Pak Abim ysh, kelihatannya pengetahuan bapak cukup luas dan mendalam
mengenai Batam ini. Mungkin perlu dipertanyakan bila apa yang telah
direncanakan dulu telah mendapatkan wujudnya pada saat sekarang ini?

Komposisi 60% ruang hijau harus dapat dipertahankan, kalau perlu sampai
tetes darah terakhir.

Kelihatannya ada yang terlupakan dalam perencanaan terdahulu, yaitu
menyangkut aspek manajemen pengelolaan kawasan. Peran OB kelihatan
semakin mengecil dan saat ini sepertinya hanya menjadi tuan tanah. Perlu
diperbandingkan dengan pengelolaan kawasan yang sudah dilihat Pak Rofiq
dan Pak Eko di Cina. Punya saran untuk pemberdayaan?

Demikian dulu pak. Selamat Tahun Baru.

-ekadj


--- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah"
<takdi...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj ysh,
>
> Saya juga tertarik untuk memperoleh tanggapan dari rekan-rekan yang
sekarang
> menangani Batam maupun yang pernah terlibat sebelumnya.
>
> Yang saya tahu, dahulu Batam tempat mangkal perusahaan-perusahaan
pendukung
> pertambangan minyak. Kalau tidak salah telah ada Master Plan
pengembangan
> pulau ini oleh Cruz (? saya lupa nama tepatnya). Pembangunan jalan
raya
> hampir menghubungkan semua bagian pulau dan yang cukup berkualitas
(Pak
> Ibrahim Adji?) ternyata belum mampu mengundang perkembangan yang
berarti.
> Terdapat beberapa kawasan yang juga telah di blok sebagai calon
pengembangan
> oleh beberapa perusahaan dari Pusat namun belum ada realisasinya.
Namun
> rencana-rencana yang ada masih bersifat parsial, seperti pengkaplingan
model
> "how the west was won" di state.At-6 dan konsultan inggeris telah
menyusun
> pula rencana Batam Center, kota baru di teluk yang mulai menggusur
pantai
> yang semula penuh ditumbuhi Mangrove, sebagai upaya pemicu pertumbuhan
> Batam.Namun sekitar 10 tahun kemudian (1980-an awal) belum ada dampak
yang
> berarti.
>
> Kemudian melalui Lemtek FTUI (pak Ismeth Abidin cs) disusunlah
evaluasi
> master plan sekaligus rencana pengembangan secara keseluruhan Pulau
Batam.
> Semua rencana spasial dikoordinasikan menjadi satu pola pengembangan
pulau
> (Master Plan 1986). Diperhitungkan bahwa pulau tersebut mampu
menampung
> hingga 700.000 penduduk dengan kegiatan industri (dikonsesntrasikan di
> kawasan Kabil) dan wisata (antara lain Nongsa). Rencana dibuka
pelabuhan
> baru di Timur, Asia Port, sebagai pengimbang Singapura. Karena
ketersediaan
> sumber air minum alami untuk mendukung kehidupan dan perkembangan
penduduk
> serta kegiatan industri tersebut terbatas, maka waduk-waduk yang akan
> dikembangkan sekitar 6 buah, termasuk membendung teluk di bagian
Selatan
> pulau. Kawasan sekitar waduk dijaga untuk tetap sebagai hutan resapan.
Namun
> karena hal khusus ternyata Batamindo mendapat ijin khusus untuk
membangun
> industrinya di Muka Kuning, hutan di tengah pulau yang dianggap kepala
naga.
> Buruh industri dibuatkan asrama agar tidak tinggal di permukiman yang
dapat
> tumbuh disekitar hutan. Agar ketersediaan air tanah terjaga, kawasan
> lindung/hutan direncanakan sekitar 60% berbanding 40% budidaya.
>
> Semua kelompok penduduk didata dan diperhitungkan perkembangannya.
Untuk
> kelas menengah bawah permukimannya di alokasikan dibagian Selatan
pulau.
> Namun total luas alokasi permukiman kabarnya langsung habis "terjual"
ke
> pengembang satu hari setelah Master Plan ditandatangani. Ternyata ini
> merupakan awal tidak terkendalinya perkembangan di tengah pulau
tersebut.
> Akibatnya walaupun banyak kapling belum dibangun atau rumah terbangun
> kososng namun masyarakat kelas bawah tidak mampu membeli rumah dengan
harga
> pengembang. Mereka akhirnya masuk hutan dan berkembang menjadi ruli
(rumah
> liar), termasuk dikawasan hutan resapan air.
>
> Perkembangan Batam ditangani khusus oleh otorita, yang langsung
terkendali
> dari Pusat, dengan tujuan utama menampung overspill kegiatan yang
tidak
> terlayani bagi penduduk Singapura. Pemda Riau belum berperan pada
tahap
> ini. Setelah lima tahun berjalan Master PLan dievaluasi dan
"disempurnakan"
> (1990-1992). Banyak perkembangan baru akibat mengutamakan "investasi"
> daripada penyejahteraan penduduk secara menyeluruh. Ketidak seimbangan
yang
> terjadi antara rencana dengan realisasi maupun daerah lindung dengan
daerah
> yang dibudi dayakan menyebabkan prediksi semula diduga tidak dapat
> dipertahankan. Perlu perluasan daerah penampungan overspill "balon"
> Singapura (walau lebih banyak akibat "balon" permintaan investor),
walaupun
> peningkatan ekonomi secara nyata tidak mengubah lingkungan fisik,
sosial
> maupun kelestarian alam Pulau Batam menjadi "sekelas" dengan
Singapura.
> Pulau Rempang-Galang-Galang Baru dan pulau-pulau kecil disekitarnya
menjadi
> sasaran pengembangan selanjutnya, sebagai penyangga Pulau Batam.
Karena
> memang menjadi kawasan pengembangan yang lebih bersifat politis,
pendekatan
> lebih bersifat top-down, walaupun teman-teman dari UGM juga diminta
untuk
> mengembangkan pemberdayaan masyarakat akibat berkembangnya
permasalahan
> sosial (kesenjangan, kriminal, PKS, dll) Batam maupun kelak Barelang
sebagai
> kawasan baru tersebut. Guna menghubungkan antar pulau, ITB ditugasi
untuk
> merencanakan pembangunan 6 jembatan antar pulau. Saat itu seolah-olah
> otorita tetap pengelola utama pembangunan fisik dan ekonomi, sedangkan
pemda
> mengelola masalah lainnya. Keberlanjutan pembangunan secara top-down
dapat
> terjadi karena selama itu kebijakan utama pembangunan tetap dipegang
oleh
> Pusat.
>
> Tahap berikutnya, terutama setelah revormasi, posisi pemda semakin
kuat.
> Terjadi berkali-kali upaya revisi master plan, dan peningkatan pemda
dalam
> mengelola pembangunan setempat. Kerjasama dan pembagian tugas antar
pemda
> dan otorita semakin seimbang. Namun dukungan dari Pusat semakin
berkurang.
> Walaupun ruli semakin dikendalikan namun perkembangan Pulau Batam
sebagai
> kawasan unggulan tampak tidak terlalu unggul lagi. Daya tarik sebagai
> kawasan wisata yang "lebih hijau" daripada di Singapura tidak
terwujudkan
> dengan tatanan lingkungan dan arsitektural yang menarik. Singapura
sendiri
> meningkatkan daya tariknya sendiri agar penduduknya lebih nyaman
> memanfaatkan fasilitas di dalam negaranya sendiri. Kenyamanan memiliki
TV
> (tweede vrouw, termasuk strategi untuk memperoleh hak pemilikan rumah
> setempat) di Batam juga sudah tidak seleluasa sebelumnya. Walaupun
Batam
> masih menarik sebagai daerah transit pengunjung Indonesia yang mau
> berbelanja ke Singapura (sambil konferensi?) namun kondisi kotanya
tidak
> bertambah menarik, apalagi bukit-bukit hijau yang dikeruk untuk
pembangunan
> fisik amsih dibiarkan merana merusak pemandangan "kota pulau"
setempat.
> Pembangunan ekonomi tidak ada artinya apabila tidak justru didasarkan
kepada
> peningkatan kualitas manusia dan lingkungan hidupnya.
>
> Belakangan Batam mulai berusaha mengembangkan pula pendekatan
pembangunan
> gugus pulau, pesisir dan kelautan (Namun tampaknya masih bersifat
wacana?).
> Sayang, apabila pembangunan yang dahulu sempat dapat berkelanjutan
tidak
> dapat ditingkatkan manfaatnya justru pada saat kewenangan
"stakeholder"
> semakin besar.
>
> Mungkin itu saja dulu catatan saya tentang Batam, mungkin dapat
dikoreksi,
> tambah, kurang sesuai data, informasi dan bukti-bukti yang lebih
akurat oleh
> rekan-rekan yang lebih memiliki data dan kewenangan.
>
> Salam,
> Abimanyu
>
> On 12/25/08, - ekadj 4ek...@... wrote:
> >
> > Pak Abim ysh,
> >
> > Saya tarik juga diskusi ini di Referensi karena kebetulan ada banyak
> > rekan-rekan dari OB dan Pemda Batam, mudah-mudahan mereka berkenan
juga
> > menambahkan informasi yang diperlukan. Termasuk juga beberapa rekan
yang
> > pernah 'mengurusi' masalah Batam.
> >
> >
> >
> > Saya pernah ketemu Inpres tahun 1971 tentang Batam ini, saya kira
itu
> > kebijakan pertama yang diluncurkan. Saya kira baru sekitar
pertengahan
> > 1980an pengelolaan Batam ini diintensifkan.
> >
> >
> >
> > Pointnya tetap sama: 'keberpihakan' Pusat yang intens dapat
menumbuhkan
> > orientasi baru dalam pengembangan wilayah. Terlepas apakah hingga
saat ini
> > terjadi distorsi, misleading, salah urus, dst.
> >
> >
> >
> > Terakhir permasalahan yang muncul di Batam adalah sejauhmana
kebijakan
> > 'otda' (34/04) dapat diterapkan di 'kapling Nasional yang fully
owned and
> > invested'; serta bagaimana kebijakan 'KSN' (26/07) diterapkan pada
kawasan
> > yang diadmin oleh local govt. Serta satu tambahan dari saya:
perubahan
> > fungsi dari semula khittah 'sistem produksi Nasional' menjadi
'ekstensi area
> > komersial transnasional'.
> >
> >
> >
> > Demikian pak. Salam.
> >
> >
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > ---------- Forwarded message ----------
> > From: abimanyu takdir alamsyah takdi...@...
> > Date: 2008/12/25
> > Subject: Re: [futurologi] Re: Kami, Jakarta
> > To: [email protected]
> >
> >
> > Menarik juga argumen pak eka berikut ini:
> >
> > "......Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' mengembangkan
kawasan
> > baru ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial area' di
Batam
> > tahun 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang dulu 'merencanakan'
Bali, dan
> > ada beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam......."
> >
> > Betulkah aktivitas ekonomi ini termasuk "berhasil"....?
> > 1). Bali ?: ......
> >
> > 2). Batam? ......sepengetahuan saya Batam dapat didukung
pembangunannya
> > karena pemerintahan waktu itu 'sangat stabil'. "di Indonesia hanya
ada SATU
> > kebijakan ...." (menurut pak Habibi waktu itu). Sehingga otorita
dapat
> > memperoleh kekuatan hukum relatif mutlak untuk mengatur tata
ruangnya secara
> > top down dan berlanjut sejak sebelum hingga setelah pemilu
sekalipun....
> > tanpa campur tangan pemda waktu itu...Akankah kondisi tersebut
berlaku masa
> > sekarang?. Hasilnya? sekarang Batam memetik hasilnya, ...sangat
berbeda
> > dengan apa yang kita rencanakan dahulu....menyedihkan.
> >
> > Salam,
> > Abimanyu



Kirim email ke