Pak Rofiq, saya sepakat dengan ajakan bapak - paling tidak untuk merenungkan 
hubungan antara UU 26/2007 dengan UU 27/2007, saya banyak bermain-main 
dengan dua UU tsb, tapi kalau dikaitkan dengan prinsip pembangunan daerah -
wah jadi ngeri lihatnya (ngak nyambung). Ditingkat daerah baik provinsi maupun 
kabupaten/kota pada bingung - mudah2an saya salah mengamatinya. salam ferridjais


To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Mon, 5 May 2008 23:37:59 
-0700Subject: Re: [referensi] wilayah laut kita






Pak Abimanyu,
marilah kita membahas titik temu antara UU 26/2007 dan UU 27/2007,  pada suatu 
diskusi tentang RPP dari UU 26/2007 saya lontarkan tentang hubungan dengan UU 
27/2007, ternyata pembuat RPP tidak pernah membaca UU 27/2007 mereka hanya 
memikirkan bahwa yang satu miliknya PU sedang yang lain adalah miliknya 
DKP..... jadi untuk menghilangkan kesan sektoral harus dimulai dari kita-kita 
inilah.

 SalamAunur Rofiq 

----- Original Message ----From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL 
PROTECTED]>To: [EMAIL PROTECTED]: Tuesday, May 6, 2008 8:42:40 AMSubject: Re: 
[referensi] wilayah laut kitaPak Aunur Rofig, pak Sugiono dan mailister lain 
ysh, begitu kita 'nyemplung' ke bagian 'air' dari 'tanah-air' kita, kita baru 
sadar bahwa selama ini kita telah melupakannya. Termasuk lupa bahwa UU 26/2007 
dan UU 27/2007 berkaitan dengan ruang yang sama. Demikian pula bicara soal laut 
dikapling, hak pengelolaan laut, hak ulayat dan komunitas lokal, ZEEI, 
pulau-pulau perbatasan, waterfront city, air sebagai muka, dll. Pesisir 
sebagian daratan dan sebagian lautan. Teman-teman di URDI, Trisakti, ITB, IPB, 
ITS, UGM, UI, Undip, Unlam, UNPAK, UNKRIS, ITN bahkan LIPI kabarnya juga akan 
berdiskusi mengenai ruang-ruang kita tersebut....yang ternyata juga masih 
beraneka ragam indahnya.....Pak Sugiono, walaupun pensiun dari kegiatan lama 
kan bukan berarti pensiun dengan masalah kita bersama. kalau dahulu banyak 
terikat oleh 'tembok' sektoral, kini saatnya kita sama-sama mengembangkan ke 
konteks sebenarnya...ok? Tolong info-info lapangan selama ini dibagi-bagi agar 
kami yang belum mahfum dapat semakin terbuka matanya....wasalam,Abimanyu
2008/5/6 Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]>:






Pak Eka saya baru pulang dari Banggai (ibukota Kab Banggai kepulauan) yang 
bersebelahan dengan kepulauan Sula (daerah kekuasaan Pak Eka). Orang Banggai 
sekarang sedang meradang, pasalnya ibukotanya menurut undang-undang harus 
pindah ke Salakan di Pulau Peleng (pulau yang lebih besar). Banggai sebenarnya 
merupakan kota pelabuhan yang disinggahi oleh Kapal Penumpang Sinabung seminggu 
sekali. Kapal ini menghubungkan Banggai dengan Manado di utara dan Bau-bau di 
selatan. Di Banggai sedang berkembang budidaya mutiara dan rumput laut, nah 
inilah yang memerlukan pengaturan karena setiap kelompok telah mengkapling 
lahannya untuk budidaya, luasnya lahan yang terkapling sudah sangat merisaukan 
penduduk setempat, karena kelompok yang mengkapling bisa berasal dari kecamatan 
atau pulau sebelah. Karena saat ini tidak ada sertifikat lahan di laut maka 
mereka yang mengkapling lebih dahulu merasa yang paling berhak. Kota Banggai 
bukan terletak di Kabupaten Banggai tetapi di pulau Banggai sebelah barat 
kepulauan Sula.  

 SalamAunur Rofiq 


----- Original Message ----From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>To: [EMAIL 
PROTECTED]: Wednesday, April 30, 2008 7:59:41 PMSubject: [referensi] wilayah 
laut kita
Pak Abimanyu ysh,



Saya senang sekali bila bapak berkenan memberikan bimbingan dalam kajian 
kelautan ini, terutama hingga ke wilayah perbatasan. Supaya kita lebih siap 
dalam menghadapi sengketa, memiliki wawasan yang cukup, berjiwa jalasveva 
jayamahe, dan mampu menegakkan kedaulatan  di perairan kita. Sehingga kita 
dapat memilih dan menentukan pendekatan yang seharusnya kita lakukan, memiliki 
peralatan membangun yang pantas, dan mencuatkan kemampuan laten yang kita 
miliki.
Saya memulai kajian batas laut ini sejak 2004 pada beberapa wilayah laut dalam 
(utara Timor) dan laut luar (selatan Rote), bersama rekan Ary,Idris, dll. Saya 
kira untuk Indonesia Timur sudah dilakukan semua penataan ruang berbasis batas 
laut, terakhir dilakukan oleh rekan Sadar untuk selatan Wetar, serta Mapia 
(PU-DKP). Namun memang memiliki keterbatasan ide tentang apa-apa yang harus 
kita lakukan terhadap laut tersebut. Mohon dilanjutkan pak.
Saya sudah menuliskan dalam agenda lokasi-lokasi yang bapak sebutkan. Untuk Bu 
Any, terima kasih atas informasinya, ada lagi? Salam.
-ekadj
--- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL 
PROTECTED]> wrote:>> Pak Eka ysh,> > Betul bahwa kita perlu mengembangkan 
wawasan nusantara secara lebih> 'merdeka' shingga konsep pembangunan masa depan 
kita lebih membumi....> > Mungkin bukan sekadar 'revolusi ke laut' yang 
diperlukan, tetapi> pembangunan yang integratif berbasis 'pulau-laut', seperti 
integratif> dan saling belajar serta saling dukung secara 
sosial-ekonomi-budaya> komunitas laut dengan komunitas darat di berbagai 
belahan bumi> Indonesia ini. The real political and environmental region of> 
Indonesia.> > Kesadaran bangsa kita sebagai bangsa kepulauan juga dapat 
semakin> meningkat bila sejak sekarang semua peta Indonesia selalu memasukkan> 
informasi di perairan selain di daratannya. Informasi bahwa wilayah> Indonesia 
sekarang sudah tidak lagi cuma hingga 3 mil laut dari pantai> seperti saat 
kemerdekaan dulu tetapi sudah termasuk hak pengelolaan> ZEE 200 mil laut plus 
hak di dasar laut konstinen yang sedang> diperjuangkan sebagian pakar batas 
laut kita. Juga peningkatan> kesadaran bahwa batas dari Sabang sampai Merauke 
dan dari Timor sampai> Talaud sebetulnya sangat mempersempit wilayah negara 
kesatuan RI> tercinta kita, karena batas negara paling Barat adalah laut di 
luar> Pulau Benggala, di Utara laut di dekat Pulau Miangas, di laut Selatan> 
dari Pulau Ndana (Rote), hingga batas Timur bersebelahan dengan Papua> Nugini.> 
> Hipotesis saya, kalau kebangkitan bangsa disebut-sebut tanggal 2 Mei> seabad 
lalu, maka "KEBANGKITAN BANGSA KEPULAUAN INDONESIA" mungkin> lebih tepat 
TANGGAL 28 Oktober 1928, 10 windu (80 tahun) yang lalu,> saat dinyanyikannya 
lagu " Indonesia, "TANAH-AIR"-ku...." pertama> kali. Walaupun pemuda-pemuda 
nusantara telah mendeklarasikan sumpah> pemuda, tetapi baru dalam lirik lagu 
yang digubah W.R. Soepratman> pertama, kali menyebutkan INDONESIA, TANAH 
AIRKU....tanah dan air,> pulau dan laut......yang kemudian diperjuangkan 
tokoh-tokoh kita> melalui Deklarasi Djuanda (yang perayaan 50 tahunnya cukup> 
....'sederhana') dan baru diakui berhasil sampai seluas sekarang pada> tahun 
1992......Juga masih sepi tanggapan, karena kita lebih 'terbius'> oleh 
'pilkada' dan 'korupsi'......(Mungkin calon-calon kada atau wakil> rakyat yang 
tidak sadar lingkungan seharusnya dicoret dari daftar yang> lulus kelayakan ya? 
he he he)> > Mungkin baru itu ide-nya pak, mungkin dapat menjadi ide dasar> 
filosofis pembangunan bangsa ke depan... (termasuk penataan ruang> tentunya).> 
> Sekian dulu,> > Abimanyu

Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
 






_________________________________________________________________
Check out Barclays Premier League exclusive video clips here!
http://fc.sg.msn.com/index.aspx

Kirim email ke