Salam sejahtera,
Wah, saya jadi tertarik untuk ikut nimbrung urun rembuk bahas masalah 'banjir 
tak perlu dilawan', maaf sebelumnya rekan-rekan milis 'referensi' ini tentunya 
saya 'hakulyakin' sudah pada pinter-pinter & banyak pengalaman dalam teori dan 
praktek sebagai 'planner'. Sepertinya kita perlu lebih banyak bicara masalah 
'sosial-ekonomi-budaya' dari masyarakat yang lokasinya kebanjiran, karena kalau 
masalah 'fisik' saja mungkin kurang pas. Dengan mengetahui siapa, bagaimana, 
sejak kapan dan mengapa mereka ada di lokasi tersebut, mungkin akan lebih 
banyak alternatif solusi yang dapat kita sampaikan. Permasalahannya tentu saja 
tidak hanya 'banjir' dan 'lokasi', karena ada juga masyarakat yang biasa 
tinggal diatas air (seperti: rumah perahu atau rumah di pinggiran pulau kecil). 
Semoga pembahasan lebih 'komprehensif' sehingga tidak bicara sepenggal-sepotong 
saja.
Wassalam,
Onnos


To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Mon, 5 May 2008 12:02:24 
+0700Subject: Re: [referensi] Re: Banjir Tak Perlu Dilawan




Mohon penjelasan,apakah yang dimaksud Kampung Pulo yang berada di daerah 
genangan banjir Kampung Melayu atau Bukit Duri ?. Terdapat beberapa kampung 
yang berada di daerah genangan banjir  sepanjang  Sungai Ciliwung yang cukup 
dalam. Kalau 4 lantai, mungkin lantai pertama atau bahkan lantai kedua bukan 
untuk tempat tinggal, karena tenggelam. Di Bidara Cina bahkan ada lokasi yang 
lebih dalam dari itu, terutama di daerah meander, kecuali tentunya lantai 
pertama sangat tinggi dari permukaan tanah kering saat air sungai surut. Namun 
mereka semua sudah hidup bersama banjir, bahkan sebagian mungkin sudah sejak 
lahir. Semoga saya salah tempat.Wasalam,Abimanyu
2008/5/4 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>:






Bung Rachmad, betul sekali bahwa masyarakat Kampung Pulo tidak perlu 
dipindahkan ke Marunda, tetapi dengan sistem "Land Pooling" bisa dilakukan di 
tempat. Ide ini juga pernah diusulkan oleh LSM bersama Habitat (kebetulan saya 
pernah bekerja di Habitat ketika itu), tapi entah sampai sekarang belum bisa 
diwujudkan. Idenya bukan rusun 14 lantai, tetapi cukup 4 lantai yang hemat 
enerji (tidak perlu pakai lift) dan pengadaan air masih mampu diangkat oleh 
pompa biasa. Tapi lagi-lagi urusannya menjadi sangat komplek. Selain tidak 
sesuai dengan "Zoning Regulation", kurangnya pembiayaan, sulitnya sistem 
sanitasi, mahalnya perawatan prasarana (karena seringnya terjadi genangan), 
sulitnya layanan kepada masyarakat bila terjadi genangan, dan juga belum ada 
pengalaman mengelola pemukiman  "pasang-surut" macam itu.
 
Thanks. CU. BTS.
 


----- Original Message ----- 
From: Rachmad M 
To: [email protected] 

Sent: Sunday, May 04, 2008 4:34 PM
Subject: [referensi] Re: Banjir Tak Perlu Dilawan


Pak Bamabang TS ysh,Memang menjadi pelik kalau orang harus dipindah ketempat 
yang jauh seperti contoh pak Bambang dari kampung Pulo ke Marunda.... wah siapa 
mau :-)Dari Kampung Pulo ya tetap di Kampung Pulo pak. Kalau ada tanah untuk 
700 keluarga yang masing-masding 100 meteran persegi kan cukup disisihkan dulu 
5.000 meter persegi nanti yang 65.000 dijadikan halaman perumahan itu. Biar 
saja waktu banjir jadi kolam gede seluas 50.000 m2, tapi waktu musim kering kan 
bisa buat hutan kota :-)Salam
. 
 






_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke