Saya baru pulang dari labuhan bajo, ibukota manggarai barat, tiap hari dari 
denpasar pp ada 3 penerbangan dan dari kupang pp satu penerbangan, airportnya 
masih sederhana, pesawatnya menggunakan fokker 50 dengan 50 seats. Saya 
tertunda 2 hari karena susah mencari seat kosong....3 tahun yang lalu 
penerbangan 2 hari sekali pakai pesawat kecil dan selalu tidak penuh... Apakah 
ini ship follows the trade atau trade follows the ship? apakah ini juga berkat 
cara-cara seperti dilakukan oleh Pemda Bima/Merauke seperti yang diceritakan 
mas BTS... tapi yang jelas pemda tidak mendapat jatah seat...kalau penuh ya 
harus ngantri.. 

 Salam
Aunur Rofiq




________________________________
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, November 17, 2008 8:32:43 PM
Subject: RE: [referensi] Re: Ayam atau Telor....., belajar dari Bima.


Dear all.
 
Sebuah "break through", itulah solusi. Ada sebuah "lesson learned" dari 
Kabupaten Bima nun jauh di Pulau Sumbawa. Saya lupa apakah ini pernah saya 
ceritakan atau belum di milis ini. Oke saya ceriterakan lagi terkait dengan : 
ayam atau telor...telor atau ayam.
 
Ini terjadi tahun 2006 yang lalu. Perkembangan ekonomi wilayah Sumbawa umumnya 
dan Bima pada khususnya sepertinya stagnan. Sarana transportasi yang potensial 
adalah pesawat udara yang menghubungkan Bima dengan Pulau Jawa sebagai sumber 
ekonomi. Tapi pesawat Merpati yang melayani Jawa (Jakarta-Surabaya-Bima) hanya 
3 kali seminggu. Maklum jumlah penumpang tak sampai memenuhi kuota "load 
factor".Pemerintah daerah ingin Merpati bisa terbang setiap hari. Muncul sebab 
akibat tadi...penumpangnya dulu ada,  baru Merpati melayani... tapi bisa juga 
Merpati dulu memastikan melayani setiap hari, maka akan men-generate 
penumpang..... Coba, mana  dulu yang berani mendahului? Nggak ada khan... kalau 
nggak ada terobosan (break through) yang dilakukan.
 
Itulah saatnya pemda Bima melakukan terobosan (inisiatif). Kebetulan Kabupaten 
Bima punya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran). Tak besar... sekitar Rp 25 
milyar saja.
Kebetulan PP 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) memungkinkan 
penggunaan SILPA untuk pembiayaan (financing) semacam penanaman modal, 
sekuritisasi dsb, yang penting pengeluaran itu akan menghasilkan pemasukan 
(definisi pembiayaan).
 
Pemda Bima melakukan sekuritisasi seat (tempat duduk pesawat), atau "mengijon" 
seat Merpati sehingga Merpati mau terbang setiap hari (mencapai load factor). 
Sekuritisasi itu dilakukan selama 2 tahun dengan modal Rp 18 milyar. Seat itu 
kemudian dijual oleh Merpati dan keuntungannya dibagi 2 antara Merpati dan 
Pemda. Kerja sama ini jelas sangat menguntungkan. Bagi Merpati selain pasti 
untung karena tercapainya Load factor, juga masih ada keuntungan dari penjualan 
ticket. Pemda juga untung selain dari penjualan ticket, juga  bergairahnya 
ekonomi wilayah akibat ramainya penumpang setiap hari...... Itu semua kalau 
ticketnya laku.
 
Mengapa pemda Bima berani melakukan "bisnis" tersebut? Karena Pemda yakin 
banyak masyarakat Sumbawa yang merantau dan banyak yang sukses. Dipastikan 
mereka akan suka pulang kampung dan mau membangun daerahnya.
 
Ternyata, dengan kepastian terbang setiap hari, timbulah permintaan baru (betul 
juga perkiraan pemda). Akhirnya setiap hari Merpati terbang ke dan dari Bima  
dengan penumpang yang selalu penuh. Akhirnya Merpati untung, pemda juga untung. 
 
Perjanjian itu berakhir awal tahun 2008 yang lalu. Akibat Merpati terbang 
setiap hari dan selalu penuh, muncul Sriwijaya dan Batavia juga terbang setiap 
hari. Jadi kalau dulu 3 kali seminggu, sekarang 3 kali perhari. Ekonimi wilayah 
menjadi sangat bergairah. Airport menjadi salah satu titik keramaian ekonomi 
tersendiri. Luar biasa bukan?
 
Pada tahun 2008 ini, perjanjian sekuritisasi antara Merpati dan pemda Bima 
dilanjutkan dengan modal Rp 20 milyar untuk 2 tahun akan datang.
 
Betul Mas BSP, ayam atau telor tidak perlu didiskusikan, tapi komitmen (tekad) 
untuk melakukan terobosan. Itu telah dilakukan oleh Pemda Bima. Apakah pemda 
Morotai mau melakukan seperti ini? Saya kira dalam 3-4 tahun tidak berani 
karena masih menjalankan APBD transisi dan belum mempunyai SILPA yang cukup.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 11/17/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [referensi] Re: Morotai Lagi (8)
To: [email protected]
Date: Monday, November 17, 2008, 10:32 AM


Mas Dwiagus, pak Aby, milister ysh.
 
Ijinkan juga nimbrung posting mas Dwiagus nanggapi pak Aby .....
 
Trade follows transport... transport follow trade...
He he he telor apa ayam ... ayam apa telor.
Kalau saya .....
Telornya saya pecahkan dan jadikan ceplok telor dan kemudian dimakan supaya 
punya kekuatan untuk bisa beli ayam .... 
Nah ayamnya biar bertelor .... itu mungkin yang paling sesuai.
Artinya janganlah diperdebatkan mana yang dulu tapi sebuah break through.
 
Salam dari orang yg bingung ayam apa telor
 
bsp 
 


      

Kirim email ke