Wah rame ya pembahasan masalah PRT dan BS... Saya mo ikutan sharing juga ya....
Pak Yusuf mungkin beruntung mendapatkan pembantu yang awet sampai 8 tahun. Yang lain malah ada yang 14 tahun, dan ada yang sudah ikut sejak orang tua masih muda. Wow! Andai saya yang dapat pembantu yang seperti itu pasti bersyukur sekali Terus terang saya dan keluarga saya (kakak, Ibu, orang tua) dulu kalau melihat ada keluarga yang gonta-ganti pembantu kita sampai berkomentar,"Ya ampun...diapain aja sih pembantunya sampe gak betah gitu? Mbok ya kalau punya pembantu itu di-awet², dibaikin, biar dia juga betah ama kita". Kita sekeluarga komentar begitu karena saat itu pembantu yang ada ikut sejak saya baru lahir sampai saya kelas 3 SMA. Setelah itu beliau ikut Kakak saya yang saat itu punya 2 orang anak balita cowok. Beliau keluar karena usia tua, sudah tidak sanggup lagi ikut bekerja di keluarga kami. Jadi beliau ikut bekerja di keluarga kami sekitar 22 atau 23 tahun. Setelah pembantu 'setia' ini resign, barulah kami tahu kenyataan yang lain...bahwa tidak semua orang memiliki kesetiaan, loyalitas dan watak sebaik pembantu kami dulu. Ibu saya berganti-ganti pembantu sampai sekiatr 3 tahun yang lalu (tapi entahlah apa sekarang akan ganti lagi, karena pembantu yang terakhir ini kabarnya juga belum kembali ke rumah Ibu setelah lebaran kemarin). Keluarga kami terutama Ibu sempat agak shock juga mendapati pembantu mulai ada yang suka mencuri, ada yang kalau ditengok pria diakui suaminya ternyata pada suatu hari suami asli & anak lakinya yang sudah dewasa melabrak orang tua saya & pembantu bersangkutan (akhirnya Ibu mengeluarkan pembantu tersebut), ada yang ternyata punya side job jadi piala bergilir tukang² yang kost di kampung sebelah komp perumahan kami (kebetulan kalau belanja ke peracangan yang bersebelahan dengan kost rumah petak). Yang paling kasihan adalah kakak saya yang anak tertuanya siku kanannya ditempel pakai setrika panas oleh pembantunya karena keponakan saya ini tidak bisa diam (waktu itu keponakan saya umur 3 atau 4 tahun). Ini cerita sungguhan lho, bukan saya membesar-besarkan atau rekayasa. Ya selain pembantu² yang 'parah' kelakuannya ya ada juga sih yang baik, tapi terus terang hingga saat ini kami belum pernah mendapatkan pengganti pembantu yang tingkat kerajinan, ketulusan, loyalitas ataupun kebaikan kepada keluarga kami seperti pembantu 'setia' kami yang dulu. Sampai hari ini Ibu saya dan si Mbok yang sudah pulang kampung ini masih saling mengirim surat untuk saling menanyakan keadaan keluarga masing². Saya sendiri baru punya pembantu setelah hamil. Pembantu pertama tidak betah karena kesepian sendirian di rumah, pembantu kedua cukup bikin saya agak males sebenernya untuk cari pembantu lagi, saking aja saya saat ini masih membutuhkan jasa pembantu. Pembantu kedua ini Ibu berusia sekitar 40-45an, saya senang sekali pertamanya karena saya anggap dia sudah 'senior', saya berharap kemampuan dan kebaikannya seperti pembantu yang mengasuh saya sejak lahir. Ternyata??? Saya baru tau setelah dia resign dan dapat pembantu baru. Pembantu baru ini beberapa kali saya pergoki sedang ditawari dan dipaksa oleh tetangga untuk makan di rumahnya, tapi pembantu saya menolak. Saya tanya, kenapa sih Ibu sebelah suka mengendap-endap ngobrol ama kamu? Emang kamu ditanyain apa? Jawabannya bikin saya shock. Ternyata pembantu yang dulu suka curhat, katanya saya sering tidak kasih dia makan, kalau sakit tidak dibawa ke dokter dan tetap disuruh kerja. Aduuuhhh...amit²!!! Seumur-umur saya nggak pernah berlaku seperti itu sama pembantu. Langsung rasanya saya sakit hati banget. Tapi mau apa? Orangnya sudah resign beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu saya memang lebih hati-hati lagi dengan pembantu. Terus terang saat ini kalau saya punya pembantu baru, salah satu aturan di awal kerja adalah apabila saya mengetahui dia memfitnah saya dan keluarga, akan langsung saya keluarkan. Terus terang sampai saat ini saya masih sulit memaafkan si Ibu yang pernah bekerja pada saya itu, kebaikan kami kok dibalas dengan fitnah seperti itu. Alhamdulillah pembantu yang saat ini orangnya baik, anak saya juga sangat suka dengannya (walaupun job desc dia tidak termasuk mengurus anak). Menurut saya sih memang dapat pembantu itu untung-untungan juga, sama saja seperti dapat karyawan untuk perusahaan. Bedanya kita cuma bertemu dengan karyawan di kantor saja, tidak saling memasuki area kehidupan pribadi masing² pihak, tapi kalau pembantu/BS ini ikut masuk area kehidupan pribadi kita. Di situlah kita juga akhirnya saling menemukan watak asli masing², termasuk kekurangannya. Karyawan di perusahaan juga wataknya aneka macam kan, dari yang menyenangkan sampai yang bikin dirinya sendiri bisa dipecat perusahaan, hehehe. Saya juga berpendapat bahwa pembantu jaman dulu dengan jaman sekarang (yang kebanyakan adalah masih anak muda) sangat berbeda. Pembantu jaman dulu bekerja dengan loyalitas yang tinggi, sedangkan kalau sekarang memang kenyataannya banyak yang money oriented tapi tidak memiliki etos kerja yang baik. Banyak dari mereka yang ingin kerjaan mudah tapi duit banyak. Atau kalau BS, karena merasa job desc-nya hanya ngurus anak, seringkali dari mereka juga merasa statusnya lebih tinggi dari pembantu (kakak saya sering bermasalah dengan konflik antar BS dan pembantu, saya rasa ibu² yang lain juga mungkin banyak yang mengalaminya ya?) sehingga sama sekali tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga sedikit pun walaupun sebenarnya hal tersebut sesuatu yang sepele yang tidak akan merubah job desc mereka sebagai BS. Jadi Pak Yusuf, tidak salah juga lho Ibu² di milis ini banyak yang complain mengenai pembantu/BS. Setiap orang pastilah ingin memiliki pembantu/BS yang baik dan awet. Saya sioalnya dulu juga punya pikiran seperti Anda, Pak. Kita tidak akan mengerti bagaimana rasanya berada dalam posisi para Ibu yang bermasalah dengan pembantu sampai kita sendiri akhirnya berada pada masalah yang sama.Saya rasa jaman sekarang juga kita-kita ini sudah cukup terdidik kok untuk memperlakukan pembantu/BS dengan baik, apalagi pembantu/BS jaman sekarang juga lebih berani protes, lebih berpendidikan juga dan saya rasa itu bagus juga, sebagai bentuk aktualisasi hak bicara mereka, sebagai bentuk kesadaran mereka untuk melindungi dirinya sendiri juga. Jadi kita juga gak bisa semena-mena sama pembantu/BS. Sayangnya banyak juga sih emang yang tidak tahu diri dan menurut saya itu selain karena pembawaan watak dari sononya yang kurang baik, juga karena pemahaman yang kurang mengenai timbal balik yang baik mengenai hak dan kewajiban seorang pekerja. Mungkin ini yang kita para pengguna jasa pembantu/BS juga harus berusaha memberi tahu mereka tentang pemahaman ini, sekalian kitanya juga harus menerapkan yang baik dan benar lho. Jadi buat para Moms yang sampai hari ini belum dapat pembantu/BS yang baik, jangan putus asa juga ya...yang sabar. Selain juga untuk introspeksi diri mengenai kekurangan kita terhadap mereka. Rina --- On Thu, 10/9/08, .:merry:. <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: .:merry:. <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [parentsguide] Maaf tentang PRT/BS To: "Parents" <[email protected]> Date: Thursday, October 9, 2008, 12:17 PM Ikut nimbrung ya, Setiap orang pasti punya daerah privasi masing2....apalg yg namanya kamar tidur pasti hampir smua org akan menggangap kalo kamar itu adalah daerah pribadi d mana tdk smua org bisa masuk apalg sampe duduk or rebahan ranjang! Mungkin aja mba davi menggap jika kamar tidur adalah daerah privasinya dia, d mana mba davi akan mrasa sangat tdk nyaman dg adax org lain yg duduk d ranjang dia! Sama ajakan kita d kantor....masa bisa seenakx masuk ruangan si bos, apalg sampe duduk d kursi s bos, pasti atasan kita akan menggangap kita sebagai bawahan yg tdk tau aturan atau kasarannya tdk tau diri, koq bisa2nya duduk d kursi atasan! Tapi apakah dg kita masuk k ruangan s bos duduk d kursi yg sdh d sediakan buat tamu......apa itu bisa d katakan s bos tdk "mengorangkan" kita sbg karyawannya? ! Tentunya tidak bukan....?! Jd aq krg setuju dg pendapat dr P.Yusuf....kalo PRT/BS yg d larang duduk d ranjang sdh d anggap tdk "mengorangkan" mreka sbg pekerja! Terkecuali s mba davi sampe melarang mreka duduk d kursi harus duduk d lantai krn status mreka yg hanya sbg pekerja, nah itu baru bisa d katakan kalo mba davi tdk mengorangkan mreka sbg pekerja.... Slama sebatas itu daerah privasi yah aq msh menggangap hal itu wajar aja! Kami d rmh malah punya pembantu d mana sdh ikut kami kerja sebelum ayah sy merit, itu berarti dia ikut kami sebelum kami lahir, kakak tertua sy saja dah 35th. Bahkan ortu kami mengajarkan kami u/ memanggil beliau dg sebutan ibu anak2 kami memanggil dia nenek! Beliau jg tau daerah mana yg kami anggap privasi, beliau pasti tdk akan berani u/ duduk seenakx, pdhal kalo beliau mau kami jg tdk keberatan wong dia sdh jaga kami dr kecil dia sdh ikut kami lama! Maaf ya kalo aq krg setuju dg P.Yusuf Peace, MerrySent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT_._,___

