Hi all,
Yang membuat orang menangis saat bernyanyi di Gereja Betany adalah karena 
lagunya berbahasa Indonesia.
Pada acara NEP-3 (Never Ending Praise ke 3) di akhir November 2008 yg lalu, 
acara tersebut di isi dgn 80 persen lagu bahasa Inggris dan Selebihnya bahasa 
Melayu dan bahasa Daerah. Ternyata yg membuat penonton dan para Biduan menangis 
adalah lagu yg berbahasa Indonesia justru. Khususnya saat Franky Sihombing 
bernyanyi lagu ciptaannya dalam bahasa Indonesia, penonton yg duduk di belakang 
saya, salah satunya dari Grup Musik Koinonia dari UNAI banyak yg menangis.
Bahkan ketika acara Natal yg di adakan oleh Mt Carmel kemarin, justru banyak yg 
menangis saat bernyanyi lagu yg berbahasa Indonesia. Demikian teori saya 
perihal menangisnya seseorang saat bernyanyi di Gereja Bethany.
Kalau saya pribadi, semacam apapun irama musik dan liriknya, sejauh itu 
berbahasa Inggris, belum pernah bikin saya menangis, sebab saya tak pandai 
berbahasa Inggris. Sumpah, saya tidak bohong.

Harris Sipahutar
(Tukang Kasih Pendapat)




________________________________
From: Nobel Sutresman <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 29, 2008 4:35:16 PM
Subject: Re: [PemudaAdvent] kita butuh reformasi (adventist youth - sharing)



hi all,

kebeneran, saya seorang pianis gereja kita di Makassar. Saya seorang penggemar 
musik Jazz, dimana dianggap aliran musik pembangkit gairah ( agak berlebihan 
sih rasanya)..hehehe. kadangkala ketika saya main piano di gereja, kepinginnya 
memasukkan unsur2 musik yang saya senangi, tetapi herannya saya tidak sanggup 
untuk itu...saya pernah mencampur sedikit unsur jazz kedalam lagu2 perbaktian, 
tapi hasilnya tidak begitu mengangkat baik bagi pianist apalagi jemaat....lalu 
sepulangnya dari gereja, g lalu berpikir apa music yang baik buat gereja 
ya?..Pengetahuan saya mengenai musik tidaklah begitu lebar seperti para pakar 
musik di milis ini. Saya hanya coba mengambil bagian kecil.

1. Mengenai instrumen.
Gambus, Ceracap, kecapi, sangkakala. alat2 ini dipakai dalam perbaktian tapi 
bukan untuk pengiring nyanyian. Pada jaman perjanjian lama, orang2 lebih kenal 
chanting (mengaji). pada saat itu belum ada nada (do re mi fa sol...dst) jadi 
instrumen ini hanya sekedar panggilan untuk berbakti. Pemakaian drum dalam 
gereja..mmmhhh. ..mengenai pemakaian drum dalam gereja, saya bukan tipe yang 
menolak dan lebih pasti bukan tipe yang setuju. menurut saya mengapa harus 
memakai drum? alasan para imam membunyikan sangkakala dan gambus adalah untuk 
memberi timing dalam perbaktian, kapan mereka harus menunduk, kapan mereka 
selesai. Drum secara sifat dasar adalah memberikan beat, dan tidak dapat 
bercampur dengan suara. Lain halnya dengan biola, piano, kecapi dan beberapa 
alat musik yang memakai string yang dapat bercampur dan memberikan harmonisasi 
kepada instrumen yang paling penting dalam kehidupan kita yaitu suara kita 
sendiri. Apakah perlu untuk memakai drum demi
 membuktikan bahwa kita bukanlah sekelompok orang aneh, Fanatik atau panggilan 
sejenisnya? mendingan uang untuk beli drum disumbangkan kepada yang 
membutuhkan, membantu jemaat, dsb

2. Is it to Show You or Jesus ? What is Your purpose?
hehehehe.... susah ya memang. Kita memang ga mau dipanggil selebriti dalam 
gereja, krn terlalu sering menyanyi, terlalu sering main piano, ditambah pujian 
yang kadang memerahkan telinga. Dear brother, Musik yang dimainkan di gereja 
Advent, terkadang terlalu polos, tetapi di dalam kepolosannyalah kita menemukan 
kesederhanaan kristus. Kristus tidak memakai alat musik apapun untuk membuat 
dirinya populer, tapi melalui hidupnya/lahirnya dalam kesederhanaan dan kabar 
injil keselamatan ke seluruh dunia. Mengapa kita harus memakai instrumen yang 
lengkap? mengapa kita tidak menjaga kesederhanaan itu dengan dibekali 
pengetahuan, bakat, dan talenta yang berasal daripada Tuhan? Yang sederhana itu 
belum tentu jelek....... ..apa ya contohnya... ..tunggu gw pikir 
dulu....mmmhhh. ..Cinnamon (cuman pake 3 gitar) kadang pake drum tapi jarang. 
biar sederhana kedengaran cool, bisa jadi hits lagi.

Kadang2 kita berpikir mendingan seperti para pemuda yang di bethany, para 
pemuda di gereja lain, dimana mereka bisa mengekspresikan pujian mereka dalam 
segala bentuk...well, kalau menurut anda mereka bisa menangis, mereka bisa 
menangis sejadi2nya sampai terjatuh, pingsan, atau merasa sangat sedih itu 
karena mereka sudah tersentuh secara psikologis. Musik adalah suatu media 
sentimentil, bisa membawa mood seseorang hanyut. Nada yang diulang2 bisa 
mendatangkan efek hipnotis. Saya melihat suatu fenomena ini, pada waktu mereka 
menyanyi mereka menutup mata, dan mereka tidak akan berhenti untuk mengulang 
bait2 dengan kata2 yang menyentuh sampai ada beberapa yang menangis. Pada waktu 
ada yang menangis, maka yang lain akan terbawa2.

Pada saat anda mendengar We Are The Champion, apa reaksi anda?? pada saat anda 
mendengar lagu Via Dolorosa, apa reaksi anda? Musik adalah wadah yang paling 
efektif untuk membawa perasaan (e.g Soundtrack, dll) tapi apakah melihat mereka 
begitu, berarti mereka sungguh2, ataukah melihat gereja kita yang menyanyi 
separuh suara dan nafas artinya tidak sungguh2 ??

Tidak ada yang bisa menilai kedalaman hati seseorang, hanya Tuhan yang bisa. 
Menurut saya pribadi, Kita pemuda Advent, kadang2 tidak serius kepada pujian 
yang kita sampaikan. Kadang2 kita merasa, kita diatas angin, kita yang paling 
ter ter..bukan begitu bro S? kita kadang berpikir orang2 yang diluar sana 
hanyalah mengada2 membuat2, sampai membuat kita sendiri seperti mayat berjalan 
ketika bernyanyi. Kalau anda menganggap menyanyi tidak memerlukan ekspresi, 
maka anda salah. kita pribadilah yang perlu untuk dirubah, bukan instrumen 
dalam gereja, bukan ritme lagu, bukan tata cara perbaktian. Kalau para orang 
tua sadar akan ini, maka para orang tua haruslah memberikan contoh kepada anak2 
muda kita ini supaya mereka dapat memuji Tuhan dengan segenap hati dan segenap 
akal budinya. Berikanlah pujian kepada Tuhan dari lubuk hati yang terdalam. May 
GBU All...

Syalom


Nobel


On Mon, Dec 29, 2008 at 2:22 PM, James Maramis <james.maramis@ gmail.com> wrote:

hi semua,

saya yang dangkal pengertiannya hanya ingin berbagi pendapat.
saya coba baca2 lagi di www.adventist. org (http://www.adventis t.org/beliefs/ 
guidelines/ music_guidelines .html), disitu ada bacaan menarik buat kita.

maaf, tidak sempat translate. silahkan gunakan google translate untuk bahasa 
indonesianya.

God has woven music into the very fabric of His creation. When He made all 
things "the morning stars sang together and the angels shouted for joy."—Job 
38:7 The book of Revelation portrays heaven as a place of ceaseless praise, 
with songs of adoration to God and the Lamb resounding from all.—Rev 4:9-11; 
5:9-13; 7:10-12; 12:10-12; 14:1-3; 15:2-4; 19:1-8

But sin has cast blight over the Creation. The divine image has been marred and 
well-nigh obliterated; in all aspects this world and God's gifts come to us 
with a mingling of good and evil. Music is not morally and spiritually neutral. 
Some may move us to the most exalted human experience, some may be used by the 
prince of evil to debase and degrade us, to stir up lust, passion, despair, 
anger, and hatred.

The Lord's messenger, Ellen G White, continually counsels us to raise our 
sights in music. She tells us, "Music, when not abused, is a great blessing; 
but when it is put to a wrong use, it is a terrible curse".[2] "Rightly 
employed, . . . [music] is a precious gift of God, designed to uplift the 
thoughts to high and noble themes, to inspire and elevate the souls."[3]

[2]Testimonies, vol. 1, p. 497. She also states that in the future, " just 
before the close of probation," 'there will be shouting, with drums, music, and 
dancing. The senses of rational beings will become so confused that they cannot 
be trusted to make right decisions. And this is called the moving of the Holy 
Spirit. The Holy Spirit never reveals itself in such methods, in such a bedlam 
of noise. This is an invention of Satan to cover up his ingenious methods for 
making of none effect the pure, sincere, elevating, ennobling, sanctifying 
truth for this time" (II SM 36).

Trus ada tulisan selanjutnya (di paragraph lain),

We believe that the gospel impacts all areas of life. We therefore hold that, 
given the vast potential of music for good or ill, we cannot be indifferent to 
it. While realizing that tastes in music vary greatly from individual to 
individual, we believe that the Scriptures and the writings of Ellen G White 
suggest principles that can inform our choices. 

Tapi, ada juga panduan dari mereka, silahkan baca tentang sacred music, 
religius music, dan secular music.

Principles to Guide the Christian
The music that Christians enjoy should be regulated by the following principles:
1. All music the Christian listens to, performs or composes, whether sacred or 
secular, will glorify God: "So whether you eat or drink or whatever you do, do 
it all for the glory of God."—1 Corinthians 10:31 This is the over-riding 
biblical principle. Anything that cannot meet this high standard will weaken 
our experience with the Lord.
2. All music the Christian listens to, performs or composes, whether sacred or 
secular, should be the noblest and the best: "Finally, brothers, whatever is 
true, whatever is pure, whatever is right, whatever is admirable—if anything is 
excellent or praiseworthy— think about such things."—Phil 4:8 As followers of 
Jesus Christ who hope and expect to join the heavenly choirs, we view life on 
this earth as a preparation for, and foretaste of, the life to come.
On these two foundations—glorifyi ng God in all things and choosing the noblest 
and the best—depend the other principles listed below for the selection of 
music by Christians.
3. It is characterized by quality, balance, appropriateness, and authenticity. 
Music fosters our spiritual, psychological, and social sensitivity, and our 
intellectual growth. 
4. It appeals to both the intellect and the emotions and impacts the body in a 
positive way. It is wholistic.
5. Music reveals creativity in that it draws from quality melodies. If 
harmonized,[5] it uses harmonies in an interesting and artistic way, and 
employs rhythm that complements them.
6. Vocal music employs lyrics that positively stimulate intellectual abilities 
as well as our emotions and our will power. Good lyrics are creative, rich in 
content, and of good composition. They focus on the positive and reflect moral 
values; they educate and uplift; and they correspond with sound biblical 
theology.
7. Musical and lyrical elements should work together harmoniously to influence 
thinking and behavior in harmony with biblical values.
8. It maintains a judicious balance of spiritual, intellectual, and emotional 
elements. 
9. We should recognize and acknowledge the contribution of different cultures 
in worshiping God. Musical forms and instruments vary greatly in the worldwide 
Seventh-day Adventist family, and music drawn from one culture may sound 
strange to someone from a different culture. 
Seventh-day Adventist music-making means to choose the best and above all to 
draw close to our Creator and Lord and glorify Him. Let us rise to the 
challenge of a viable alternative musical vision and, as part of our wholistic 
and prophetic message, make a unique Adventist musical contribution as a 
witness to the world regarding a people awaiting Christ's soon coming.
di footnote halaman tersebut ada penjelasan ini,
[5]We acknowledge that in some cultures harmonies are not as important as in 
other cultures
gereja di Indonesia mungkin cenderung pasif ketika seorang pastor
berkhotbah, tapi bila di afrika sana jalannya khotbah pasti rame (dalam
arti positif) karena ketika isi khotbah tersebut 'kena' kepada seorang
anggota jemaat, si anggota jemaat tersebut bisa langsung berdiri dan
berkata, YES PASTOR!!, kemudian yang lain menyambut, AMENN PASTOR!!, dlsb. 
apalagi nyanyian puji2an mereka.

ketika saya bergereja di Nepal, saking ngebetnya pengen ke gereja tapi tidak 
ketemu gereja advent, akhirnya saya bergereja di gereja Baptis. mereka punya 
organ, gitar, drum (walaupun mungkin yang paling simple), dan ada juga gendang 
(mirip punya orang sunda), dan kadang2 ada beberapa remaja dengan alat yang 
mirip punya ibu2 muslim itu (lupa namanya, yang di tepuk2 ituu), dan saya 
menikmatinya. irama lagu yang sama dengan lagu2 kita walaupun tentu bahasanya 
beda. tapi saya menikmatinya. saya merasakan ada berkat hari Sabat buat saya 
disana. (sekedar info, hari sabtu adalah hari libur di nepal,jadi gereja2 
berbakti di hari sabtu)

jadi menurut saya (maaf,saya pake kata menurut saya karena ini hanya diskusi, 
bukan statement organisasi), saya setuju dengan bro Sugih. hanya bagaimana kita 
menempatkan (baca: memilih) sebuah lagu ketika akan dinyanyikan. bangsa Israel 
ketika mengelilingi tembok yerikho apakah mereka pake lagu2 yang sedih2? lagu 
itu doa juga bukann? dan tembok itu akhirnya runtuh. apakah semua nyanyian raja 
Daud itu berjingkrak2? ada kalanya dia bersedih, merobek2 bajunya. tapi ada 
saat dia melompat dan bersukacita.
biarlah kita juga belajar dari pengalaman group nyanyi advent (yang didengar 
bro Sugih) yang bilang, 'klo gitu, saya juga bisa". ada kutipan "Allah
dipermuliakan melalui lagu puji-pujian dari hati yang bersih, dipenuhi dengan
kecintaan dan perbaktian kepadaNya" Testimonies
for the Church, jilid 1 hal. 509 

Tuhan memberkati!
salam, 
    


      

Kirim email ke