Halo Pak Iman,

Sebagaimana kita tahu bahwa PR itu ada beberapa
skala mulai skala nasional (RTRWN), skala regional (RTRW-Pulau,
RTRW-Provinsi,..), skala kota, dan lainnya. 

Dalam
mengelola PR itu bagaimanapun peran pemerintah (Pemerintah dan pemerintah
daerah) tetap penting sebagai Regulator, Fiscal Policy, dan Technical
Assistance. Ketiga peran ini cukup efektif pada skala nasional dan
regional, tetapi pada tingkat lokal peran itu cukup lemah ada peran baru
yang penting yaitu Eksekusi di tingkat lokal.  

Dari
berbagai kekisruhan PR selama ini, pada ujungnya adalah soal pemanfaatan
lokasi, dan ini adalah peran eksekusi  yang berada pada
pemerintah kota/kabupaten. Seperti tumbuhnya kawasan-kawasan industri,
reklamasi, alih fungsi perumahan, demolisasi aset histori, dan sebagainya
itu adalah peran eksekusi pemda yang justru paling lemah. Mengapa mereka
lemah? Hemat saya itu adalah soal hak tanah yang mana hak atas tanah lebih
banyak dimiliki oleh partikelir daripada yang dimiliki oleh pemda. Sudah
banyak pasal dalam UU maupun PP ataupun Perpres yang memberi kewenangan
pemanfaatan sesuai dengan Perencanaan Tata Ruang, tapi tetap tidak
mangkus(efektif) karena hak milik itu sangat kuat. Bahkan pada UU 26/2007
tentang PR itu malah menegaskan bahwa alih hak itu harus ada penggantian
wajar. Nah, siapa yang mau mengganti? Pemda itu sendiri khan? Di sini pula
titik lemah karena  kemampuan fiskal yang terbatas untuk membeli
tanah.

Jadi intinya, sepanjang pemda tidak menguasai
tanah-tanah, maka pemanfaatan tanah akan dikendalikan oleh mekanisme
ekonomi/pasar. Oleh karena kemampuan menguasai tanah sangat rendah
berhubung kemampuan fiskal. Salah satu jalan keluar adalah
reformasi UU 5/60 tentang UUPA itu yang memberi kuasa penuh bagi pemda di
atas  kuasa pemilik. Tapi ini tidak gampang karena tentu banyak yang
protes.

Thanks. CU. BTS.




> Mas
Munir, yg  bukan aktivis HAM. 
> Ngga  tahu pake konsep
pembangunan yg dilakukan di SulSel, Makasar-Pare.  
> Tapi yg
jelas pasti letoy lah, artinya belum ada energi kalau kita bangun 
> disitu, walaupun tahu bhw pusat pertumbuhan wilayah Timur di
Makasar, 
> itukan krn konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke
pemikiran kita, 
> sehingga msh meyakini Makasarpusat pertumbuhan.
Tapi lihat, Boom di Jawa, 
> siapa yg suruh tumbuh kawasan2
Industri dan kota sepanjang Tol Jakarta - 
> Cikampek, siapa yg
suruh idea idea gila reklamasi pantai Jakarta dan 
>
Tangerang.  yang ngobok2 bukan Kompas Mas, jalan Anyer Panarukan sih
masa 
> lalu,  he he he, sori sekedar iseng nimbrung. 
> 
> --- On Sat, 9/13/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]>
wrote: 
> 
> 
From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>

> Subject: [referensi] Re: Kompas Obok2 Planologi? (1) 
>
To: [email protected] 
> Date: Saturday, September 13,
2008, 5:09 AM 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Aby ysh, 
> Mengenai Makassar,
itu memang pusat utama di Timur, sebagai 
> 'counter-magnet'
. No doubt about it. Untuk itu bisa didiskusikan mengapa 
> kok
tidak begitu cepat pertumbuhan kegiatan ekonomi (basis)nya. Padahal 
> statusnya sudah jelas. Pembangunan sarana dan prasarana fisiknya
juga 
> sudah mendukung. Ada Global Trade Center (sampai mengurug
laut segala), 
> ada kawasan industri, kawasan perdagangan modern,
jalan tol ke Pare-pare 
> juga sudah mulai kelihatan, selebihnya
dalam proses. Saya baca berita juga 
> Departeman PU akan
membangunan Rusuna beberapa tower disitu. 
> Barangkali bukan soal
perencanaan wilayahnya lagi, tapi soal manajemen 
> pembangunan
kota dan sekitarnya. Aspek-aspek pemasaran daerah, rencana dan 
>
ijin pembangunan pelabuhan, kemudahan perijinan, perolehan lahan, dst. 
> Mungkin ini bisa jadi bahan diskusi? 
> Salam, 
>
Risfan Munir 
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso
<[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: 
>> 
>>   
>> Pak Risfan ysh, 
>> Trims atas tanggapannya yang
panjang lebar dan konstruktip&hellip;&hellip;. 
>> Menarik
untuk  menyimak dan menanggapi  bagian2 paragraf anda berikut,

>> hanya mohon jangan  anggap ini `mutilasi' ya?...: :

>>   
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>

> 
> 
> 
> 



Kirim email ke