Rekans ysh, Saya mengucapkan terima kasih kepada rekans sekalian karena dalam diskusi-diskusi belakangan telah menunjukkan "political will" yang cukup fokus terhadap pembangunan daerah, bahkan sampai ada yang mendiskusikan bagaimana caranya agar daerah-daerah "investment feasible".
Mari tetap urun rembug, dan saya mohon maaf bila ada opini-opini saya yang tidak berkenan di hati. Salam persatuan, Andri risfano wrote: > > > *Dari Urban/Regional Spatial Planning ke U/R Development Planning and > Studies* > > * * > > Membaca kesedihan perencana tata ruang, yang menggunakan istilah si Doel > "/kagak ade matinye/", yang tersirat mengisahkan rintihan "anak Betawi" > yang kian terpinggirkan, termarginalkan oleh perubahan jaman. Sekali > lagi saya menangkap kebutuhan akan perubahan /mindset/. > > > > Kenapa saya bilang /mindset/? Karena planner masih mengukur keberhasilan > profesinya dari keberhasilan menata ruang semata. Sementara mereka > menyadari tata ruang adalah akibat (korban) kebijakan dan fenomena pada > aspek lainnya (sosial, ekonomi, dst). Sedang planner tidak menempatkan > diri sebagai "ahli pembangunan kota/daerah" dalam arti luas, yang bisa > berkiprah menggeluti aspek-aspek penyebab penyimpangan tersebut. Maka > masuk akal kalau selamanya merasa jadi korban. > > * * > > *Planning is what the planner do (?)* > > > > Dugaan hipotetis saya lebih dari 60% planner sebetulnya pekerjaannya > memang sudah tidak mengurusi tata ruang /per-se/. Mereka tersebar di > Bappenas, departemen-departemen, Bappeda, Sekda, dinas-dinas teknis, > sebagian saja yang ada di Ditjen Tata Ruang, Dinas Tata Kota, Subdin > Tata Ruang, Bag Fispra di Bappeda. Umumnya mereka menangani manajemen > pembangunan kota/daerah, perencanaan strategis, penyusunan program. Yang > bekerja pada konsultan pun, mayoritas saat ini urusannya aspek > pembangunan kota/daerah, tapi pada aspek yang tidak selalu tata ruang, > seperti ekonomi daerah, municipal finance, housing, infrastructure, > tourism, dan sektor lainnya dalam lingkup pembangunan kota/daerah. Juga > generasi muda yang banyak bekerja sebagai LSM konsultan pembangunan. > > > > Anehnya mayoritas yang bekerjanya di pembangunan daerah/kota, yang tidak > selalu tata ruang itu, biasanya merasa diri "keluar/nyimpang" dari > profesi. Inilah yang menurut saya perlu kita dudukkan perkaranya, > /mindset /nya. > > > > Sudah saatnya para planner mengakui dirinya sebagai Ahli Urban/Regional > Development Planning/Studies, bukan sekedar Perencana Tata Ruang W/K. > > > > Sebagai ilustrasi, di Departemen Dalam Negeri, ada Dirjen Bina > Pembangunan Daerah, planner bisa berkiprah luas di bagian manapun > disitu, tapi kalau Tata Ruang disitu cuma satu SubDit, kalau tak salah. > > > > Di Bappenas sendiri, ada keDiputian Regional Development, dst., yang > diisi banyak planner, tapi kalau tata ruang /per-se/ paling cuma satu > direktorat. > > > > Jadi bagi saya yang aneh adalah wacana planner. Kenapa hanya bicara tata > ruang? Kenapa bukan U/R developmet dalam arti luas. Sehingga semua dari > alumni Planologi, anggota IAP bisa berfikir luas, melihat pembangunan > kota/wilayahh sebagai bidang profesinya. Bisa mengembangkan pemikirannya > untuk mencari solusi komprehensif bagi pemecahan masalah kota/daerah, > tidak hanya menggarap rubrik tata ruang nya semata. > > > > Yang lebih penting, semua planner, alumni sekolah planologi, anggota IAP > yang bekerja dimana-mana itu bisa mengekspresikan, mewacanakan > pengalamannya dengan perasaan sebagai profesi. Tidak seperti sekarang, > yang secara informal selalu mengatakan "telah menyimpang" dari profesi, > "sudah lama tidak ketemu tata ruang". Ada pula yang say hello nya "/Oh > kamu masih menggarap tata ruang ya ....."/. Padahal mayoritas mereka > pekerjaannya masih urusan (perencanaan, manajemen) pembangunan kota/daerah. > > > > Dengan merubah /mindset /identifikasi diri dari "perencana tata ruang", > menjadi "ahli pembangunan kota/daerah", maka bayak hal bisa digarap, > selain menyusun RUTR, RTRW,/ land-use/ dan /zoning/. > > > > Dengan demikian, pengalaman, /knowledge /dari planner yang bekerja dalam > pembangunan daera/kota di berbagai posisi, pada berbagai aspek itu dapat > diangkat untuk memperkaya /body of knowledge/, atau /praxis/, dari > profesi. Pada saat ini, berbagai knowledge itu tercecer, diterapkan, > tapi dianggap 'diluar pakem' penataan ruang. Filternya biasanya "bisa > dipetakan atau tidak?". Sayang sekali bahwa 'kaca mata kuda' tata ruang > ini telah menyingkirkan banyak potensi /knowledge /dan /praxis > urban/regional development studies. / > > > > Bicara pembangunan daerah/kota akan membuka perspektif lebih luas, dari > sekedar merencana, lalu cemas, kecewa dan frustasi. Bicara pembangunan > daerah, selain perencanaan juga menyangkut manajemen pembangunan, > analisis untuk mencari solusi, atau studies. > > > > Sebagai perencana tata ruang, kalau dihadapkan pada masalah > transportasi, banjir, kemiskinan DKI Jakarta. Responsnya akan > menyalahkan pihak-pihak yang melanggar tata ruang, atau revisi rencana > tata ruang. > > > > Namun, dengan /mindset /sebagai ahli urban/regional development, > perpektif dan ruang gerak pemikiran bisa diperluas. Bisa mengkaji faktor > ekonomi, perilaku penghuni dan pergerakannya, manajemen progran dan > pembiayaannya, keuangan daerah, kerjasama antar lembaga dan antar > daerah, dsb, dst. Dalam bentuk rekomendasi-rekomendasi, tidak harus > rencana formal. > > > > Tempo hari Referensi mengangkat ide-ide tokoh Fadel, dan mengorek > ilmunya BSP, juga serial ekonomi perkotaannya BTS. Itu semua adalah > wacana "pembangunan daerah/kota", yang lebih luas dari (/beyond/) tata > ruang. > > > > Dengan demikian planner, alumni sekolah PWK, bisa merangkul kembali > semua anggotanya di semua birokrasi, yang saat ini sebagian di posisi > strategis, para konsultan, LSM, swasta yang ruang geraknya > urban/regional development untuk mengkspresikan /knowledge /nya, > pengalamannya, sebagai /body of knowledge/ dari planning saat ini. > > > > Sehingga bisa menyongsong 50 tahun (dari 1959) pendidikan planologi di > Indonesia dengan besar hati. Dari segi populasi bisa dihitung > achievement dari planner di berapa departemen, dengan posisi eselon-1, > 2, 3, 4 di pusat, di daerah yang diduduki. Juga di lembaga donor, > swasta, konsultan, LSM. Dari segi karya dapat diinventarisir kiprah > semua anggota tersebut dalam /urban/regional development, product, > knowledge, praxis nya/. Dan yang penting menginternalisasi semuanya itu > ke dalam /body of knowledge/ dari /urban/regional development/. Jangan > sampai setelah 50 tahun hanya meningkatkan teknik gambar dari pakai > rapido /Rotring /diganti dengan digitasi GIS, sementara substansi dan > keberhasilan penerapannya /standstill/. > > > > Janganlah rahmat dan achievement seluas itu kita ingkari, hanya karena > kita pakai kacamata sempit tata ruang. Gunakan kacamata dengan spektrum > pengalaman hari ini yang beraneka warna itu, jangan cuma kacamata/ black > & white/ tata ruang. Kan awalnya nama sekolahnya "/Departemen Tata > Pembangunan Daerah dan Kota/" (/Regional and Urban Development/), kenapa > sih kok diredusir jadi tata ruang. > > > > Lagi pula dalam percaturan kebijakan, _tata ruang itu kan bukan tujuan_. > Karena tujuan pembangunan nasional (dan universal): kesejahteraan dan > pemerataan, pelayanan kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, > pelestarian lingkungan. Boleh saja planner menganggap tata ruang > mencakup aspek komprehensif, tapi nyatanya tata ruang umumnya juga hanya > akibat dari perkembangan banyak aspek pembangunan. > > Dari segi policy seperti pada UU32/2004, tata ruang juga cuma satu dari > belasan urusan. Sehingga RUTR area bermainnya memang urusan itu saja. > Berbeda dengan misalnya RPJP, RPJMD yang mencakup semua urusan, sektor, > aspek. > > > > Dengan UUPR sendiri kan kedudukannya setingkat dengan UU Pendidikan, UU > Pasar Modal, yang teknis saja, tidak seperti UU 32 tentang Pemerintahan > Daerah, yang komprehensif di level daerah, memberi ruang bagi tata ruang > hanya satu slot saja. Jadi kalau mau mempengaruhi (/leading/) dalam > pembangunan daerah/kota ya bermainlah di arena urban/regional > development. Bukan hanya di urusan tata ruang. Mainkan RPJP, RPJMD dan > derivat nya; jangan cuma utak-atik RUTR. Selain membuat rencana menyusun > rekomendasi untuk memberikan solusi atas persoalan pembangunan > daerah/kota juga ladang amal yang luas. > > > > Essai ini saya tulis bukan karena mau meninggalkan penataan ruang, tapi > mengajak berfikir ulang, bahwa itu adalah satu aspek saja dari bidang > pembangunan daera/kota yang multi-aspek. Jangan sampai peluang (ladang > amal) dan achievement profesi yang begitu luas disia-siakan hanya karena > /mindset /yang dipersempit. > > > > Tak usah jauh-jauh, bacalah Harian Kompas atau lainnya. Kalau kita > percaya itu mewakili wacana dan persoalan masyarakat. Kapan terakhir > kita membaca pembahasan tata ruang? Tapi setiap hari kita baca masalah > pembangunan daerah/kota yang dibahas. Ada masalah pengangguran, > persaingan pasar tradisional vs hipermarket, bencana alam, PKL, terosan > Fadel, Sragen, Jembrana, konversi lahan pangan ke energi, RPJMD bagi > kepala daerah terpilih, nasib 199 daerah tertinggal (dari 247 daerah > yang ada) yang memerlukan saran dari ahli pembangunan/daerah. Yang > mereka butuhkan jelas bukan cuma evaluasi RUTR. > > > > Kiprah keprofesian ahli pembangunan daerah/kota yang lebih komprehensif, > kian hari kian dibutuhkan daerah dan masyarakat, di era otonomi daerah > ini. Untuk memberikan saran solusi menangani kota/wilayah dari semua > aspek pembangunannya. Di situ planner sangat dibutuhkan dan sudah > terbukti mampu. > > > > *Pengembangan Penataan Ruang* > > > > Tak perlu takut isyu tata ruang jadi mati, karena sudah ada UU nya, ada > Ditjen, Direktorat, Dinas, Sudin, dst. Mungkin itu sudah maksimal dari > segi kelembagaan. Karena perlu disadari bahwa _tata ruang bukanlah > tujuan (pembangunan), juga bukan faktor penyebab_ (penyebabnya multi > aspek dan policy)._ Mungkin tata ruang hanyalah media interface_. > > > > Yang perlu dikembangakan dalam ke-penata-ruangan adalah bergeser dari > fokus ke menyusun rencana, kepada pengelolaan (pembinaan) dan > pengendalian. Sejauh ini pendekatan masih bersifat GOVERNMENT saja, > padahal di semua bidang sekarang sudang menggunakan pendekatan > GOVERNANCE. Planning sementara ini masih dibuat, dipelihara dan > dikendalikan oleh pemerintah. Harusnya sudah menggunakan pendekatan > governance, yang melibatkan unsur legislatif, masyarakat, swasta dan > media. Contoh: untuk bidang pendidikan ada Dewan Pendidikan, ada Komisi > Pelayanan Publik, ada Masyarakat Transportasi. > > > > Pada jaman ini kita tidak bisa mengandalkan "police power" dari > pemerintah saja untuk menegakkan tata ruang. Masing-masing pihak harus > diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya, sekaligus mengawasi, > mengawal. Satu Dinas PU/Sudin Tata Ruang tidak bisa dengan mudah memaksa > dinas-dinas lain mematuhi RUTR nya, apalagi kalau Dinas itu juga punya > Rencana Pengembangan Kawasan (Produksi, Tanam, dst). Dinas PU/Sudin Tata > Ruang juga "sungkan" dengan developer sponsornya Walikota/Bupati, tapi > LSM berani teriak. Karena Harus bekerja sama dengan kelompok masyarakat, > anggota legialatif, LSM, media masa yang terkait, yang peduli dengan > masalah tata ruang. Beberapa planner di Bandung, di Malang menjadi > aktivis (LSM) yang dengan gigih menentang alih fungsi zona hijau. Itu > perlu didukung, antara lain dengan melatih aktivis-aktvivis LSM, anggota > dewan, wartawan, dan organisasi masyarakat lainnya tentang tata ruang. > > > > Lalu, amanat UU32/2004, UUPR/2007 akan dibutuhkannya Standar Pelayanan > Minimal (SPM) Tata Ruang, juga mesti segera disiapkan, agar mudah bagi > pelaksana di daerah untuk melaksanakannya, untuk mendiseminasikannya ke > semua fihak, sehingga Pemda, termasuk Dinas PU, yang tidak > melaksanakannya bisa dituntut oleh Dewan, Media, LSM, dan kelompok > masyarakat. SPM biasanya berisi standar coverage wilayah yang dilayani > (direncana), jenis dan spesifikasi rencananya, serta pelayanan langsung > seperti siapa yang melayani permohonan, pengaduan dst. > > > > Singkatnya, bergeserlah dari wacara "How to plan" semata, kepada how to > implement, how to deliver, how to serve, how to control. > > > > Kepada Pak Risman, saya juga mempelajari ide Ilmu Wilayah nya Pak Sutami > (alm) tentang kesatuan aspek Sosial – Ekonomi – Fisik. Saya juga > mempelajari Pengembangan Wilayah nya Pak Poernomosidhi, termasuk koleksi > yang disusun Pak Risman. Yang saya selalu ingat adalah diagram "bidang > empat" yang simpul-simpulnya adalah unsure manusia, SDA, teknologi, dan > manajemen. Saya juga masih ingat kuliah Pak Risman beberapa kali, > misalnya tentang tahapan pertumbuhan permukiman (transmigrasi) dari > tingkat subsisten, surplus, hingga integrasi. > > Lagi-lagi disitu yang dibicarakan adalah Pengembangan Wilayah dan Kota, > bukan Rencana Tata Ruang per-se. Jadi kesimpulan saya Pak Risman setuju > dengan mindset Urban & Regional Development dalam pengertian > komprehensif. Mungkin Rencana Tata Ruang (dalam pengertian Pak Risman) > mendekati U/R Development yang kami maksud. Tapi, mohon maaf, term "tata > ruang" yang ada di praktek saat ini, hanyalah tata ruang satu aspek saja. > > Disamping itu implementasi rencana yang dimotori pemerintah dengan > "/big-push/" pembangunan skala besar seperti jalan raya trans wilayah > ini dan itu, permukiman sekian juta hektar, juga sudah sulit diulangi, > karena pemerintah tidak bisa berhutang banyak lagi, sementara investor > swasta tentu memilih wilayah yang sudah padat atau kaya sumber alam saja. > > > > Kembali ke metafora sinetron /Si Doel/, setidaknya Rano, Maudy, Mandra > jadi milyarder, sementara anak Betawi "/kagak ade matinye/" hanya di > panggung itu saja.@@@ > > > > Sekian dulu, karena sudah kepanjangan, selebihnya mohon dimaafkan. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > -- Andri "Bias-Bias Cak Andri" http://mandrib.kuyasipil.net/ http://mandrib.multiply.com/ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

