Pak Iman, Pak Aby dan rekan2 ysh,

Memang betul lah itu berawal dari kisah lama, saat negara ini begitu
optimistik. Tapi bukan saja konsep itu kadung diadopsi, pembangunan
fisik disana, terutama oleh swasta besar juga sudah terjadi. Istilahnya
bibit-bibitnya sudah mulai numbuh.

Sekali lagi adanya Global Trade Center dan beberapa kawasan industri,
yang dibangun swasta besar (pembangun banyak new town di Jawa juga),
juga jalan tol yang memudahkan akses ke daerah penghasil komoditas
ekspor, juga peran berbagai institusi non-ekonomi seperti Unhas, rumah
sakit rujukan. itu semua adalah putensi pertumbuhan.

Masalahnya, ada fungsi yang perlu dioptimalkan. Juga ada masalah yang
perlu diantisipasi, seperti transportasi kota yang semerawut, dan soal
drainase karena kota itu sangat datar. Masukan-masukan urban management,
transportation management, dan kewenangan-kewenangan yang diperjelas
seperti status pelabuhan dst, kiranya bisa jadi bahan pikiran. D.p.l
aspek-aspek pengelolaan pemanfaatan ruangnya.

Salam,
Risfan Munir






--- In [email protected], Iman soedradjat <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Mas Munir, yg  bukan aktivis HAM.
> Ngga  tahu pake konsep pembangunan yg dilakukan di SulSel,
Makasar-Pare.  Tapi yg jelas pasti letoy lah, artinya belum ada energi
kalau kita bangun disitu, walaupun tahu bhw pusat pertumbuhan wilayah
Timur di Makasar, itukan krn konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke
pemikiran kita, sehingga msh meyakini Makasarpusat pertumbuhan. Tapi
lihat, Boom di Jawa, siapa yg suruh tumbuh kawasan2 Industri dan kota
sepanjang Tol Jakarta - Cikampek, siapa yg suruh idea idea gila
reklamasi pantai Jakarta dan Tangerang.  yang ngobok2 bukan Kompas Mas,
jalan Anyer Panarukan sih masa lalu,  he he he, sori sekedar iseng
nimbrung.
>
> --- On Sat, 9/13/08, risfano [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> From: risfano [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [referensi] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1)
> To: [email protected]
> Date: Saturday, September 13, 2008, 5:09 AM
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Aby ysh,
> Mengenai Makassar, itu memang pusat utama di Timur, sebagai
'counter-magnet' . No doubt about it. Untuk itu bisa didiskusikan
mengapa kok tidak begitu cepat pertumbuhan kegiatan ekonomi (basis)nya.
Padahal statusnya sudah jelas. Pembangunan sarana dan prasarana fisiknya
juga sudah mendukung. Ada Global Trade Center (sampai mengurug laut
segala), ada kawasan industri, kawasan perdagangan modern, jalan tol ke
Pare-pare juga sudah mulai kelihatan, selebihnya dalam proses. Saya baca
berita juga Departeman PU akan membangunan Rusuna beberapa tower disitu.
> Barangkali bukan soal perencanaan wilayahnya lagi, tapi soal manajemen
pembangunan kota dan sekitarnya. Aspek-aspek pemasaran daerah, rencana
dan ijin pembangunan pelabuhan, kemudahan perijinan, perolehan lahan,
dst. Mungkin ini bisa jadi bahan diskusi?
> Salam,
> Risfan Munir
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso watashiaby@ ..>
wrote:
> >
> >
> > Pak Risfan ysh,
> > Trims atas tanggapannya yang panjang lebar dan konstruktipÂ…Â….
> > Menarik untuk  menyimak dan menanggapi  bagian2 paragraf anda
berikut, hanya mohon jangan  anggap ini `mutilasi' ya?...: :
> >
>


Kirim email ke