2 amat, kita tonton aja Acara di TV tentang 
kenyataan rakyat kita misalnya acara JIKA AKU MENJADI DI TRANS TV,

Kita lihat juga tetangga kita  apakah mereka susah apa ngga? Atau lihat aja di 
jalan2 masih banyak ngga pengemis?

 

Kesimpulan dari saya, segala sesuatu harus FAIR dalam arti JUJUR jika 
melaksanakan sesuatu kegiatan, Pemimpin yang baik harus berjiwa

NEGARAWAN 

Perubahan menurut saya adalah sesuatu yang tidak relavan dengan keadaan yang 
sebelumnya dan tidak akan terulang kembali serta memberikan 

Hasil yang terbaru.

 

Sekali lagi saya hanya mohon maaf jika tulisan saya ini tidak sesuai dengan 
keinginan atau menyinggung yang lainnya,

Ini hanya wacana dari hati saya sendiri dan tidak ada maksud lain

 

________________________________

 

________________________________

From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Tan (Lionwings)
Sent: Saturday, July 25, 2009 11:18 AM
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Subject: Re: -:: Milist NB::- Hasil Pilpres bisa Batal .

 

  

  

Oh gitu pak, saya pikir bohong dan Ulang adalah dua hal yang berbeda.

 

karena kalau rakyat 60% lebih memilih SBY kan tidak bohong dong !! (Rakyatnya ).

 

soalnya gini, kalau diulang juga, lalu  pak SBY yang menang lagi,  masa ulang 
lagi ???. lah iya karena kepercayaannya katanya dibohongi??

lalu samapi kapan mau ulang lagi terus ???

 

Seperti posting saya pertama, bahwa saya dan masyarakat umum pada dasarnya 
adalah pekerja (lebih banyak Presentasinya ), nah kita2 ini senang pak kalau 
libur lagi, libur lagi.

 lalu masa ulang lagi,ulang lagi.  jelas ini lebih kuat desakannya  karena 60% 
yang milih SBY.

 

bahkan jika presidenya Mega atau juga JK. saya akan yakin bahwa beliau2 itu 
pasti ingin yang terbaik buat Indonesia. tapikan bisa saja yang 60% pemilih 
bilang mereka berdua bohong juga.

 

nah kalau saya SBY bisa ngebohongi 60% masyarakat Indonesia, nah  yang salahkan 
masyarakatnya.

 

 jadi kita lihat saja dulu. karena jika pak Wal bilang menyesal 5 tahun Yad. 

 

nah kalau kita pilih JK atau Mega pun rasa itu akan sama kadarnya. karena 
semuanya belum teruji.semuanya juga bohong dan semuanya juga hanya janji. 

 

Tapi karena SBY  menang kali ini nah buat apa kita buang2 waktu.

 

karena kadarnya akan sama kalau kita hanya berpikir begitu. (siapapun yang 
terpilih )

 

yang  harus kita pikirkan bahwa saat ini 60% lebih pilih SBY, nah kalau KPU 
kerluar jumlahnya jadi 70 % mau bicara apalagi, padahal 

 

sebelumnya kan bicaranya lihat KPU dulu jangan Quick Count.

 

kapan abisnya masalah jika kita hanya bekutat di situ. padahal waktu sudah 
berjalan terus.

 

padahal masalahnya hanya berjiwa besar dan menerima apa yang sudah dilakukan 
secara demokratis, yang kita lalui masih dalam tahap belajar2 ini.

 

soal teror bom siapun kaga tahu . tukang ramal saja hanya bicara setelah 
kejadian, bahkan beri kabar kaget2an, bahwa akan ada lagi.

 

jadi soal bom yang salah Yang ngebom itu bukan SBY. karena jika Mega jadi atau 
JK jadi bisa saja Bom itu tetap meledak, karena motifnya juga kita kaga tahu 
apa ?

semua kaya penonton. analisa nya, kira2 doang. semua penonton biasanya lebih 
pandai dari yang main.

 

ada yang bilang bom dirakit dalam hotel, lalu ada lagi yang bilang nonsen jika 
dirakit dalam hotel. dua2nya argumentasi masuk akal ,tapikan sifatnya dua2nya 
spekulasi.

nah pilpres juga gitu, siapuan presidenya sifatnya masih spekulasi, tapi yakin 
niatnya semua pasti baik. kalau gagal banyak faktor, karena jika tidak didukung 
siapaun presidenya pasti gagal.

 

nah bukinya dari zaman Sukarno hingga zaman SBY, peringkat negara miskin yang 
kesekian itu kaga ningkat-ningkat. jadi mau diapain juga sulit, jika kita tidak 
kerja sama.

 

Dikantor saya ada atasan memerintah keras. ini jalan samapi tujuan.

lalu atsan bagian lain lemah lembut juga jalan dengan mulus. karena semua 
didukung anak buahnya.

 

tapi jika bagian yang keras, lalu ada yang tidak setuju , lalu neka -neko ,lalu 
bikin aturan yang lain atau tidak ikut perintah  ,jelas yakin akan amburadul.

 

sama,

bagian yang lemah lembut, lalu dikacaukan oleh yang keras. kaga jalan juga.

 

ada pepatah banyak jalan menuju Roma.

 

jadi bisa lewat priok, lewat Cengkareng, lewat ciliwung atau cisandane juga 
sampai.  hanya beda2 waktu sampainya. tapi tetap akan sampai. kalau  satu 
tujuan, tapi jikalau  dirong-rong lewat manapun kaga sampai2 ke Roma.nah itulah 
kita !!

 

 itulah negara kita, kaga sampai sampai karena dipecah - belah mulu mau, sejak 
jaman belanda hingga kini,kita kaga bisa bersatu.!

 

rasanya cukup panjang lebar tuh mas Wal.

 

ini niat baik, jika tulisan ini dibantah juga ,yang sama pasti kaga akan 
sampai2.

bukan artinya tulisan saya minta kaga dibantah dan serba benar. tapi minimum 
ini pikiran umum dan standard. bahwa kebenaran itu memang begitu. nah kalau 
kita semua sama kita akan sampai puncak, kalau beda samapi kapanpun kita masih 
didasar.

salam,

Ft.

 

 

        ----- Original Message ----- 

        From: Wal Suparmo <mailto:[email protected]>  

        To: [email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; [email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; 
[email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; [email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; [email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; [email protected] 
<mailto:[email protected]>  ; [email protected] 
<mailto:[email protected]>  

        Sent: Saturday, July 25, 2009 4:46 AM

        Subject: Re: -:: Milist NB::- Hasil Pilpres bisa Batal .

         

        Salam,
        Pilpres lebih baik diulang daripada menyesal 5 tahun yad.
        Belum pasti jadi presiden sudah mulai ketahuan kebohongannya yang 
bertubi2 dan kelemahannya sehingga teror bom bisa terjadi.
        Wsalam,
        Wal Suparmo
        
        



Kirim email ke