mas BTS ...

semoga kabarnya baik terus .. 
cerita yang sama juga saya dengar di Gorontalo ... ketika masih "bersama" 
Sulut, dan kemudian pada awal "pisah pemerintahan" .. Pemprov katanya (ini saya 
dengar dari Pak Gub-nya) akan membayar (membeli) seat yang tidak "tidak 
terjual" pada titik load factor 80% (??) ..tapi Merpati (atau Pelita !?) harus 
menyediakan daily flight (satu flight per day) ... dan akhirnya demand 
meningkat ..bahkan sekarang sudah ada 2 or 3 airlines ke Gorontalo ...

Awal Nop 2008 ini saya mencoba penerbangan dari Makassar ke Mamuju (Prov 
Sulbar) ... tentu saya beli roundtrips.  Tetapi sehari sebelum pulang, teman2 
menganjurkan pulang lewat darat supaya bisa ketemu lebih banyak teman2 saya 
(PNPM!) ... ketika ticket saya kembalikan, katanya ini harga subsisi sehingga 
kalau sudah di issued OK ngga bisa reimburse alias "hangus" ...  Katanya teman 
dari provinsi ... memang sejak 2008 ini Pemprov Sulbar "memberikan subsidi" 
supaya bisa mencapai minimum load factor ...

Kalau SILPA atau katakan saja ..terobosan itu sukses (memberikan kepastiaan 
pelayanan) .. sehingga provinsi baru atau kabupaten baru seperti Bima .. 
menempuh strategi seperti itu .. lantas dalam DIPDA-nya masuk dalam belanja apa 
yaa ?

Mudah2an bisa membantu teman2 yang mau jadi Bupati ... karena Merpati tampaknya 
sudah ambil ancang2 untuk memperluas pola kerjasama seperti ini ... !

Salam ..

 
 
Tabik & Wassalam, 
IBNU TAUFAN
Pesanggrahan Permai, Jakarta Selatan, Indonesia 
P: +622170433974 M: +62816940978
www.ibnutaufan.blogspot.com
[EMAIL PROTECTED],  [EMAIL PROTECTED]





________________________________
From: Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, 18 November, 2008 10:36:30 AM
Subject: RE: [referensi] Re: Ayam atau Telor....., belajar dari Bima.


Pak BTS,
Saya masih ingat cerita pak BTS soal Kab Bima ini di posting
sebelumnya beberapa waktu lampau,… ngomong2 itu efek keterkaitan kota
bima dengan kabupaten bima-nya gemanah ya? 
 
Dalam hal ini sangat tipis sekali antara berani untuk konyol atau
berani untuk melakukan terobosan,..
Futurology yang mengurangi kesan kekonyolan mungkin adalah point
penting di sini, … yang dengan cara yang cermat dan tepat memprediksi sebuah
potensi,….. dan meng-arrange dengan strategis bagaimana mengoperasionalisas 
i-kan-nya,…. 
 
 
 
Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do
a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. 
White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian
People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
to the work on monitoring and evaluation and other related development
issues including development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib [EMAIL PROTECTED] com 
 
From:[EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
Bambang
Tata Samiadji
Sent: 17 November 2008 20:33
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Subject: RE: [referensi] Re: Ayam atau Telor....., belajar dari Bima.
 
Dear all.
 
Sebuah "break through", itulah solusi. Ada sebuah "lesson learned" dari 
Kabupaten Bima nun jauh di Pulau Sumbawa. Saya lupa apakah ini pernah saya 
ceritakan atau belum di milis ini. Oke saya ceriterakan lagi terkait dengan : 
ayam atau telor...telor atau ayam.
 
Ini terjadi tahun 2006 yang lalu. Perkembangan ekonomi wilayah Sumbawa umumnya 
dan Bima pada khususnya sepertinya stagnan. Sarana transportasi yang potensial 
adalah pesawat udara yang menghubungkan Bima dengan Pulau Jawa sebagai sumber 
ekonomi. Tapi pesawat Merpati yang melayani Jawa (Jakarta-Surabaya- Bima) hanya 
3 kali seminggu. Maklum jumlah penumpang tak sampai memenuhi kuota "load 
factor".Pemerintah daerah ingin Merpati bisa terbang setiap hari. Muncul sebab 
akibat tadi...penumpangnya dulu ada,  baru Merpati melayani... tapi bisa juga 
Merpati dulu memastikan melayani setiap hari, maka akan men-generate 
penumpang... .. Coba, mana  dulu yang berani mendahului? Nggak ada khan... 
kalau nggak ada terobosan (break through) yang dilakukan.
 
Itulah saatnya pemda Bima melakukan terobosan (inisiatif). Kebetulan Kabupaten 
Bima punya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran). Tak besar... sekitar Rp 25 
milyar saja.
Kebetulan PP 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) memungkinkan 
penggunaan SILPA untuk pembiayaan (financing) semacam penanaman modal, 
sekuritisasi dsb, yang penting pengeluaran itu akan menghasilkan pemasukan 
(definisi pembiayaan).
 
Pemda Bima melakukan sekuritisasi seat (tempat duduk pesawat), atau "mengijon" 
seat Merpati sehingga Merpati mau terbang setiap hari (mencapai load factor). 
Sekuritisasi itu dilakukan selama 2 tahun dengan modal Rp 18 milyar. Seat itu 
kemudian dijual oleh Merpati dan keuntungannya dibagi 2 antara Merpati dan 
Pemda. Kerja sama ini jelas sangat menguntungkan. Bagi Merpati selain pasti 
untung karena tercapainya Load factor, juga masih ada keuntungan dari penjualan 
ticket. Pemda juga untung selain dari penjualan ticket, juga  bergairahnya 
ekonomi wilayah akibat ramainya penumpang setiap hari...... Itu semua kalau 
ticketnya laku.
 
Mengapa pemda Bima berani melakukan "bisnis" tersebut? Karena Pemda yakin 
banyak masyarakat Sumbawa yang merantau dan banyak yang sukses. Dipastikan 
mereka akan suka pulang kampung dan mau membangun daerahnya.
 
Ternyata, dengan kepastian terbang setiap hari, timbulah permintaan baru (betul 
juga perkiraan pemda). Akhirnya setiap hari Merpati terbang ke dan dari Bima  
dengan penumpang yang selalu penuh. Akhirnya Merpati untung, pemda juga untung. 
 
Perjanjian itu berakhir awal tahun 2008 yang lalu. Akibat Merpati terbang 
setiap hari dan selalu penuh, muncul Sriwijaya dan Batavia juga terbang setiap 
hari. Jadi kalau dulu 3 kali seminggu, sekarang 3 kali perhari. Ekonimi wilayah 
menjadi sangat bergairah. Airport menjadi salah satu titik keramaian ekonomi 
tersendiri. Luar biasa bukan?
 
Pada tahun 2008 ini, perjanjian sekuritisasi antara Merpati dan pemda Bima 
dilanjutkan dengan modal Rp 20 milyar untuk 2 tahun akan datang.
 
Betul Mas BSP, ayam atau telor tidak perlu didiskusikan, tapi komitmen (tekad) 
untuk melakukan terobosan. Itu telah dilakukan oleh Pemda Bima. Apakah pemda 
Morotai mau melakukan seperti ini? Saya kira dalam 3-4 tahun tidak berani 
karena masih menjalankan APBD transisi dan belum mempunyai SILPA yang cukup.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 11/17/08, [EMAIL PROTECTED] net.id <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] net.id <[EMAIL PROTECTED] net.id>
Subject: RE: [referensi] Re: Morotai Lagi (8)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Monday, November 17, 2008, 10:32 AM
Mas Dwiagus, pak Aby, milister ysh.
 
Ijinkan juga nimbrung posting mas Dwiagus nanggapi pak Aby .....
 
Trade follows transport... transport follow trade...
He he he telor apa ayam ... ayam apa telor.
Kalau saya .....
Telornya saya pecahkan dan jadikan ceplok telor dan kemudian dimakan supaya 
punya kekuatan untuk bisa beli ayam .... 
Nah ayamnya biar bertelor .... itu mungkin yang paling sesuai.
Artinya janganlah diperdebatkan mana yang dulu tapi sebuah break through.
 
Salam dari orang yg bingung ayam apa telor
 
bsp 
      


      Stay informed with Yahoo!Xtra News - http://nz.news.yahoo.com

Kirim email ke