Nah gitu dong..muncul juga tulisannya, adikmu nih rinud tulisanmu loh kang...Kirain teh keur sibuk jeung UAS...Kang, aya buku New Public Management teu? Karangan saha wae deh, used condition juga gapapa (dih...maka banget.. ) ntar diganti deh...serius...
Saya ingin sedikit bercerita tentang sosok yang satu ini.. Sekitar tahun 2004 atau 2005 yah, saya lupa. Ada undangan buka bersama di Kanwil Jakarta. Ketika saya sedang sibuk bekerja, ada seseorang yang masuk ruangan dan celingak-celinguk cari pintu belakang masjid. Saya yang nggak 'ngeh' siapa beliau bilang bapak dari mana? Belum selesai dijawab, Pak Herry Sunyoto bergegas menuju tamu dimaksud. Sambil tergopoh-gopoh bertanya :"Dengan siapa ke sini pak?" "Mau ke Masjid, mari saya antar?" Saya yang belum tahu dan nggak tahu siapa beliau, akhirnya kembali larut dengan pekerjaan saya. Akhirnya setelah buka puasa tiba, saat untuk makan-makan tiba juga dong, wuih senang banget rasanya. lalu saya berdiri di dekat loket. Kebetulan tamu yang tadi diterima pak Herry berada persis di samping saya. Hanya diselingi oleh anak laki-laki kecil yang saya kira putra beliau. Si anak sedang memegang aqua gelas kecil dan bersiap-siap minum. Sang Bapak bertanya dengan seorang petugas loket :"Dik, acara buka puasa ini dari mana dananya?" Dijawab:"Dari Kepala Seksi Pak, terutama Perbendaharaan, korpel-korpel Seksi Perbendaharaan juga dimintakan 'partisipasi' nya dalam acara ini." Beliau terdiam sejenak, dan keluarlah kata-kata beliau kepada sang putra di sampingnya dan kata-kata ini saya terus membekas sampai hari ini (walau mungkin beliau lupa telah mengucapkannya) "Nak, taruh lagi aquanya, jangan diminum...Kita minum di rumah saja..." Cesss....Saya menitikkan airmata haru mendapatkan pengalaman langsung tentang keteladanan pegawai Depkeu yang langka. Beliau langsung pamit kepada Kakanwil untuk segera pulang. Setelah beliau pergi saya bertanya kepada teman petugas loket yang tadi ditanya bapak itu :"Siapa sih Bapak tadi mas?" "Loh, masak kamu nggak tahu cep?" "Iya mas, aku belum tahu, siapa toh?" tambah penasaran "Itu kan pak Tyas cep, kepala KPPN Jakarta Khusus"..."Oh ya" Saya tertegun melihat sosok langka yang sekarang sudah pindah ke DJKN. Saya sungguh-sungguh terharu (hik..hik..) Adin-Somewhere at Gorontalo --- In [email protected], moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Yondi, salam kenal ya.. > Kalau Yondi ini teman seangkatan Luthfie, Moudy,dll (lulus 95) seharusnya saya tahu kamu ya..tapi kok tetap belum ngeh..Maklum, teman seangkatanmu khan 300-an.. > > Bicara soal Kepala KPPN Khusus Banda Aceh, jadi inget Pak Tyas Miasto (bener gak spelling-nya)... > > > Sebenarnya, kelebihan dan kekuatan seperti yang Pak Tyas miliki ini bisa diduplikasikan ke generasi selanjutnya (dengan mengeliminasi kekurangan yang ada pada beliau kalau ada...) > Sayang seribu sayang, beliau sekarang sudah tidak di DJPB lagi... > > Salam kompak, Yon! (bukan KOMunis PulAng Kembali lho..), > > From Perth with love, > Kobir > > ----- Original Message ---- > From: yondi_l <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, 4 June, 2007 7:27:23 AM > Subject: [Perbendaharaan List] KPPN Percontohan=KPPN Prima=.......? Pringkat itu... > > Cikal Bakal KPPN Prima/Percontohan atau apalah namanya berasal dari > KPPN Khusus Banda Aceh. Kata khusus menurut hemat saya adalah menjadi > "aksioma", bahwa kondisi Aceh yang serba khusus menjadikan kata khusus > yang melekat pada KPPN di Banda Aceh itu sangatlah tepat. > > > > > > >
