Eyang Aby, ijinkan saya nimbrung ya,.. 

 

Kalau pertanyaan apakah trade follow transportation, atau transportation
follow trade,.. 

Mungkin selanjutnya tidak hanya melihat potential passengers,. tapi goods
apa saja yang bisa dibawa si passenger yang punya ekonomis untuk bisa
ditrade (khan ngomongin trade, bukan?) dari dan ke luar morotai,. Mungkin
perlu diidentifikasi goods apa yang kalau diangkut ke atau dari morotai bisa
punya nilai ekonomis yang jauh lebih besar dari ongkos pengembangan
transportasi itu . 

 

Begitu,pak

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

bdwiagus.blogspot.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of hengky abiyoso
Sent: 17 November 2008 08:38
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [referensi] Re: Morotai Lagi (8)

 


Milisters semuanya ysh, 

  

Masih dlm koridor kepercayaan "transportation established first. then
development surely growing later".. 

Kalau dlm "perencanaan" (saja) brgkali kita masih  boleh merencana apa
saja... termasuk apa yg rada sulit utk konkretisasinya sekalipun...dan
brgkali tak perlu jelas. kapan atau bgmn "rencana" itu dapat
dikonkretisasikan... Tapi dalam "upaya pembangunan wilayah" utamanya utk
cita-cita "konkretisasinya".. rasanya rincian serta urutan yang jelas  dari
berbagai langkah upaya pembangunan sektoral  utamanya dgn aspek ekonomi
perlu dikemukakan.. agar 'rencana' itu dapat dipandang sebagai 'logis/ masuk
akal' (plan that logic).. Dan bukannya diolok2 menjadi "plan no logic".
agar sebanyak2 stakeholders dapat sebanyak2 pahami . hingga dpt berperan lbh
optimal... 

  

Contoh Gorontalo. tentu sudah ada Perencanaan Ruang disana.  bayangkan apa
terjadi kalau pembangunan disana hanya andalkan 'kesaktian' Perencaan
Ruang.. Belum tentu yang muncul adalah tanam jagung  secara massal itu.. 

Sebaliknya.. krn pembangunan disana dimulai dengan "rencana pembangunan
wilayah".. Dasar gubernurnya (Fadel M) adalah industrialis dan wiraswasta
(saudagar?).. Maka muncul 'langkah konkrit' pragmatis..  'tanam jagung' itu.
dimana logikanya 3 atau 6 bulan kemudian  panen. semua lapisan rakyat dapat
digerakkan  terlibat.. 6 bulan kemudian masyarakat 'pegang uang'.. Jadi
katakunci yang penting disitu adalah rute rinci pragmatis menuju
'konkretisasi'... 

  

Pada studi kasus Morotai... utk menegakkan reguler time tabled airliner. yg
dipercaya akan mendorong aktivitas ekonomi lbh lanjut.. baik kita acu jg
pertanyaan pak Hutomo dari Oceanografi LIPI/UI... mana yang benar.
transportation follow trade.. atau trade follow transportation.. Atau
pertanyaannya barangkali boleh diubah atau dibalik...  airlinernya diadakan
dulu. nanti passengersnya muncul.. Ataukah  passengersnya disuruh muncul
dulu. baru airlinernya datang?...... 

Rasa2nya keduanya saling ogah utk konyol mulai duluan... Jadi kesimpulannya
kedua pihak harus janjian muncul  barengan... karena bgmn passengers mau
datang kalau tak jelas airlinernya... sebaliknya airliner (kecuali BUMN
perintis,  gak takut rugi) ngapain  singgahi sebuah bandara. kalau tak jelas
pasengersnya.. krn bisa rugi... 

  

Di Morotai bandara, 'terminal' , pelabuhan laut, sarana penyeberangan dari/
ke Halmahera, penginapan, pasar, bank, hankam, telkom, semuanya ada. Jadi
kita tinggal bicara "potensi passengers"nya.. 

Potensi passengers terbesar Morotai sebenarnya masih lbh berasal dari kota
kabupaten Tobelo dan Galela (Halmahera). dimana dibanding jarak
Tobelo/Galela ke Ternate (200km) lewat darat  dan laut.. Perjalanan
kebandara  Morotai masih lebih dekat (50km). 

  

Di Galela, Halmahera Utara sebenarnya sdh ada bandara (panjang runway entah)
.. Dan itu dekat sekali dari Tobelo, ibukota disana.. Sehingga kalau saja
bandara Galela 'dihidupkan' . maka potensi passengers dari Tobelo akan
'tumpah' ke Galela (alan darat, dekat) dan tak akan ke Morotai (50km
nyebrang laut).. 

Jadi 'menghidupkan' bandara Morotai itu harus a.l. dgn cara "Galela
mengalah".... atau dpl.. posisi tawar bandara Morotai sebenarnya agak
'lemah' dibanding Galela... tapi kedepan Morotai dgn banyak runway serta
keunikan lokal sebagai 'pulau bibir pasifik' masih akan lebih menantang jadi
bandara int'l. sehingga kalau berpikir "nasional"  dan "kedepan" (dan bukan
"lokal" serta "hari ini"). maka Galela memang patut "mengalah" pada
Morotai... 

Singkat kata. potensi passengers (pemerintah,  swasta, masyarakat) dari
Tobelo, Galela dan Morotai sendiri saat  ini akan cukup untuk memulai
keekonomian penerbangan reguler pesawat kecil.. Dan memang perlu terdapat
hubungan udara Morotai-Manado utk "layanan perbekalan kebutuhan sehari2
regional" terdekat.. Atau Morotai-Ternate khususnya  bagi "hub pemerintahan
oleh aparat pemda"... 

  

Salah satu cara memulai  'soft opening' bandara Morotai  dengan "kelayakan
ekonomi bisnis penerbangan" adalah dengan pertama.. utk rute
"inter-regional" Manado-Sorong (3x seminggu) . Lion Air diminta  bersedia
transit dan mencadangkan 4-6 seat utk Morotai..  Kemudian bila jumlah
passengers meningkat.. Jadwalnya bisa ditingkatkan menjadi 5x seminggu
sampai akhirnya 7x seminggu. dst..   

Sementara itu utk  rute 'intra-regional' Morotai-Ternate (250km).. Nampaknya
pesawat kecil 8 seat  4x seminggu dapat menjadi satu awalan.. Atau cara lain
'extension' dari "rute existing yang ada Manado-Ternate" 2x sehari
Wings/Lion Air pesawat dgn 30 prenumpang..diperpanjang menjadi
rute"Manado-Ternate-Morotai" 3x seminggu sebagai awalan misalnya... 

Bila itu dapat dikonkritkan.. Tak ada alasan utk tak mulai bicara ttg
pengembangan pembangunan/ pariwisata khususnya di Morotai... 

  

Salam, 

aby 

 

 

 

Kirim email ke