YSH Rekan miliser,... 

kalau di pemerintahan,
saya malah sering mendengar kalau istilah planner itu lekat pada
orang2 yang duduk di bagian/biro perencanaan dan program,... 
yang mengurus alokasi anggaran dan jenis2 kegiatan yang
diprogramkan/diusulkan,..... 

salam, dwiagus

--- In [email protected], "Bambang Tata Samiadji" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Ysh Pak Risfan, Pak Deden, dan referensier lainnya.
> 
> Jadi bagaimana, IAP-PR (Perencana Tata Ruang) ataukah IAP-PW
(Perencana Wilayah)? Dari perbincangan saya dapat simpulkan bahwa
Planner adalah Perencana Wilayah, bukan Perencana Tata Ruang. Penataan
Ruang, sesuai dengan UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, PerMenPU
286/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dep. PU, PP 38/2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintah (antara Pemerintah, Provinsi,
Kabupayen/Kota), dan Permendagri 1/2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah memang terbatas pada penyusunan rencana, perumusan
norma dan standar, pembinaan masyarakat, dst, sementara itu profesi
Planner sendiri baik dari kurikulum pendidikannya (tidak pernah
bernama Jurusan/Departemen Penataan Ruang, tetapi bernama mulai dari
Jurusan Pembangunan Daerah dan Kota, Teknik Planologi, sampai dengan
Sekolah Perencanaaan dan Kebijakan Publik) maupun dalam praktek cukup
meluas tidak hanya di bidang penataan ruang. Dengan demikian penataan
ruang adalah salah satu kompetensi dari para Planner di samping
kompetensi lainnya di bidang pengembangan wilayah.
> 
> Bagaimana Pak Risman Maris? Pak Risman sering menyebutkan bahwa
Planner itu adalah Perencana Fisik. Apakah Perencana Fisik (yang
dimaksud Pak Risman) itu sama dengan Perencana Tata Ruang ataukah
Perencana Wilayah?
> 
> Thanks. CU. BTS. 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Deden Rukmana 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Sunday, November 04, 2007 7:54 AM
>   Subject: Re: [referensi] Re: TATA RUANG NGGAK ADE MATINYE!
> 
> 
> 
>   Pak Risfan dan milister lainnya:
> 
> 
>   Rasanya pertanyaan/komentar serupa pernah disampaikan dalam milis
Referensi yang aktif and konstruktif ini. Saya pernah mengomentarinya
dan pada intinya pekerjaan seorang perencana tidaklah melulu tata
ruang. Saya kutipkan lagi saja apa yang pernah saya sampaikan (pls
check out my blog: http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com for details):
> 
>     1.. Planners formulate policies to meet the needs of communities
including social, economic, and physical needs and they develop the
strategies to make these plans work
>     2.. Planners develop plans for land use patterns, housing needs,
parks and recreation facilities, transportation systems, economic
development, environmental protection and other aspects of the future
>     3.. Planners work with the public to develop a vision of the
future and to build on that vision
>     4.. Planners often function as mediator among conflicting
community interests; they may also become facilititors using their
professional judgment to help identify the best resolutions to the
conflict
>     5.. Planners advise public officials and citizens in shaping the
future
>     6.. Planners design and manage the planning process and attract
public to involve in the process. 
>   Mengenai pertanyaan IAP, saya pikir tetaplah IAP sebagai Ikatan
Ahli Perencanaan. Perencanaan sendiri secara harfiah, saya artikan
sebagai "a systematic attempt and actions in the public domain to
shape the future". Tapi bila pengertian ini dikaitkan dg profesi,
tiada lain bahwa profesi perencana melekat dg perencana wilayah dan
kota. Meskipun hanya kata perencanaan yg melekat dg IAP, tapi biarlah
publik yang memaknainya sendiri sebagai perencanaan wilayah dan kota. 
> 
> 
> 
>   Rasanya topik diskusi ini sangat relevan dengan terpilihnya
pengurus baru IAP. Inilah tantangan IAP untuk memasyarakatkan profesi
perencana sebagai profesi perencana kota dan wilayah. 
> 
> 
> 
>   Mengenai tantangan buat pengurus IAP baru ini saya pun ingin
menyampaikan disini bahwa IAP masihlah kurang diminati oleh perencana
di Indonesia sebagai wadah yang dapat menyuarakan kebutuhan, ide dan
aspirasinya dan yg dapat meningkatkan kompetensinya dalam pembangunan
di Indonesia. Dua hari yl. saya cek di website IAP (dan masih juga
belum diupdate dg hasil dari Kongres kemarin ini), terdapat 1384
anggota dalam IAP, dan kebanyakan belum her registrasi. Saya
bandingkan dg anggota the American Planning Association yg jumlah
anggota aktifnya mencapai 43,000! Memang rasanya tidak relevan
membandingkan dg US, tapi ya... jangan terlalu jauh lah..angkanya tsb,
mengingat jumlah penduduk Indonesia yg hampir sama dg US. 
> 
> 
> 
>   Pengurus baru mesti kreatif utk meningkatkan kompetensi profesi
perencanaan di Indonesia. Janganlah jabatan dalam kepengurusan itu
hanya digunakan untuk meningkatkan peluang seorang direktur menjadi
dirjen atau seorang dirjen menjadi menteri. Ini sah-sah saja, tapi
ya.. pentingkan dulu organisasi dan profesi perencana di Indonesia. 
> 
>   Saya paham sekali bahwa jabatan dalam IAP is a non-paid position,
shg "tuntutan" utk bekerja dan berpikir penuh terhadap organisasi
tidaklah mendesak. Bgm mungkin seorang yg memiliki kesibukan full-time
job di pemerintahan ataupun swasta berbuat "all-out effort and energy"
utk organisasi. Kalau saya bandingkan dg struktur organisasi APA
ataupun AIA di US, posisi yg diemban oleh Pak Iman Soedrajat dan Pak
Bernardus Djonoputro saat ini adalah sebagai Board of Directors. Board
of Directors, yang semua anggotanya adalah full-time planners or
architecs di public or private agencies, dan mereka tidak perlu
melakukan aktivitas day-to-day utk organisasi. Mereka memilih
orang-orang sebagai staffs yg bekerja full-time dan dibayar. Staffs
inilah yg berbuat "all-out effort and energy on day-to-day basis".
> 
> 
> 
>   Bisakah IAP berbuat serupa? Saya tidak tahu persis. Saya coba cari
AD/ART di website IAP, tapi tidak berhasil. Sebagai saran saja, saya
ingin melihat minimal satu orang planner yg berdedikasi dan berwawasan
luas utk ditugasi sebagai executive director dan dia digaji oleh IAP.
Salah satu tanggung jawabnya adalah mengurus newsletters atau majalah.
Newletters atau majalah inilah diberikan kepada anggota yg sudah
membayar iuran anggota. Media komunikasi ini juga dijadikan sbg media
peningkatan kompetensi perencana, misalnya tulisan mengenai
hasil-hasil laporan studi atau pun peraturan-peraturan baru menyangkut
perencanaan. 
> 
> 
> 
>   Masih banyak hal lainnya yg perlu dipikirkan, misalnya bagaimana
bentuk kolaborasi terbaik dengan ASPI ataupun INKINDO. Banyak hal yang
dpt dikembangkan dg kedua institusi ini utk pengembangan kompetensi
perencana di Indonesia. 
> 
> 
> 
>   Mohon tulisan ini diartikan sebagai kepedulian seorang anak
Indonesia yg ingin melihat majunya dunia perencanaan di Indonesia. Ini
bukan main-main, this is a damned serious business. Kemajuan dunia
perencanaan adalah bukan hanya tanggung jawab pengurus IAP saja, tapi
semua komponen masyarakat perencanaan di Indonesia. 
> 
> 
> 
>   Saya tulis juga hasil Kongres IAP kemarin berikut dg saran saya
terhadap pengurus baru IAP di blog saya. As always, comments are invited.
> 
> 
> 
>   Salam hangat dari Savannah (yg mulai dingin menjelang winter)
> 
> 
> 
>   Deden. 
> 
> 
> 
>    
> 
> 
> 
> 
> 
>   __________________________________________________
>   Do You Yahoo!?
>   Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
>   http://mail.yahoo.com
>


Kirim email ke