Pak Abim ysh,

Saya tarik juga diskusi ini di Referensi karena kebetulan ada banyak
rekan-rekan dari OB dan Pemda Batam, mudah-mudahan mereka berkenan juga
menambahkan informasi yang diperlukan. Termasuk juga beberapa rekan yang
pernah 'mengurusi' masalah Batam.



Saya pernah ketemu Inpres tahun 1971 tentang Batam ini, saya kira itu
kebijakan pertama yang diluncurkan. Saya kira baru sekitar pertengahan
1980an pengelolaan Batam ini diintensifkan.



Pointnya tetap sama: 'keberpihakan' Pusat yang intens dapat menumbuhkan
orientasi baru dalam pengembangan wilayah. Terlepas apakah hingga saat ini
terjadi distorsi, misleading, salah urus, dst.



Terakhir permasalahan yang muncul di Batam adalah sejauhmana kebijakan
'otda' (34/04) dapat diterapkan di 'kapling Nasional yang fully owned and
invested'; serta bagaimana kebijakan 'KSN' (26/07) diterapkan pada kawasan
yang diadmin oleh local govt. Serta satu tambahan dari saya: perubahan
fungsi dari semula khittah 'sistem produksi Nasional' menjadi 'ekstensi area
komersial transnasional'.



Demikian pak. Salam.



-ekadj


---------- Forwarded message ----------
From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Date: 2008/12/25
Subject: Re: [futurologi] Re: Kami, Jakarta
To: [email protected]


  Menarik juga argumen pak eka berikut ini:

"......Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' mengembangkan kawasan
baru ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial area' di Batam
tahun 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang dulu 'merencanakan' Bali, dan
ada beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam......."

Betulkah aktivitas ekonomi ini termasuk "berhasil"....?
1). Bali ?: ......

2). Batam? ......sepengetahuan saya Batam dapat didukung pembangunannya
karena pemerintahan waktu itu 'sangat stabil'. "di Indonesia hanya ada SATU
kebijakan ...." (menurut pak Habibi waktu itu). Sehingga otorita dapat
memperoleh kekuatan hukum relatif mutlak untuk mengatur tata ruangnya secara
top down dan berlanjut sejak sebelum hingga setelah pemilu sekalipun....
tanpa campur tangan pemda waktu itu...Akankah kondisi tersebut berlaku masa
sekarang?. Hasilnya? sekarang Batam memetik hasilnya, ...sangat berbeda
dengan apa yang kita rencanakan dahulu....menyedihkan.

Salam,
Abimanyu

2008/12/25 ffekadj <[email protected]>

>    Cak Andri, saysudah on lagi, walau masih harus mempelajari banyak
> informasi baru.
>
> Isu pusat pemerintahan ini kelihatannya masih menarik dibicarakan.
> Sebenarnya perlu ditawarkan beberapa alternatif metoda dan pendekatan,
> karena sebenarnya 'kebuntuan' pemikiran dari banyak orang adalah berawal
> dari hal itu. Varia[n]si 'lokasi ekonomi' kelihatannya selalu dominan dan
> selalu menjadi debat, karena bicara 'hulu' dan 'hilir' yang tidak pernah
> selesai. Coba juga dengan beberapa 'nilai mutlak lokasi' untuk aktivitas
> lain yang lebih sedikit debatnya, seperti aktivitas sosial, 
> iptek<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4309>,
> dan sebenarnya ada satu lagi yang nanti coba saya ketengahkan, yaitu
> 'pertahanan', dan beberapa 
> contoh<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5764>pernah saya 
> sampaikan.
>
> Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' mengembangkan kawasan baru
> ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial area' di Batam tahun
> 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang dulu 'merencanakan' Bali, dan ada
> beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam.
>
> Sementara demikian dulu. Salam.
>
>
>
> -ekadj
>
> --- In [email protected], "Mohammad Andri Budiman" <mand...@...>
> wrote:
> >
> > Pernahkah kita berpikir untuk meyakinkan para penguasa, artis-artis
> > sinetron, pucuk-pucuk pimpinan organisasi dan perusahaan, para
> > sukseswan dan berhasilwati, orang-orang yang berpengaruh di negeri ini
> > untuk berhenti berdomisili di Jakarta dan sekitarnya?
> >
> > Maaf atas pertanyaan di atas. Itu salah besar.
> > Tidak ada yang bisa memaksa siapapun untuk tinggal di manapun.
> > Itu hak azasi individual.
> >
> > Dan memang, siapa yang mau tinggal di daerah kalau sudah makmur di
> Jakarta?
> > Di daerah toh tidak ada "entertainment".
> > (Orang daerah pun bingung "entertainment" itu bahasa apa?).
> >
> > Di daerah kalau ada apa-apa susah dapat perhatian Pemerintah Pusat.
> > Di Sumbagut, misalnya, sudah pemadaman lampu bergilir bertahun-tahun,
> > siapa yang peduli?
> > Papua bagaimana? Mereka tidak pernah mati lampu -- karena adakah lampu
> > di sana? Banyakkah?
> > (Di Jakarta cukup satu hari mati lampu untuk membuat Bapak Wapres
> > berkomentar dan cukup satu pemadaman di Stadion Gelora Bung Karno
> > untuk membuat Bapak Presiden menelepon Bapak Menteri ESDM dan kemudian
> > Bapak Dirut PLN pun terbirit-birit meninjau lokasi).
> >
> > Di daerah orangnya sirik dan dengki. Wajar saja mereka iri, sumber
> > daya alam ada di mereka, tapi uangnya ada di Jakarta.
> > 75% uang nasional ada di Jakarta? 60%? Whatever.
> > Angka tidak penting: ada gula ada semut, urbanisasi ke Jakarta tetap
> > saja meningkat.
> > (Mereka orang-orang daerah yang datang (belakangan) ke Jakarta tidak
> > tahu diri, siapa mereka itu, bikin macet, usir saja, Bapak
> > Gubernur!).
> >
> > Kalau tidak ada investasi masuk ke daerah, itu bukan salah Pemerintah
> > Pusat. Salah sendiri, rakyat daerah kok memilih Gubernur atau Bupati
> > yang tidak pandai menarik investor.
> > (Jakarta lain. Investasi apa aja bisa, karena investor pasti yakin
> > uang untuk balik modal ada di situ.
> > Bisnis tol dalam kota? Hanya ada dan cuma bisa di Jakarta!)
> >
> > Problem Jakarta adalah Problem Nasional.
> > Problem daerah? Kan sudah ada desentralisasi? Urus diri sendiri dong.
> > Mau nambah anggaran buat APBD?
> > Silakan berebut dengan daerah-daerah lain, kami sedang fokus untuk
> > proyek MRT di Jakarta.
> >
> > Mari tingkatkan Pemusatan Segala-galanya di Jakarta.
> > Uang.
> > Kekuasaan.
> > Infrastruktur.
> > Tol dalam dan luar kota.
> > Monorail.
> > Hiburan.
> > Utang -- upps, maaf saja, yang terakhir ini tentu harus tetap
> > ditanggung bersama-sama secara Nasional.
> >
> > Kami berhak. Mereka tidak. Karena kami, Jakarta.
> >
> > Jadi, daerah-daerah Kasta Sudra, berhentilah kalian berteriak dan
> bergolak!
> > Sing podo rukun.
> > Biar kami, Jakarta, yang "menikmati" banjir tahunan dan macet harian
> ini..
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
>
.

Kirim email ke