Israel Selalu Low Profile Dan Bersahabat
Sangat berbeda dengan negara2 Arab yang selalu congkak, gegabah, penuh fitnah,
dan selalu mengundang permusuhan.
Maka Israel justru sebaliknya, negara ini selalu low profile, selalu
merendahkan diri, tidak sombong, dan siapapun selalu diajaknya bersahabat tanpa
mem-beda2kan agamanya.
Bahkan Israel selalu berusaha membuka hubungan diplomatiknya dengan semua
negara2 Arab ataupun negara2 Islam. Untuk itu, apabila pada setiap musibah
yang dialami negara2 Arab atau negara2 Islam, Israel berusaha secepat mungkin
memberi response bantuannya tanpa syarat apapun juga.
Israel berhasil sukses dengan hubungan Internasionalnya, seperti China, India,
Jepang, Korea, Taiwan, Australia, dan seluruh negara2 dibenua Eropa termasuk
Russia.
Yang menyedihkan justru negara2 Islam itu, selalu menolak niat baik Israel
dalam membuka hubungan diplomatiknya, selalu menumbuhkan permusuhan, meskipun
selalu berusaha memerangi Israel tetapi selalu gagal atau kalah. Adalah
memalukan, negara2 Islam ini selalu menebarkan fitnah2 agar Israel dimusuhi
negara2 diseluruh dunia, agar Israel dikucilkan terisolasi diseluruh dunia.
Namun semua fitnah gagal, Israel tidak bisa terisolasi karena memang negara ini
tidak pernah mengisolasi dirinya.
Sebaliknya, akibat fitnah dan permusuhan yang dikobarkan negara2 Islam itu,
maka mereka sendiri yang akhirnya terisolasi dengan memenjarakan kebebasan
berpikir rakyatnya sehingga menjadi negara yang paling terkebelakang didunia
dalam genangan konsumerisasi yang mewah dari para ulama dan pemimpinnya.
Pada hakekatnya, perang itu adalah memaksakan kehendak satu pihak kepada pihak
yang lainnya.
Sebaliknya, Kompromi justru tawar menawar untuk menghindari perang dengan cara
mengalah dengan mengorbankan kehendak satu pihak agar bisa diberikan kehendak
yang bisa diterima oleh pihak lawannya.
Ajaran Islam essensinya adalah menolak kompromi meskipun tidak berterang untuk
mengajak berperang, tapi secara sembunyi2 menyerang dengan harapan bisa menang.
Begitulah, ajaran Islam menjadi latar belakang utama serangan mendadak oleh 10
negara2 Arab: Egypt, Jordan, Syria, Iraq, Libanon, Saudi Arabia, Sudan,
Tunisia, Morocco dan Algeria.
Kalo dulu Amerika membuat pernyataan perang dan berhasil mengalahkan Jerman dan
Jepang dalam perang dunia kedua yang berlangsung selama 5-6 tahunan, maka
Israel yang diserang secara mendadak tanpa pernyataan perang ternyata berhasil
mengalahkan ke 10 negara2 Arab yang sangat brutal ini hanya dalam waktu 6 hari
saja.
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat, maka Amerika melucuti senjata2 tentara
kerajaan Jepang, dan memaksanya menanda tangani perjanjian pengawasan
persenjataan Jepang oleh pihak Amerika sehingga sampai kiamat pun, Jepang tidak
bisa bangkit untuk memerangi Amerika kembali.
Tidak berbeda dengan nasib ke 10 negara2 Arab ini, mereka dipaksa Israel untuk
menanda tangani pengawasan persenjataan yang membolehkan Israel untuk masuk
kembali kenegara mereka dan menghancurkan setiap bangkitnya kekuatan2 baru
dinegara taklukannya. Wajar, seperti juga Jepang, maka ke 10 negara2 Arab
inipun sampai kiamat nantinya tidak mungkin bisa bangkit memerangi Israel
kembali.
Hal ini belakangan menjadi tanda tanya, mengapa mendadak Syria bisa mengancam
mau menyerang Israel? Memang secara teoritis tidak mungkin, tetapi ancaman
yang dikeluarkan oleh presiden Syria ini sifatnya adalah politis karena ketidak
puasan rakyatnya terhadap ketidak mampuan negara dalam menghadapi Israel. Jadi
sikap presiden Syria hanyalah pura2 saja agar dukungan rakyat dalam negerinya
bisa tetap mempertahankan kedudukan presiden ini selalu dalam keluarga Ashad.
Tapi bukan berarti militerisme di Syria tidak bisa bangkit kembali, tentu
setiap saat bisa bangkit kembali tapi tidak sukar untuk diatasi oleh Israel
yang kemudian bisa memperbaharui bentuk perjanjian yang lebih mengikat
kebebasan negara ybs.
Bangkitnya militerisme ini bisa dicontohkan kepada hezbollah di Libanon yang
akhirnya membawa kehancuran total dari pemerintahan Libanon. Libanon ini
adalah satu dari ke 10 negara2 Arab yang dulu ikut menyerang Israel. Akibat
negara Libanon dilucuti senjatanya, maka militerismenya muncul dalam bentuk
organisasi teror yang bernama Hezbollah dimana dibelakang layar secara
sembunyi2 pemerintah Libanon memberi dukungannya. Tapi kita sama2 menyaksikan,
akibatnya ternyata fatal, Libanon hancur total dan bantuan untuk renovasi
hingga kini belum juga muncul.
Berbeda dengan Iran, negara ini tidak termasuk dalam 10 negara2 Arab yang dulu
mengeroyok Israel, dan pada 1967 waktu itu Iran berada dibawah kekuasaan Syah
Pahlevi yang betul2 berorientasi kepada Amerika.
Namun Iran dari dulu hingga sekarang sama sekali bukan musuh sesungguhnya bagi
Israel, hal ini terbukti bahwa kerja sama dibelakang layar antara Israel-Iran
berhasil menghancurkan pabrik bomb nuklir yang dibangun oleh Sadam Hussein.
Iran merupakan kuda hitam yang menjadi tunggangan Amerika, artinya ber-pura2
menjadi musuh Amerika tapi dibelakang layar negara ini mensupplay berbagai
informasi penting yang mengancam kepentingan Amerika dan Israel dijaziran Timur
Tengah.
Ancaman yang serius bagi Israel tetap sama yaitu bangkitnya militerime di
Libanon bersamaan dengan militerisme di Syria. Pecahnya perang hanya
tergantung dari kemampuan Ashad presiden Syria dalam menetralisir radikalisme
rakyatnya sendiri, dan juga kemampuan pemerintah Libanon dalam menekan dan
melucuti Hezbollah.
Ny. Muslim binti Muskitawati.