Pak Aby dan Milister Ysh,

Aby: "Rasa2nya keduanya saling ogah utk konyol mulai duluan….. Jadi
kesimpulannya kedua pihak harus janjian muncul  barengan….. karena bgmn
passengers mau datang kalau tak jelas airlinernya….. sebaliknya airliner
(kecuali BUMN perintis,  gak takut rugi) ngapain  singgahi sebuah bandara…
kalau tak jelas pasengersnya…. krn bisa rugi….. "

NA: Statement pak Aby adalah contoh konkrit kegagalan pasar (marke failure)
sehingga perlu campur tangan pemerintah. Kalau tidak begitu banyak kegagalan
pasar di negeri ini, tak perlulah ada Kementrian Perencanaan/Bappenas di
negeri ini, cukup ditempelkan saja di Kantor Kementrian Daerah Tertinggalnya
Pa Aunur misalnya... he he he .. . Lah wong Masyakat Eropa saja PSO masih
ada koq. Ferry untuk melayani daerah terpencil di Norwegia masih jalan,
padahal income per kapita negara Skandinavia termasuk tinggi di dunia.

Tapi inilah keanehan di negeri Pak Aby ini,  perencanaan sebagai bagian dari
tugas utama pemerintah untuk mengatasi kegagalan pasar ini, kebijakan public
service obligation (PSO) tidak sepenuh hati, kemajuan Universal Service
Obligation (USO) untuk telekomunikasi pedesaan pun masih tersendat. Dulu
Merpati disubsidi untuk melayani daerah frontier, tetapi sekarang? lihatlah
nasibnya.... Tapi mungkin alasannya klasik sekali, APBN tidak cukup untuk
memberi subsidi karena habis untuk subsidi listrik, pupuk, dan lain-lain. Di
Eropa PSO masih jalan untuk memberi subsidi kepada daerah. Apakah ini akibat
Washington Concensus kali ya...

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke