Assalamualaikum wr wb.
   
  Sekarang ada juga yang agak mirip2 begitu, tentang aplikasi pengelolaan 
keuangan daerah. Itu malah gratis dari developer. Pemda tidak perlu membeli 
aplikasi tersebut, tapi "cukup" membiayai staff nya developer untuk memberikan 
"training" dan "pendampingan". 
   
  Saya pikir, mungkin krn latar belakang saya beda dengan orang2 "IT", bahkan 
sepertinya kadang2 bertentangan. 
  Saya akuntan, banyak yang bilang akuntan itu terlalu konservatif, sebaliknya 
"orang IT" (saya beri tanda kutip, karena ini mencakup orang IT dan orang "IT", 
nah tanda kutip lagi) katanya jauh maju kedepan. Katanya akuntan itu "sampilik 
kariang", sedangkan untuk "kemajuan" kan perlu biaya.
   
  Mungkin karena perbedaan ini, saya kadang-kadang melihat hal2 yang 'ngga 
nyambung' dengan otak saya. Contohnya tentang sistem pengelolaan keuangan 
daerah.
   
  Keuangan Daerah diatur dengan PP, selanjutnya diturunkan melalui Keputusan/ 
Peraturan Mendagri. PP nya satu, Kepemendagrinya satu. Daerah di Indonesia 400 
lebih. Setiap daerah "merancang" (pake tanda kutip) sendiri aplikasinya. Logika 
saya, kenapa ga bikin rame2 aja, apa ga lebih murah?
   
  Lalu karena bikinnya sendiri2, tiap daerah juga macam2 aplikasinya. Ada yang 
untuk anggaran sendiri, untuk pengeluaran sendiri.
   
  Yang "lucu" - tetapi ini menurut saya yang bukan orang IT - Informasi 
Keuangan Daerah secara nasional kan dikompilasi oleh Depkeu. Ternyata Depkeu 
tidak mudah mengkompilasi output dihasilkan dari aplikasi yang sangat beragam 
di 400an daerah tersebut. Ujungnya? Depkeu mencoba mengkonversinya ke Excel, 
atau kalau tidak bisa (dan ini banyak) terpaksa diketik ulang.
   
  Tahun 2005/6 keluar PP baru dan Permendagri nya. Saya coba bandingkan dengan 
peraturan sebelumnya (dengan kacamata akuntan tentu saja), saya tidak menemukan 
banyak perbedaan prinsipil di proses bisnisnya. Asumsi saya yang non IT, 
tentunya tentu arsitektur sistemnya ga beda jauh. Eh tapi, kenyataannya, Pemda 
perlu aplikasi baru lagi tuh.
   
  Riri (45)

Erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
Assalamu'alaikum ww

Sekedar sharing,

Pengalaman saudara di Sulawesi, dia provider swasta satu-satunya di sebuah 
kota di sana. Dia presentasi ke sekolah-sekolah langsung, karena sekarang 
dana-dana dari pusat itu langsung ke kepala sekolah, tidak melalui dinas di 
daerah.

Contoh kasus,
Di sebuah pesantren, dia presentasi, lalu buat proposal ke Depag pusat. 
Ternyata tidak lama langsung disetujui dan hanya dipotong Rp 25 ribu untuk 
administrasi dari dana yang diajukan Rp 100 juta.
Dengan spek yang sesuai di set up lab. komputer yang memiliki jaringan 
internet.

Masalah muncul karena pesantren tak mampu merawat/mengelola sistem yang 
canggih tersebut serta membiayainya. Dia usulkan sistem bagi hasil, dengan 
menempatkan orangnya untuk bantuan pengelolaan di lab itu. Sekalian dibuka 
untuk umum juga, kebetulan letak pesantren di jalur utama di kota itu dan 
dikelilingi kantor pemerintahan setempat.

Saya tidak tahu kelanjutannya setelah sistem bagi hasil disetujui, namun 
cerita dia permintaan untuk lab kom itu terus berdatangan dari sekolah negeri 
lainnya. Sementara sebelumnya dia juga telah set up untuk beberapa poltek.

Mudah-mudahan ada gunanya.

wassalam
erwin z


On Tuesday 17 April 2007 17:10, Ronal Chandra wrote:
> Ridha ngomongnya yang jelas aja, gak perlu ragu :-)
>
> Point saya bahwa teknologi informasi punya peran yang cukup besar dalam
> mendukung kemajuan pendidikan.
>
> Bukan cuma indonesia, dunia pun sudah melakukan hal itu :-)
>
> Kalou masalah Implementasi dan next itu adalah peran dan tanggung jawab
> penuh pengelola untuk pemamfaatannya.
>
> Kita tidak bisa cegah kemajuan teknologi ini, masalah nya cuma kapan
> teknologi itu sampai ke kita atau dalam hal ini Pendidikan Sumbar secara
> massal.
>
> Masalah masalah pendampingan, asistensi itu kewenangan penuh mereka untuk
> memutuskan dan saya pun cukup yakin banyak konsultan yang mau membantu
> disini.
>
> Tapi disini pendakatan saya adalah swadaya masyarakat. Mulai dari sekolah,
> murid dan mahasiswa sampai dengan perantau. Ini berguna untuk membantu
> menekan cost saat implementasi awal.
>
> Kalou ridha baca email saya sebelumnya, akan jelas terlihat peran
> pemerintah daerah atau diknas itu kecil sekali, nah yang mempunyai peran
> besar adalah masyarakat umum mungkin diMinang (Perantau) untuk bisa
> membantu percepatan teknologi informasi ini.
>
> Didaerah daerah lain penetrasi yang dilakukan pemerintah sangat kecil
> sekali, contoh kasus tahun 2001 penetrasi depkominfo untuk peningkatan
> pemakai internet hanya 1 juta per-tahun. Bandingkan dengan sejak
> dibebaskannya prekuensi 2.4 tahun 2006 yang mencapai 16 juta per-tahun
> yang dilakukan oleh masyarakat mulai dari lingkungan terkecil sampai besar.
>
> Itu dulu yh ridha, lagi makan nih.
>
> Regards
> Ronal Chandra





       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke