Cikal Bakal KPPN Prima/Percontohan atau apalah namanya berasal dari
KPPN Khusus Banda Aceh. Kata khusus menurut hemat saya adalah menjadi
"aksioma", bahwa kondisi Aceh yang serba khusus menjadikan kata khusus
yang melekat pada KPPN di Banda Aceh itu sangatlah tepat. Oleh karena
keadaan inilah, maka dicarilah orang yang tepat pula untuk
mengelola/memimpin KPPN Prestisius itu. Mirip test penerimaan KPPN
Percontohan sekarang dibuatlah kriteria "disesuaikan" dengan
kebutuhan, kadang kriterianya membuat siapapun akan setuju cakap,
berintegritas, mengusai pekerjaan, usia yang cukup untuk menangani
pekerjaan dan ditambah lagi jujur dan amanah dll.
Apa sebab mencari seseorang yang dapat menduduki kepala KPPN Khusus
Banda Aceh menjadi begitu gampang-gampang susah ?. Kita tahu Aceh
bukan saja menjadi sorotan publik dalam negeri tetapi juga dunia
internasional, jadi diperlukan orang yang tepat untuk mempertaruhkan
kredibilitas pemerintah dimata para mengamat terutama yang sangat
kritis. Perlu suatu hal yang dapat dijadikan tekanan disini adalah
kriteria jujur, cakap, amanah dapat diakomodasi tanpa gejolak berarti.
Kriteria jujur, amanah, bernurani dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa dalam test yang baru lalu akan sulit untuk dipenuhi dengan
parameter yang ada hanya dengan menggunakan pensil 2B bukan hanya
karena itu merupakan proses pembentukan karakter seseorang yang juga
memerlukan waktu panjang tetapi juga hasil faktor eksternal sebagai
keseluruhan sistem yang membentuk jati diri bangsa. Namun untuk
mempelopori tunjangan yang "memadai/layak/pantas/dan cukup besar"
dalam pembentukan KPPN Khusus Banda Aceh sudah dimulai atau sekarang
KPPN Percontohan. Dari sekian banyak pejabat di DJPB apakah begitu
sulitkah? Tentu pengambil keputusan sudah mempertimbangkan resiko
resistensi baik dari intern DJPB, publik dalam negeri dan manca
negara, baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah (LSM).
KPPN Khusus Banda Aceh nyaris menjadi KPPN Percontohan karena dengan
di komandoi orang yang tepat dan pelayanan prima yang diberikan sudah
mulai mempertanyakan besarnya tunjangan kepada pegawai KPPN Khusus
Banda Aceh karena dianggap "tidak sesuai lagi" bukan pada besar
kecilnya tapi diperlukan kecermatan yang lebih untuk mempertimbangkan
besarannya. Kini setelah sorotan publik tidak segencar pada awalnya
kepada KPPN Khusus Banda Aceh. Kepemimpinan harus beralih walaupun hal
ini dianggap biasa tentu awalnya bukan hal yang bisa bukan? Pergantian
pimpinan di Aceh itu mengabaikan pendapat disana sini termasuk oleh
warga Aceh sendiri apakah hal seperti ini terjadi juga ditempat lain?
KPPN Percontohan dari peristilahan yang digunakan menurut hemat saya
kurang tepat dan salah kaprah. Percontohan lebih dekat artinya dengan
teladan. Menjadi teladan itu dinilai setelah yang bersangkutan telah
memberikan suatu yang berarti atau bermanfaaat bagi orang banyak.
Sebagai contoh gelar Al amin (orang yang dapat dipercaya) kepada
Rasulullah Muhammad SAW. Setelah suku Quraisy pada waktu menilai
Muhammad SAW itu dinilai sangat jujur baru diberikan gelar itu kepada
Beliau bukan sebaliknya.
Apakah kita tidak bosan dengan istilah-istilah yang sering mencul
dijaman orde baru, seperti penyesuaian harga, diamankan, anti
pembangunan, demi pembangunan dll. Banyak yang sudah puas dan muak
dengan istilah-istilah itu tapi Orde Baru dengan sistemnya yang kokoh
tidak mudah lenyap begitu saja,kita baru meruntuhkan simbo-simbolnya
sedangkan sistemnya masih menancap kuat. Para pendukungnya akan
melesat secepat kilat berganti nama namun sebenarnya yang itu-itu juga.