Saya sangat setuju sekali dengan Pak Budi Santoso, 
kita memang harus melayani masyarakat. Tp dalam realitanya tidak 
semudah yg kita bayangkan, untuk merubah kultur/budaya yg sudah ada 
sejak jaman penjajahan tidak cukup sebulan dua bulann perlu bertahun-
tahun untuk memperbaiki budaya yg ada. Itu semua bisa terlaksana jika 
didukung oleh penghasilan yg memadahi, kejelasan sitem, kejelasan 
pekerjaan, kebijakan pimpinan yg okjektif, serta peran aktitif dari 
semua pihak. 
Untuk sekarang ini dlm organisasi pemerintahan indonesia, prestasi& 
keahlian seorang pegawai belum begitu dihargai dibandingkan dg 
senioritas (pangkat & jabatan yg tinggi, lama bekerja, dll), jd untuk 
merubah PGPS menjadi reward berdasarkan kinerja masih sulit untuk 
diimplementasikan kecuali jk pemerintah berani mengambil langkah2 yg 
fundamental seperti pemberian pensiun bagi pegawai yg tidak optimal, 
pemberhetian bagi pegawai yg sering melanggar/tdk punya motivasi 
untuk bekerja, pengangkatan pejabat didak berdasarkan balas budi, 
dll. 
Kita semua berharap agar dengan adanya semua perubahan ini DJPB jadi 
lebih baik,lebih maju,  bisa bersaing dan yg terpenting bisa 
mensejahterakan pegawainya.

salam,

-+*#kank_anam#*+-

--- In [EMAIL PROTECTED], Budi Santoso 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> vinz84232 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Benar, saat ini kultur & 
kebiasaan kita SEHARUSNYA sudah berubah. Dan barangkali KENYATAANNYA 
pun juga sudah berubah, walaupun perubahan tsb tdk/blm memuaskan shg 
saya lbh suka mengatakan (kenyataannya)belum berubah.  Saya sendiri 
berpendapat sbaiknya organisasi dan juga kita  sbg individu-individu 
terus melakukan perubahan yg kita yakini positip. Klo kita tdk/blm 
mampu mengubah organisasi krn kita bukan CEO sebaiknya spt kata Aa 
Gym mari kita ubah diri kita masing-masing. Banyak ulama yg 
berpendapat bahwa kalau mayoritas individu berubah maka organisasi 
juga cenderung akan berubah ke arah yg sama (itu kalau kita lihat 
organisasi sbg kumpulan individu).  Walaupun saya juga percaya peran 
organisasi dan juga leadership sangat penting artinya utk mendukung 
terjadinya perubahan.
>    
>   Salah satu kebiasaan kita yg menurut saya perlu diubah adalah 
kecenderungan untuk memproyekkan pekerjaan kita yang bersifat rutin, 
yg merupakan tupoksi kita dgn tujuan utk mendapatkan/menciptakan 
tambahan penghasilan.
>   Dalam konteks reform birokrasi, perubahan kultur PNS yg 
diharapkan adallah dari Abdi Negara menjadi Pelayan Publik/
Masyarakat.
>   Dalam konteks talk-show Menkeu ketika membuka rapim DJPb td 
malam 
(11 April 2007), perubahan kultur yg diharapkan adalah (dgn bhs 
saya) 
dari "mengharapkan tingkat remunerasi sama utk semua peg DJPb" ke 
"mengharapkan tingkat remunerasi beda tergantung kinerja".  Dalam 
konteks tsb Menkeu bilang "We should discriminate.....not PGPS 
(Pintar Goblok Penghasilan Sama)".  
>   Any comment?
>    
>   salam,
>   budisan        
>   --- 
> Maaf Pak Budi San, bukankah saat ini kultur & kebiasaan kita
> seharusnya sudah berubah? Karena proses perubahan itu sudah
> semestinya berjalan sampai saat ini dan seterusnya?!
> Kalo menurut saya, sekarang tinggal bagaimana organisasi mengambil
> kebijakan yang tepat untuk menjaga konsistensi dan langkah-langkah
> dalam menginternalisasikan values dalam perubahan kultur organisasi
> agar tidak terlepas dari visi/misi perubahan itu sendiri(seperti:
> kesalahan memahami reformasi, proses 'buy-in' yang tidak berjalan,
> dsb).Satu hal lagi,yang bertangungjawab dan menentukan keberhasilan
> perubahan organisasi adalah change makers dan para change agents.
> Siapakah mereka itu? tentunya CEO lingkup DJPB itu sendiri. 
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Bored stiff? Loosen up...
> Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke